Ganis sedang asyik menonton tv. Dia sendirian. Gandhi sendiri tadi pagi pamit ke kampus untuk memberikan surat keterangan sakit dan sekaligus mengajar. Sedangkan Gayatri pergi sekolah. Ganis bosan. Dia ingin jalan-jalan sekedar ke taman menghirup udara segar. Namun apa daya.
CEKLEK.
Ganis terkejut. Sosok yg berusaha dia lupakan mendadak muncul. Seketika ada hati yg sakit muncul saat ada orang lain ikut masuk ke dalam ruangan. Kamila. Sastra terkejut melihat Ganis yg pucat. Sastra merasa ditampar melihat keadaan Ganis. Sastra menghambur kepelukan Ganis, namun kalah cepat. Tangan Ganis menahan dada Sastra. Dia tak ingin tersakiti lagi, walaupun nyatanya Sastra tak tahu apapun. Sastra mengernyit. Dia ditolak oleh Ganis. Sastra mundur beberapa langkah, sekedar melegakan jantung yg berdetak tak beraturan. Kenapa rasanya begini saat Ganis menolakku, pikir Sastra.
"Apa kabar Ganis?"
"Baik Sas."Lagi-lagi Sastra mengernyit. Ada nada sinis disana. Tapi kenapa?
"Aku dengar kamu sakit? Sakit apa?"
"Hanya typus."
"Ganis, kamu calon dokter kenapa tidak bisa menjaga kesehatan mu sih?"Ya karena yg membuatku begini kamu Sastra, batin Ganis.
"Aku khawatir Ganis! Apalagi kamu tidak bisa dihubungi? Kenapa bisa kamu bersama dosen itu?!" Cerca Sastra.
Khawatir? Cih! Kamu bahkan tidak sadar Sas saat aku sudah tidak disana!
"Seharusnya kamu mengucapkan terima kasih kepada dosen itu yg sudah menolongku. Bukannya malah berbicara macam-macam Sas!"
"Maaf, bukan maksudku..EHEM!
Semua menoleh. Sastra mengutuk dirinya sendiri. Dia lupa jika ada Kamila yg ikut bersamanya.
"Mila, perkenalkan ini Ganis. Dia sahabatku. Ganis, ini Mila dia.."
"Kekasih. Saya Mila kekasih Sastra."
"Iya. Selamat untuk kalian ya?"Hancur sudah hati Ganis. Bahkan Sastra pun tak menampik saat Kamila mengatakan statusnya kepada Ganis. Tiba-tiba kepala Ganis sakit. Dia memejamkan mata sebentar untuk mengurangi sakit dikepalanya, namun malah semakin menjadi.
"Ganis kamu kenapa?" Ucap Sastra yg khawatir.
Dia mencoba meraih kepala Ganis. Dia tahu kebiasaan Ganis jika sakit kepala dia akan memejamkan mata seerat mungkin.
PLAK!
Tangan Sastra ditampik oleh Ganis. Dua kali kamu menolakku Ganis, ada apa denganmu? Sastra kembali mundur. Dia bukan paranormal yg tahu isi hati orang, apalagi isi hati wanita yg begitu terkenal kerumitannya. Sastra hanya mencoba menerka. Sastra hanya mengira Ganis sekedar sakit kepala. Namun Sastra tak tega melihatnya. Kalau bisa jangan Ganis yg sakit, tapi Sastra. Tapi tiba-tiba seseorang masuk. Masih menggunakan pakaian rapi khas seorang pengajar. Gandhi. Dia melihat Sastra bersama seorang perempuan yg dari segi berpakaian begitu tak layak. Dia memandang Ganis begitu sinis. Di ranjang, Ganis memejamkan mata seolah menahan sakit. Gandhi yg peka mendekat ke arah Ganis.
"Nis, apa ada yg sakit?"
"Sakit mas?" Lirihnya sambil memegang kepalanya.Sastra mendengar dengan jelas. Dia terkejut. Sejak kapan Ganis memanggil dosen ini dengan panggilan mas? Sejak kapan mereka dekat? Nggak, nggak boleh!
Sastra melihat bagaimana Gandhi telaten memijit kepala Ganis, dan itu terlihat enak dan nyaman. Sampai Ganis memejamkan mata namun terlihat menikmati. Kenapa Ganis? Aku bahkan ditolak olehmu? Sedangkan dia yg orang baru bisa leluasa mendekatimu Ganis. Apa sekarang aku tidak berarti apapun untukmu? Sastra memilih mundur dan keluar perlahan dari sana. Lama-lama membuat Sastra gerah. Ganis menyadari kepergian Sastra. Tapi dia membiarkannya.
Tiba-tiba saja Ganis menangis. Siapapun yg mendengar akan tahu jika tangis Ganis adalah tangis kesakitan, ketidakberdayaan, putus asa. Gandhi memeluk Ganis, dibenamkan wajahnya di pinggang Gandhi. Ganis butuh pelepasan atas kesakitannya. Kesakitan yg Ganis buat sendiri.
"Katakan padanya Ganis, katakan semuanya? Kamu tak perlu malu. Kamu hanya butuh melepaskan bebanmu itu. Urusan ditolak atau diterima itu urusan belakangan, yg penting tak ada yg kamu simpan sendiri. Bagaimanapun Sastra juga harus tahu. Saya yakin dia sedang bingung dengan sikapmu yg menolak dia."
"Apa itu terlihat mas?" Ucapnya masih dalam tangis.
"Sangat Ganis. Jadi jangan egois, seolah kamu yg hanya tersakiti disini. Sastra pun sama. Apalagi dia tidak tahu apa-apa. Ya bisa dibilang dia juga korban Ganis. Maaf jika kata-kata saya terkesan menyalahkanmu dan membela Sastra, saya hanya berkata sesuai sudut pandang seorang lelaki."
"Saya mengerti mas, hanya saja saja tidak siap mengungkapkan semuanya. Apalagi Sastra kesini bersama kekasihnya. Jadi buat apa, yg ada saya takut merusak hubungan mereka. Karena saat saya mengatakannya Sastra akan memikirkannya. Bukan aku kepedean, tapi aku mengenal Sastra."
"Perempuan dengan baju kurang bahan itu kekasih Sastra? Kamu yakin?" Ucap Gandhi terkejut.
"Iya mas, karena dia sendiri yg bilang dan Sastra tak menampiknya."
"Ya sudah terserah kamu bagaimana enaknya Ganis, tapi jika ada apa-apa jangan menyimpannya sendirian. Ada saya."
"Terima kasih mas."
"Sekarang kamu istirahat. Jangan banyak pikiran Ganis."
"Hmm mas, kapan aku boleh pulang? Aku bosan mas."
"Entah, nanti aku tanyakan. Mau jalan-jalan ke taman? Mumpung udaranya lagi bagus. "
"Mau mas." Ucapnya senang.Di atas mulmed Ganis dan Pak Gandhi ♥️

KAMU SEDANG MEMBACA
JOGJA ITU... ✔️
Short StoryPernah kalian bertanya pertanyaan random namun sebenarnya itu adalah pertanyaan yg mewakili isi hati kalian? Rengganis dan Sastra. Dua sahabat yg suka sekali saling bertanya pertanyaan random. Namun siapa sangka dari pertanyaan random itu mengubah s...