Chapter 7

11.7K 1K 110
                                        



Jeno mengerutkan keningnya saat melihat pesan yang ia kirim dari kemarin tak kunjung dibalas. Padahal ia sudah menasehati jika Taeyong tak perlu kerja susah payah hingga mengabaikannya seperti ini. Toh, jika mereka menikah nanti, ujungnya hanya Jeno yang akan bekerja. Karena ia tak akan membiarkan lelaki cantik itu bekerja keras dari pagi siang malam.

Jeno kemudian memandang layar ponselnya. Ia lantas terkekeh saat melihat wallpapernya.

Dari sekian banyak foto kekasihnya yang menawan, Jeno sangat menyukai wajah kekasihnya yang seperti ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dari sekian banyak foto kekasihnya yang menawan, Jeno sangat menyukai wajah kekasihnya yang seperti ini. Selalu dapat membalikkan moodnya yang hancur hanya dengan melihat wajahnya.

Jeno mengusap layar ponselnya sebelum mengecupnya pelan. Ia sangat menyayangi Taeyong, sangat. Hingga rasanya dadanya terasa sesak jika tak melihatnya.

Ini baru dua hari Jeno tak mendapatkan kabar dari kekasihnya, dan ia rasanya ingin segera terbang ke Korea kemudian memeluknya seharian. Jeno sangat merindukan kekasihnya, sungguh. Tak biasanya ia hilang tanpa kabar seperti ini.

"Sangjanim, aku tahu kekasihmu sangat cantik hingga kau tak rela meninggalkannya. Tapi demi tuhan! Berkas yang belum kau tanda tangani masih banyak! Mohon singkirkan ponselmu sebelum aku mengadu pada Taeyong-ssi."

Jeno melirik sinis sekretarisnya. Ia kemudian menjulurkan lidahnya mengejek sebelum kembali menandatangani beberapa berkas dengan sesekali tetap memandang foto kekasihnya pada layar ponselnya.

"Jomblo tidak laku sepertimu mana mengerti." Gumam Jeno.

"Aku mendengarnya sangjanim!"

Untung saja sekretaris itu adalah teman baiknya saat SMA. Jika tidak, sudah Jeno pecat dia dari dulu karena selalu berani melawannya.

Tidak menyadari tatapan nanar sang sekretaris saat melihatnya terus-terusan menatap layar ponselnya.


-o-


Keningnya berkerut ketika merasakan tetesan air mengenai wajahnya. Hah? Yang benar saja apartemen mewahnya bocor? Tidak— tidak mungkin kan?

Mengerang kesal, Taeyong lantas membuka matanya terpaksa. Menemukan Jaehyun yang sudah mandi dengan rambutnya yang masih basah tengah mengukung tubuhnya. Taeyong menghela nafas lega saat tahu itu bukan akibat kebocoran.

"Kenapa dengan ekspresi senangmu?" Jaehyun mengulum senyum. Menerka-nerka jawaban atasannya. Dalam hati ia berpikir, apakah atasannya suka dengan apa yang tengah ia lakukan?

Taeyong tersenyum manis yang dibalas senyum tampan oleh Jaehyun. "Ku pikir apartmenku bocor, rupanya tetesan rambutmu yang mengenai wajahku." Balas Taeyong polos. Berhasil menghancurkan imajinasi bahagia Jaehyun.

Jaehyun yang mendengarnya mengerucutkan bibirnya. Lelaki bongsor itu kemudian menjatuhkan tubuhnya hingga menimpa Taeyong.

Pervert Boss ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang