Chapter 15

1.9K 281 21
                                        

Di atas atap yang mulai lengang, Jung Yn melangkah perlahan mendekati Kim Taehyung yang masih berdiri di tempatnya. Angin berhembus pelan, mengibaskan rambut keduanya, namun tidak mampu meredakan ketegangan yang menggantung di antara mereka.

Yn berhenti tepat di hadapan Taehyung. Tatapannya meneliti wajah pria itu dengan saksama—raut yang sulit ditebak, antara tenang, canggung, dan menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam.

“Kim Taehyung…” panggil Yn pelan, namun tegas.

Taehyung menoleh, sedikit terkejut. Ekspresinya berubah canggung, seolah tidak siap menghadapi Yn dalam kondisi seperti ini.

“Kau…” ucap Yn menggantung.

Namun kalimat itu tidak langsung ia lanjutkan. Tatapannya perlahan turun, dari wajah Taehyung ke bawah—hingga berhenti pada sepatu yang dikenakan pria itu.

Pandangan Yn mengeras.

Ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang tiba-tiba menghubungkan potongan-potongan kejadian di kepalanya—atap, kejatuhan Minji, dan seseorang yang berdiri di sana sebelum semuanya terjadi.

Jantung Yn berdetak lebih cepat.

Bukan karena takut… tetapi karena kemungkinan yang mulai terbentuk.

.

Di dalam ruang rawat yang sunyi, hanya terdengar bunyi mesin medis yang berdetak pelan, Oh Sehun dan Minji berdiri saling berhadapan dalam wujud yang sama—tak kasatmata, namun nyata dalam dunia yang berbeda.

Tidak ada kata-kata untuk beberapa saat. Hanya tatapan kosong yang menyimpan terlalu banyak pertanyaan.

“Sehun…” panggil roh Minji pelan, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya saat ia mulai melangkah mendekat.

Sehun tidak bergerak. Ia hanya menatap Minji, menunggu—atau mungkin bersiap menerima sesuatu yang bahkan belum siap ia dengar.

“Aku tahu siapa yang membunuhmu,” lanjut Minji, kini berdiri tepat di hadapannya.

Udara terasa menegang.

Sehun sedikit mengernyit, bukan karena ragu, tetapi karena ia tahu—jawaban ini bisa menghancurkan segalanya.

“Yang membunuhmu adalah…”

Minji terdiam sejenak.

Tatapannya berubah—bukan lagi sekadar dingin, tetapi penuh dengan sesuatu yang lebih dalam… antara amarah, penyesalan, dan ketakutan.

.

Flashback

Di hari ketika Oh Sehun terjatuh dari atap, suasana di ruang teater justru tampak biasa. Minji dan Yoonie sedang berlatih dialog, duduk berdekatan di lantai dengan naskah di tangan masing-masing.

“Apakah kau sudah menghafal bagian dialog ketiga?” tanya Yoonie sambil melirik ke arah Minji.

Minji yang duduk santai langsung menoleh. “Sudah. Memangnya kenapa?”

Yoonie menghela napas pelan, wajahnya terlihat sedikit ragu. “Sebenarnya… aku ingin bertukar peran denganmu. Aku tidak ingin berpasangan dengan Kai.”

Minji mengernyit bingung. “Kenapa? Bukankah itu bagus? Kai adalah pacarmu.”

Yoonie tersenyum tipis, tetapi tidak sampai ke matanya. “Aku merasa… ia terlalu terobsesi. Seolah-olah aku dikekang.” Ia terdiam sejenak, lalu kembali menatap Minji. “Oh iya, anting sebelah kananmu ke mana?”

Minji langsung terkejut. Tangannya refleks menyentuh kedua telinganya—dan benar saja, anting di telinga kanannya sudah tidak ada.

“Hilang…” ucapnya panik.

MysteryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang