Chapter 1

7.5K 526 27
                                        

Hari itu, Jung Yn dengan sengaja memperlambat langkahnya menuju sekolah, memastikan dirinya datang sedikit lebih terlambat dari biasanya. Bukan karena ia malas atau tidak memiliki keinginan untuk belajar, melainkan karena ada sesuatu di tempat itu yang selalu membuatnya enggan untuk datang lebih awal—sesuatu yang tidak kasatmata bagi kebanyakan orang, tetapi terlalu nyata bagi dirinya.

Sekolah itu sendiri tidak pernah benar-benar ia benci. Bangunannya tetap sama, lorong-lorongnya tetap dipenuhi suara riuh siswa, dan ruang kelasnya masih menjadi tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya.

Namun, ada “penghuni lain” yang membuat tempat itu terasa berbeda—sunyi dengan cara yang menekan, seolah selalu ada mata yang mengawasi dari sudut-sudut yang tidak terlihat.

Pikirannya tanpa sadar kembali pada kejadian kemarin, ketika gurunya meminta bantuan sederhana: mengambil bola voli di gudang. Permintaan yang seharusnya sepele itu berubah menjadi pengalaman yang membuat tengkuknya meremang.

Sosok penunggu gudang itu masih jelas terbayang di benaknya—tatapan kosong, kehadiran yang dingin, serta cara makhluk itu mendekatinya tanpa suara, seolah hanya ingin memastikan bahwa Yn menyadari keberadaannya.

Yn menarik napas perlahan ketika kakinya akhirnya melewati gerbang sekolah, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai dipenuhi kegelisahan.

“Semangat untuk hari ini,” gumamnya lirih, lebih seperti usaha meyakinkan diri daripada sekadar ucapan biasa.

Ia berjalan menyusuri halaman sekolah dengan kepala sedikit menunduk. Bukan tanpa alasan—di sekelilingnya, bukan hanya siswa yang berlalu-lalang, tetapi juga sosok-sosok lain yang bergerak tanpa arah, sebagian diam memperhatikan, sebagian lagi sekadar lewat seolah dunia manusia dan dunia mereka saling bertumpuk tanpa benar-benar bersinggungan.

Tiba-tiba, sebuah suara memecah fokusnya.

“Hei, jangan menunduk. Nanti kau jatuh.”

Belum sempat ia bereaksi, Yn merasakan sentuhan hangat pada lengannya—kontras dengan hawa dingin yang sejak tadi mengelilinginya. Ia menoleh cepat, dan seketika itu juga napasnya terasa lebih ringan.

Jeon Jungkook berdiri di sampingnya, tersenyum kecil dengan ekspresi santai yang sudah sangat ia kenal.

“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Jungkook dengan nada bercanda, sudut bibirnya terangkat nakal. “Nanti kau bisa menyukaiku.”

Yn menggeleng pelan, meskipun ada sedikit kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan dari sorot matanya. Tanpa berkata banyak, ia melanjutkan langkahnya, kini berjalan berdampingan dengan Jungkook yang dengan santai menyesuaikan ritmenya.

“Abaikan saja kalau mereka mengganggumu,” lanjut Jungkook, suaranya lebih rendah kali ini, seolah memahami apa yang sebenarnya dilihat oleh Yn.

Jungkook mengetahui segalanya. Sejak lama—sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar—ia sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa Yn mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Kemampuan itu bukan lagi rahasia di antara mereka, melainkan bagian dari keseharian yang diam-diam Jungkook jaga agar tidak menjadi beban bagi Yn.

“Iya, Kook,” jawab Yn pelan.

Setibanya di dalam kelas, Yn segera berjalan menuju bangkunya dan duduk tanpa banyak bicara, berusaha mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang sejak tadi mengganggu.

Sementara itu, Jungkook berbelok ke arah lain, mengambil tempat di samping Kim Taehyung, sahabatnya, yang sudah lebih dulu duduk dengan ekspresi santai seolah tidak ada hal aneh yang terjadi di dunia mereka.

Suasana kelas yang semula riuh oleh percakapan ringan mendadak pecah oleh sebuah teriakan keras dari arah pintu.

“GAWAT… ADA YANG MENINGGAL DI BELAKANG GEDUNG OLAHRAGA!”

MysteryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang