12. Sakit :(

37 2 0
                                        

Magenta meletakan tubuh Amasya di kasur gadis itu dengan hati-hati.
Kemudian seorang wanita dewasa membawa semangkuk bubur dan segelas teh hangat.

Setelah menyelimuti putrinya yang belum juga sadar, Ais berjalan mengantar Genta keluar.

"Makasih ya nak genta, sudah mau repot mengantar Ama"

"Tidak apa-apa tante, emm apa Ama sering pingsan ya?" Tanya genta penasaran. Ia belum sepenuhnya yakin si cebol yang ceria itu beneran sakit.

"Ama punya riwayat magh. Ya gitu kalau habis muntah pasti tubuhnya lemas"
Jelas Ais.

"Kok aku hampir gak pernah lihat ama sakit ya tante"

"Iya Ge, Si Ama kan takut rumah sakit apalagi jarum suntik. Pernah tuh dia merintih kesakitan karena magh nya kambuh. Dia tante bawa ke Rumah sakit.
Eh baru sampai parkiran aja dia kabur. Dan memilih meminum obat saja dari pada disuntik.
Setelah kejadian itu, dia hampir gak pernah ngelewatin jam makan barang sekalipun. Kecuali tadi pagi sih"

Genta melipat bibirnya menahan tawa. Si cebolnya itu memang luar biasa.

Ehh apa-apaan sih cebolnya -_- ogah banget. Batin genta.

"Yaudah tan, Aku pamit dulu ya. Mesti balik ke Sekolah lagi Assalamualaikum" Pungkas Genta dengan mencium sopan tangan ibu Ama.

*****

Selepas kepergian Genta, Ais masuk kamar putrinya dan mendapati gadis itu tengah kesusahan mengambil minum

"Aduh sayang, kok gak panggil mama sih" Ais membantu Ama minum.

"Ama masih mual banget mah" Ucapnya parau.

"Kita kerumah sakit ya nak"

Amasya menggeleng lemah.

Tiba-tiba dari arah pintu muncul suara gaduh. Dimana pelakunya adalah ketiga laki-laki penghuni rumah ini.
Siapa lagi kalau bukan Papa, Bang Gio dan Raka.

"Kenapa kak?" Tanya papa panik memegang kedua lengan Ama

"Iya napa lo dek" Tanya bang Gio tak kalah  panik Sambil menempelkan tanganya di kening Ama.

"Iya kenapa lo kak tiba-tiba pulang?" Panik Raka.

"Ini pada kenapa sih" racau Ama pelan. Kemudian tatapanya mengarah pada sang mama yang cengar-cengir.

"Hehhe, mama bilang di grup keluarga kita kalo Kamu sakit dan pingsan. Eh mereka pada pulang cepet. Nggak nyangka mama, kalian kompak banget. Padahal di grup gak ada yang bales"

"MAMA!" Teriak kita berempat.

******

"Assalamualaikum jeng"

Ais membuka pintu rumahnya dan menemukan Resa datang bersama Genta dan kayla.

"Waduh ada apa nih kok rame-rame, masuk dulu jeng"
Ais masuk diikuti yang lain.

"Duduk dulu, tak buatin minum dulu"

Ais menaruh 3 gelas minuman di meja dengan hati-hati.

"begini jeng, kedatangan kami kesini mau jenguk Ama, kata Genta dia lagi sakit" Jelas Resa.

"Oh iya jeng, tadi pingsan katanya.
Ayo dia di kamar"

Tanpa mengetuk pintu, Ais masuk ke kamar putrinya dan mendapati Ama sedang duduk bersila dengan dua tangan memegang stick psp. Ia duduk ditengah diantara Gio dan Raka.

Melihat kedatangan 4 orang yang tiba-tiba itu Ama kaget.
Reflek Ama memindai pandangannya ke segela arah dan menemukan banyak sampah bungkus makanan snack dan botol minuman dingin dimana-mana.

"Oh udah sembuh tuh Ge, Lihat deh" Ucap Ais dengan menahan tawa melihat raut wajah sang anak merah karena malu.

"Ih kalian bangun dari kasurku pindahin nih dek psp kamu. Terus bersihin bang snack abang. Abang tuh jorok banget sih" Racau Ama. Bodo amat ada genta ia sudah kepalang malu.

"Yee" Teriak Raka dan Gio bersamaan sambil kompak melempari muka Ama dengan bantal

Resa menghampiri Ama dan duduk disebelahnya.

"Sayang kata genta kamu sakit, Udah baikan nak?" Tanya resa dengan tangan mengelus kepala Ama.

"Alhamdulillah tante. Berkat pangeran bersepatu sih" Cengir Ama.

Resa hanya tersenyum.

"Yaudah tante sama yang lain keluar dulu ya, Biar kamu ditemani Genta"

Genta reflek melotot.

Ais, Resa dan yang lain keluar dari kamar Ama tanpa menutup pintu.

Setelah hening beberapa detik. Genta membuka suaranya.

"Bisa sakit juga lo" Ucapnya datar dan duduk Dikursi belajar Ama.

"Gue kan juga manusia. Wajarlah sakit" cibir Ama.

"Oh ternyata lo selama ini manusia"

"Eh lo pikir gue apaan? Setan! Yang ada elo yang setan Gentanyangan diotak gue mulu"

"Hush. jangan teriak-teriak nanti muntah lagi" Sindir Genta.

"eh eh mau mau ngapain lo" Ama kelabakan saat Genta mulai berjalan pelan ke Arahnya.
Genta menahan senyum saat melihat Ama yang begitu panik.

"Nggak panas" Ucapnya pelan saat tangannya di kening Amasya.

Amasya menahan napas saat rasa hangat memenuhi keningnya.
Ama menepis pelan tangan Genta.

"Gue kan sakit perut bukan demam."

Genta mengangguk dan hendak memegang perut Amasya.

Saat sudah dekat Ama buru-buru menepisnya.

"Eh lo gila mau pegang perut gue!"

"Kan lo bilang sakit, Gue cuman mau cek doang. Panik banget" Genta berdiri canggung dan memasukan kedua tangannya di saku celana. Agar tak kurang ajar seperti tadi.

"Emang lo dokter? bisa ngecek segala" Cibir Ama.

"Cita-cita" Jawab Genta pelan.

******

Sepeninggalan Genta dan keluarganya, Amasya mendadak sembuh total 100%. Ia tak menyangka sang pujaan hati mau repot-repot menjenguknya.

Bahkan parsel berisi buah itu masih bertengger manis di nakas kamarnya.

Entah kapan Genta meletakannya disana, padahal ia melihat Genta tak membawa apa-apa.
Mungkin Ama tidak sadar karena saking kagetnya mengtahui Genta datang kerumahnya.

"Senyum mulu, sobek bibir lo dek" Cibir Gio diikuti Raka dibelakangnya.

"Apasih" Geram Ama saat tangan Gio mengacak rambut berantakanya.

Raka dengan tenang menyerahkan Cermin yang entah ia dapat dari mana.

Ama memandang cermin ditangan Raka bingung. Adiknya gila kali, masa kakaknya disuruh ngaca.
Ama menerima uluran kaca dari sang adik.

"OMAIGATTTT INI SIAPA WOY" Teriak Amasya.
Kompak Gio dan Raka menutup kedua telinga mereka masing-masing.

"Itulah penampakan kakak dari tadi. Mungkin pulang dari sini kak Genta sawan" Ejek Raka diiringi kekehan.

"Kok lo berdua jahat sih, kenapa tadi gak diingetin sama Rambut UWOW gue ini" Tangis Amasya.

"Makin ilfil dong si Genta, Mama... Mana tadi ada adik ipar dan camer. Ditaruh mana muka ku nanti. Huaaaaa" Tangis Ama pecah.

Sedangkan Kedua saudara kandung itu tak mampu menahan tawanya lagi.



##############
Hayo lo tadi gak diingetin kan Amasya bisa dandan dulu. hehehhehe

MAGENTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang