Mantan

72 53 12
                                        

-Aku tak peduli walau kau tak membalas perasaanku. Setidaknya aku tak akan pernah menyesal karena telah mengungkapkan rasa itu berkali-kali-

--

"Aduh... Mamah.... Aaaa.... Sakitttt...."

"Bu pelan-pelan dong sakit banget tahu"

"Ya mb tapi kan setelah ini bakal lebih baik lagi kakinya"

"Bibii......." teriak Rifa kesakitan karena sedang dipijit oleh tukang pijit paling terkenal sekomplek rumahnya.

Akhirnya proses pemijitan yang lumayan menyiksa itu berakhir.

"Selesai mb, abis ini pasti baik-baik aja kok"

"Ya makasih bu"

Tukang pijit itu bernajak pergi meninggalkan kamar Rifa.

Dengan sekilat petir Rifa langsung mengambil hp nya. Ia baru ingat hari ini adalah haru Adnan ulang tahun.

"Ahh, kok gue bisa lupa si?"

"Padahal udah gue inget-inget banget"

"Gue ngucapin gak yah?"

"Malu gak yah kalo telat ngucapin"

"Tapi gue pengin ngucapin"

Pertanyaan itu muncul betubi-tubi di benak Rifa

"Rif??" kedatangan Nia mengagetkan Rifa

"Ih apa si mah, ngagetin aja"

"Kmau aja yang ngalamun"

"Iya udah iya mah kenapa?"

"Ada Gani didepan"

"Apa??? Ngapain tu anake aneh kesini"

"Gak tahu, udah sana samperin"

"Ogah, dia aja suruh masuk kaki aku masih sakit"

Akhirnya Nia memanggil Gani untuk menemui Rifa, sekaligus pamit karena Nia akan pergi ke Bandung selama seminggu.

Nia memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia sering pergi berhari-hari meninggalkan Rifa.

Papahnya pun sama, ia sering meninggalkan Rifa karena urusan pekerjaan ini dan itu.

"Rif?"

"Masuk"

"Kenapa?"

"Kenapa apa nya?"

"Kalo lo kesini cuma mau bahas perjodohan kakak gue sama kakak lo mending lo pergi aja. Jangan bikin mood gue ancur"

"Gak kok, tadinya gue kesini mau ngajakin lo jalan. Tapi katanya lo abis keseleo"

"Ya tadi gue gak hati'hati"

"Gimana kalo besok lo gue jemput sekolah?"

Reason Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang