Chapter 14

8.5K 818 124
                                        


Taeyong menatap kosong layar televisi di ruangannya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dicegah. Tubuhnya terasa lemas. Rasanya seperti nyawanya baru saja dicabut secara paksa.

Tidak. Tidak mungkin.

Ini pasti mimpi kan?

Taeyong pasti akan jatuh jika saja Jaehyun tidak menangkapnya. Lelaki mungil itu menjambak rambutnya dengan keras hingga beberapa helai mahkotanya rontok.

"Jaehyun, J-jeno hiks tidak! Jeno tidak mungkin hikss.. Itu bukan pesawat Jeno kan?! JAWAB AKU JAEHYUN!! ARRGHHH!"

Taeyong menangis tersedu-sedu dipelukan Jaehyun. Taeyong masih tak percaya jika Jeno pergi meninggalkannya. Hatinya sangat sakit, sakit sekali. Sampai rasanya sesak hanya untuk sekedar bernafas.

"Kenapa— KENAPA HARUS JENO JAEHYUN?! KENAPA?!" Taeyong memukul dada Jaehyun sebelum tubuhnya merosot jatuh.

Jaehyun lantas menangkup pipi Taeyong. Lelaki tampan itu mengecupi seluruh permukaan wajah Taeyong. Jaehyun juga mengecup kening Taeyong lama guna sedikit menenangkannya. Hatinya ikut sakit melihat keadaan Taeyong saat ini.

"Kau begitu mencintai Jeno, huh?"

Taeyong terlalu tuli untuk mendengar gumaman Jaehyun. Otaknya seakan beku saat mendengar kecelakaan pesawat yang ditumpangi Jeno. Bahkan tidak ada satu pun korban yang selamat.

Taeyong menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Kenapa? KENAPA HARUS JENO?!






"Taeyong, kau harus makan dulu. Kasian baby kita jika kau tidak makan. Dia pasti sangat lapar."

Taeyong hanya menatap kosong bubur didepan bibirnya. Air matanya mengalir dengan deras ketika ia mengingat Jeno benar-benar pergi meninggalkannya. Jaehyun yang kesal karena Taeyong masih memikirkan Jeno lantas memindahkan bubur itu ke mulutnya; lalu ia menyalurkannya pada Taeyong lewat ciuman. Dan begitu terus hingga bubur itu habis.

Meskipun terkadang Jaehyun dapat merasakan rasa asin karena air mata Taeyong masih saja mengalir.

"Aku mengijinkanmu menangisi Jeno untuk hari ini. Esok, aku hanya ingin ada airmata kebahagian okay? Hatiku ikut sakit melihatmu seperti ini." Jaehyun memeluk Taeyong dan menenggelamkan kepala Taeyong di dadanya. Tangannya bergerak mengelus punggung mungil Taeyong.

"Kenapa harus Jeno, Jae? Aku— aku sangat mencintainya. Sangat hiks.."

Jaehyun terus mengecupi wajah Taeyong dengan sesekali memberinya semangat. Hingga Jaehyun tak sadar, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan ada seseorang dirumah yang menunggu kepulangannya.

.

.

"Yong, mulai besok kamu tinggal dirumahku ya? Biar aku bisa pantau kamu."

"Terus istrimu gimana? Kamu ceraikan?"

"Aku gak tega mau ceraikan Chaeyeon meskipun aku udah gak ada rasa sama dia." Taeyong menatap Jaehyun dengan tatapan sulit diartikan.

"Istri kamu setuju aku tinggal bareng kalian?"

"Nanti aku pulang bentar buat ngomongin masalah ini."

"Yaudah. Jaehyuniee yongie mau ini." Tangan Taeyong tiba-tiba meremas kejantanan Jaehyun yang masih lemas.

Jaehyun lantas mendesis saat tangan mungil Taeyong sekarang mengeluarkan kejantanannya dari sarangnya.

"Nanti kalau kamu mau berhenti tapi aku belum puas aku gak mau berhenti lho ya?"

"Eung oke!"

Jaehyun mulai mencium bibir Taeyong ketika lelaki mungil itu memasang raut wajah menggemaskan.

Pervert Boss ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang