Jung Yn kini terbaring di atas ranjang UKS dalam keadaan tidak sadarkan diri. Wajahnya masih pucat, napasnya pelan dan tidak teratur, seolah tubuhnya belum sepenuhnya kembali dari kelelahan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga batin.
Di sampingnya, Jeon Jungkook duduk dengan posisi sedikit membungkuk, satu tangannya bertumpu di tepi ranjang, sementara pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah Yn. Sejak tadi, ia setia menjaga—memastikan gadis itu tetap baik-baik saja, meskipun ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sesekali, ia merapikan rambut Yn yang menutupi wajahnya, gerakannya pelan, hati-hati, seolah takut mengganggu.
Namun, tanpa Jungkook sadari, ada sesuatu—atau seseorang—yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
Oh Sehun.
Sosok itu berdiri diam, menatap lurus ke arah Yn dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tidak ada kemarahan, tidak ada ancaman. Hanya kesedihan yang begitu dalam, seolah ia sendiri belum sepenuhnya menerima keadaan yang menimpanya.
Wajahnya pucat, nyaris tidak memiliki warna kehidupan. Bibirnya kering dan membiru. Seragam sekolah yang ia kenakan telah berubah drastis—yang semula putih bersih kini dipenuhi noda merah pekat, darah yang mengering dan meninggalkan jejak mengerikan.
Namun, di balik semua itu, tatapannya tetap tertuju pada Yn.
Diam. Sunyi. Dan menyakitkan.
Pintu UKS terbuka perlahan, memecah keheningan yang terasa ganjil itu.
“Jungkook? Kau sedang apa di sini?”
Suara itu membuat Jungkook menoleh. Kim Yoonie berdiri di ambang pintu, membawa tas kecil dengan ekspresi penasaran yang bercampur cemas.
“Yoonie,” jawab Jungkook singkat. “Aku sedang menjaga Yn. Dia tadi pingsan.”
Yoonie mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Tangannya segera bergerak mengambil beberapa perlengkapan medis—gulungan perban, kapas, alkohol, dan obat merah—seolah ia sudah terbiasa berada di tempat itu.
“Oh, begitu…” gumamnya singkat, sebelum kembali bersuara, “Oh iya, kau melihat Minji?”
Jungkook menggeleng.
“Aku tidak melihatnya. Memangnya kenapa kau mencarinya?”
Yoonie terdiam sejenak, gerak tangannya melambat, sebelum akhirnya ia menjawab dengan nada yang lebih pelan.
“Aku merasa kasihan padanya… baru saja satu minggu ia berpacaran dengan Sehun,” ucapnya, matanya sempat melirik ke arah Yn. “Sekarang… dia sudah ditinggalkan begitu saja.”
Jungkook menarik napas pelan.
“Kalau begitu, kau harus menemani Minji,” ujarnya. “Dia pasti membutuhkannya. Dia sahabatmu, bukan?”
Yoonie mengangguk kecil.
“Iya… aku mengerti.”
Ia merapikan kembali barang-barang yang ia pegang, lalu berbalik menuju pintu.
“Aku pergi dulu,” pamitnya singkat.
Namun sebelum benar-benar keluar, langkahnya sempat terhenti sesaat—hanya sepersekian detik—seolah ia merasakan sesuatu yang tidak biasa di dalam ruangan itu. Sesuatu yang dingin… dan asing.
Perlahan, ia menoleh ke belakang.
Tetapi tidak ada apa-apa.
Hanya Jungkook… dan Yn yang masih terbaring lemah.
Yoonie akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
.
Sepanjang koridor sekolah yang mulai sepi, langkah Kim Yoonie terdengar lebih jelas dari biasanya. Suara sepatu yang beradu dengan lantai menggema pelan, menciptakan irama yang justru membuat suasana terasa semakin sunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mystery
Fiksi PenggemarImagine BTS x Yn x EXO (SEDANG DI REVISI) Kamu termasuk salah satu murid paling pendiam di kelas kamu. Kamu juga adalah seorang indigo. Karena rasa penasaran kamu yang tinggi akhirnya malah membawa kamu ke dalam bahaya yaitu pembunuhan yang di dalan...
