Sejak tadi, Kim Yoonie dan Kim Kai hanya duduk dalam diam, meskipun mereka adalah teman sebangku. Tidak ada percakapan, tidak ada pertukaran kata—hanya keheningan yang terasa canggung, seolah ada sesuatu yang menggantung di antara mereka dan belum terselesaikan.
Dari raut wajah Yoonie, tersirat sebuah kecurigaan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Tatapannya sesekali jatuh pada Kai, lalu segera beralih, seakan ia sendiri tidak ingin terlalu lama memikirkan kemungkinan yang mulai mengusik pikirannya.
Semua itu bermula dari kejadian di gudang tadi.
Cara Kai marah padanya—cara ia menekan dan melarangnya menyebut nama Sehun—terasa tidak biasa. Bahkan, ancaman yang keluar dari mulutnya masih terngiang jelas di benak Yoonie.
Ia tidak pernah melihat Kai seperti itu sebelumnya.
“Kalian kenapa? Kenapa diam saja?”
Suara Byun Baekhyun tiba-tiba memecah keheningan. Ia memutar tubuhnya dari bangku depan, menatap Yoonie dan Kai dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu yang nyaris tidak pernah ia sembunyikan.
“Sedang bertengkar, ya?” tebaknya ringan, meskipun nada suaranya terdengar lebih seperti godaan.
Baekhyun memang seperti itu—selalu ikut campur dalam urusan orang lain, selalu ingin tahu, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda. Kebiasaannya itu, ditambah dengan mulutnya yang “meledak-ledak” saat bergosip, membuat namanya dikenal hampir di seluruh sekolah.
Namun kali ini, tidak ada respons yang ia dapatkan.
“Kalian ini sungguh tidak seru,” keluhnya kesal, sebelum akhirnya kembali membetulkan posisi duduknya.
Yoonie hanya menghela napas pelan, tidak berniat menanggapi lebih jauh. Ia kembali melirik ke arah Kai.
Laki-laki itu terlihat melamun, pandangannya kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Tiba-tiba—
“Maaf… soal yang tadi.”
Suara Kai memecah jarak di antara mereka.
Yoonie menoleh.
Kai kini sudah menghadap ke arahnya, tatapannya jauh lebih serius dari sebelumnya. Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan Yoonie dan menggenggamnya erat—terlalu erat, seolah takut kehilangan sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan.
“Aku tahu kau curiga padaku,” ucap Kai pelan, tetapi tegas. “Tapi itu bukan aku.”
Tatapannya dalam.
Menekan.
Seolah ia benar-benar ingin Yoonie mempercayainya.
Yoonie tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kai beberapa saat, mencoba membaca sesuatu di balik sorot mata laki-laki itu.
Namun pada akhirnya, ia hanya mengangguk kecil.
Isyarat sederhana itu cukup untuk membuat Kai mengembuskan napas lega, seolah beban di dadanya sedikit terangkat.
“Terima kasih…” bisiknya pelan.
Lalu, dengan suara yang lebih lembut, hampir tidak terdengar oleh orang lain—
“Aku mencintaimu.”
Yoonie tersenyum.
Namun senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum yang dipaksakan—senyum yang ia gunakan untuk menutupi sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystery
ФанфикшнImagine BTS x Yn x EXO (SEDANG DI REVISI) Kamu termasuk salah satu murid paling pendiam di kelas kamu. Kamu juga adalah seorang indigo. Karena rasa penasaran kamu yang tinggi akhirnya malah membawa kamu ke dalam bahaya yaitu pembunuhan yang di dalan...
