Chapter 6

12.4K 962 69
                                        



"Aku akan kembali ke—"

"Shhh.. kenapa kau begitu buru-buru Jaehyun? Kau tak merindukanku hm?"

Taeyong semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jaehyun. Sama sekali tidak memberikan celah agar lelaki tampan itu dapat pergi.

Jaehyun mengusap peluh yang menetes pada dahinya. Ia kembali kelepasan hingga menghabiskan dua ronde bersama bosnya. Sial, pesona Taeyong memang bukan kaleng-kaleng.

Jaehyun yang memilih mengalah lantas menyandarkan dagunya pada kepala Taeyong. Ia tak habis pikir bagaimana bosnya bisa kembali tidur bersamanya sedangkan dua minggu lagi ia akan segera bertunangan.

"Bagaimana jika Jeno tahu?"

"Jeno sedang ke Jepang untuk seminggu ke depan. Jadi ia tak akan tahu."

"Jadi aku hanya pelarianmu huh?"

Taeyong tersenyum tanpa berniat membalas. Ia mulai mengecupi rahang tegas lelaki yang tengah memeluknya. "Ayo kita lanjutkan permainan kita yang tertunda, Daddy.."

Jaehyun tersenyum kecut sebelum memagut kasar bibir tipis atasannya. Mengapa ia bodoh sekali hingga berharap Taeyong akan memutuskan pertunangannya hanya demi dirinya?




Jadi aku memang pelarianmu..







Chaeyeon menggigit kuku jarinya gemas. Jaehyun kembali tak bisa ia hubungi. Apakah suaminya itu kembali lembur? Tapi kenapa satu minggu kemarin tidak? Kenapa mendadak lembur kembali? Tanpa memberitahunya pula. Jika begini kan Chaeyeon jadi cemas.

Apakah Chaeyeon harus menghampiri suaminya ke kantor? Tapi bagaimana jika Jaehyun marah? Eh.. tapi untuk apa Jaehyun marah? Kan ia khawatir. Wajar bukan?

Chaeyeon bersiap-siap seraya menyiapkan bekal untuk suaminya. Hitung-hitung irit pengeluaran.

Baru saja ia ingin keluar rumah, teleponnya tiba-tiba berdering. Menampilkan nama suaminya yang tengah menelpon.

"Jaehyunie! Kau kemana saja? Apa kau sedang lembur?"

"Hmm.. m-maafkan aku sayang. Aku ada tugas lembur mendadak hh.."

"Jaehyunie? Kau baik-baik saja? Suaramu terdengar lelah."

"Ahh t-tidak apa-apa. Lucas hanya sedang memijit punggungku. Aku hari ini ti- hmphhh p-pulang aahh y-yaah.."

"Jaehyunie lelah sekali ya? Aku akan membawakan bekal untukmu! Ini tinggal ku antarkan saja."

"JANGAN! M-maksudku tidak usah.. kau nanti bisa kelelahan s-sayanghh.. ahh s-sudah ya ku tutup. Bosku sudah memanggilku."

"Umm.. baiklah.. love you—"

Pipp

Chaeyeon menatap ponselnya bingung. Jaehyun bahkan tak mengatakan kata cinta seperti biasanya. Chaeyeon juga belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Entah mengapa dadanya terasa nyeri. Ia kemudian memukul dadanya keras, mencoba menghilangkan sesak yang melanda.

"Chae, Jaehyun sedang bekerja. Kau tak boleh mengganggunya! Kenapa kau jadi sensitif seperti ini huh?" Monolognya.

Chaeyeon mencoba mengatur nafasnya yang mendadak sesak. Ia meletakkan kembali bekal untuk sang suami.

"Hah.. padahal aku berniat membawakannya bekal."

-o-


"Ooo.. aku adalah Lucas? Yang sedang memijit punggungmu? Begitu rupanya." Goda Taeyong. Lelaki mungil itu mengetatkan lubangnya hingga membuat Jaehyun kewalahan. Tak sanggup menahan godaan yang diberikan.

Taeyong menaik turunkan pinggulnya, membuat penis Jaehyun timbul tenggelam di dalam lubangnya. Kedua tangan Taeyong bertumpu pada perut berotot Jaehyun, sedang pinggulnya terus naik turun.

"Anh.. hya.. hngh.. annggh.. hya~"

"Nngh.. T-taeyongie.."

Jaehyun menggertakkan giginya karena tempo Taeyong yang cukup lambat tapi selalu mengenai prostatnya. Sial! Jaehyun ingin menggempurnya dengan brutal!

"Terlalu lama! Aku sudah tak sabar hh.." Jaehyun menggeram sebelum membanting tubuh mungil Taeyong. Hidung bangirnya mengendus lehernya kemudian menjilatnya, tanpa berniat meninggalkan bekas.

"Nghh J-jaehyun.. tidak ingin menandaiku?"

Jaehyun tersenyum menggoda lalu menyesap bibir bawah Taeyong. Menggigit kecil kemudian menghisap kembali. Hingga bibir tipis itu kian membengkak.

"Tidak. Jika kau tidak memiliki pasangan, mungkin aku akan memikirkannya."

Jaehyun kemudian kembali menghentakkan pinggulnya. Membuat Taeyong keluar seketika karena prostatnya dihantam sangat keras.

"Ahh J-jae ahh kau terlalu kasar!"

"Tapi aku menyukainya! Please, gunakan lubangku hingga aku tak bisa berjalan dengan benar, Daddy."

"With my pleasure, bitch."







Taeyong duduk di singgasananya dengan gusar. Sesekali pantatnya bergerak resah karena sesuatu sedang bermain didalam lubangnya. Taeyong yang tak kuat menahan rangsangan, memilih untuk melakukan sesi solo. Sebelum pintu ruangannya terbuka secara kasar, menampakkan bawahan sekaligus sahabatnya.

"Kau bilang itu yang terakhir dan takkan mengulanginya lagi! Tapi apa yang terjadi? Kau melakukannya lagi!"

Oops! Sepertinya Ten tahu. Alasan Taeyong baru bisa menikmati kejantanan Jaehyun sekarang adalah, karena Ten sedang bertugas diluar kota untuk tiga hari ke depan. Jadi Taeyong bisa dengan bebas menikmati gempuran Jaehyun.

Namun sial, baru dua hari berlalu; Ten sudah kembali. Pupus sudah harapan Taeyong yang ingin kembali memadu kasih bersama selingkuhannya.

"Hehe.. maafkan aku Ten-ie.. aku tak kuasa menahannya. Terlalu nikmat umm.." Taeyong menatap polos sahabatnya. Berharap dirinya akan luluh.

"Baru dua hari aku meninggalkanmu dan kau sudah berulah. Atau jangan-jangan, ini semua memang rencanamu?! Tck! Awas saja, jangan datang merengek padaku ketika kau kena karma!"

"Tidak— tidak akan! Karma kan sudah berpacaran dengan Nagisa! Dia tidak mungkin datang menghampiriku. Tapi jika ia ingin melayaniku, dengan senang hati aku akan mengabulkannya."

Ten menatap Taeyong dengan tatapan tak percaya. Rasanya semakin hari otak Taeyong semakin tak berfungsi. Seharusnya Ten bawa saja ke rumah sakit jiwa agar segera ditangani.

Kemudian Ten mengistirahatkan tubuhnya disofa seraya memijat pelipisnya. Ia mencoba menekan amarahnya ketika ucapan seriusnya dibalas bercanda oleh sahabatnya.

"Ahh— ngomong-ngomong soal Karma. Aku jadi kepikiran Portgas D. Ace Ten. Kira-kira, boneka seks jepang bisa membuatkan aku boneka dengan wajah seperti Ace tidak ya? Hmm.."






Mari tinggalkan Taeyong dengan fantasi liarnya.



TBC

Pervert Boss ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang