Chapter 12

2.1K 294 18
                                        

“Awas saja kau, Yoonie. Aku akan membunuhmu lebih dulu!” teriak Minji penuh amarah sambil menendang pot bunga di dekatnya hingga bergeser kasar.

Masih berada di atap yang sama, Minji berdiri di tepi pembatas sambil menatap ke bawah dengan sorot mata tajam, napasnya naik turun menahan emosi yang belum mereda.

Namun saat ia hendak berbalik untuk meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seseorang berhoodie hitam sudah berdiri tepat di belakangnya tanpa suara.

Dalam hitungan detik, orang itu mendorong tubuh Minji dengan kuat tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi.

Tubuh Minji kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat meraih apa pun, ia terjatuh dari atap sekolah. Tidak ada teriakan panjang—hanya suara benturan keras yang menggema beberapa detik kemudian di bawah.

Orang berhoodie itu berdiri diam di tepi atap, menatap ke bawah dengan tenang.

Dari atas, terlihat tubuh Minji yang sudah tergeletak bersimbah darah, matanya terbuka lebar menatap kosong ke arah langit.

“Sebelum kau membunuh yang lain… aku harus membunuhmu lebih dulu, bukan?” gumamnya pelan, suaranya dingin tanpa emosi.

Setelah itu, orang tersebut berbalik menjauh dari tempat kejadian. Ia berjalan dengan langkah tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu memasukkan hoodie, masker, dan sarung tangan yang baru saja ia gunakan ke dalam tasnya sebelum pergi dari sana.

.

Jung Yn dan Jungkook yang sedang berjalan di sekitar lokasi kematian Sehun tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan mengerikan di depan mereka.

Tubuh Minji tergeletak bersimbah darah, posisinya tidak wajar, dan suasana di sekitar terasa mencekam dalam sekejap.

Yn refleks melangkah mundur, tangannya menutup mulut dengan gemetar, matanya membesar menahan keterkejutan yang begitu hebat.

Sementara itu, Jungkook berdiri terpaku, tetapi perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah atas, seolah melihat sesuatu—atau seseorang—yang baru saja meninggalkan tempat itu.

“Yn… kau tidak apa-apa?” tanya Jungkook setelah beberapa detik, akhirnya tersadar dari keterdiamannya dan menoleh ke arah gadis itu.

Yn hanya menggeleng pelan tanpa suara, tubuhnya masih gemetar sebelum akhirnya ia berlindung di belakang Jungkook, seolah mencari rasa aman dari pemandangan yang terlalu kejam untuk ia hadapi sendiri.

“Kita harus menelepon ambulans sebelum terlambat,” ucap Jungkook dengan nada tegas, lalu tanpa menunggu jawaban, ia segera menghubungi pihak rumah sakit.

Yn yang masih diliputi rasa syok memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat lebih lama.

Namun di sampingnya, sosok Sehun sudah berdiri, menatap tubuh Minji dengan ekspresi yang penuh kecemasan dan rasa bersalah.

“Ini semua salahku…” gumam Sehun pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

Yn memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya yang kacau. Napasnya bergetar, tetapi perlahan ia menguatkan diri.

Di dalam hatinya, sebuah tekad mulai terbentuk—tekad yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Ia harus menemukan siapa pelaku sebenarnya.

Ia tidak ingin ada korban berikutnya.

Beberapa puluh menit kemudian, suasana di sekitar lokasi kejadian berubah menjadi riuh. Suara bisikan para siswa terdengar di mana-mana saat mereka menyaksikan tubuh Minji yang sudah kaku dimasukkan ke dalam ambulans.

MysteryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang