02

2.6K 262 27
                                        

.


.

Keesokan paginya bocah kecil itu justru demam tinggi, masalahnya sejak tadi malam bocah 8 tahun itu menangis dan menggigil membuat Yoongi panik.

Tangan pucat itu menggenggam tangan yang lebih muda. Suhu panas itu membuat Yoongi menghela napas, sudah tidak sepanas tadi pagi.
"Hey kid, ada apa denganmu?" Yoongi nampak panik saat mendapati adiknya nampak kesakitan.

"Jangan panik, ia demam karna infeksi pada lukanya saja." Woobin mengusap pelan bahu Yoongi--tuan mudanya.

"Kau tidak sekolah? Kakekmu akan marah mendengarnya." Ucapan Woobin membuat Yoongi menghela napas, sebenarnya ia ragu melihat adiknya sakit.

"Tenanglah paman, aku akan merawatnya." Mendengarnya membuat perasaan Yoongi lebih tenang. Yoongi bocah berusia 13 tahun itu mengusap peluh yang ada di kening bocah itu.

"Kira-kira.. Apa kakek setuju aku mengangkatnya sebagai adik?" Woobin tersenyum lembut, mengacak surai Yoongi.

"Ayo ke sekolah, lalu pulang untuk menemui adikmu lagi."

Yoongi mengangguk semangat, namun sebelum ia beranjak pemuda itu segera mengecup kening sang adik.
"Istirahatlah dengan baik, kid." Yoongi segera beranjak dari sana membuat Woobin tersenyum.

"Perlu ku buatkan bekal?" Tanya Woobin berjalan mengikuti tuan mudanya, menutup pintu kamar bocah berusia 8 tahun itu dengan pelan.

"Aku sudah besar kak, aku sudah punya adik sekarang." Gerutu Yoongi membuat Woobin tertawa, apa-apaan itu.

"Lalu kenapa kalau Yoongi punya adik? Kau tetap anak kecil yang masih butuh makan." Yoongi mendengus mendengar ledekan Woobin yang jauh lebih tua di atasnya.

"Sudahlah aku mau berangkat pagi." Woobin hanya terkekeh, Yoongi memang mudah emosi jadi ia harus mengalah daripada tuan mudanya mengamuk.

Sedangkan di dalam kamar Jungkook mengerjap, semua terasa sunyi dan sepi. Sampai Jungkook mendapati sosok yang berdiri di sampingnya, mata Jungkook mengerjap saat merasa pandangannya salah.

"Kak Taetae ada disini?" Jungkook mendudukkan tubuhnya, walau terasa pusing ia memilih abai. Ia rindu dengan Taehyung yang ia pikir tidak akan pernah bertemu kembali.

"Kau pergi, Kook?" Tanya Taehyung membuat Jungkook mengangguk kecil.

"Kau tahu aku merindukanmu di sana, dan mama juga menderita sendirian." Taehyung menatapnya marah, membuat anak kecil itu ketakutan, Taehyung tidak pernah marah ataupun membentaknya.

Ini menakutkan....

Jungkook menangis ketakutan saat Taehyung menatapnya kecewa.
"Maafkan aku..hikss maafkan aku... " Jungkook kecil terus menangis ketakutan.

Sedangkan Taehyung hanya menatapnya dalam diam, sampai pintu kamar terbuka menampakkan seorang bibi Areum yang merawat Yoongi berlari kearah Jungkook.

Taehyung melihatnya dalam diam, Bibi Areum memeluk Jungkook dan mengusap bocah cilik itu yang menangis sesenggukan.
"Ada apa baby menangis?" Tanya Bibi Areum membuat Jungkook menatap Taehyung yang berdiri di dekat jendela.

Taehyung menggeleng kemudian pergi keluar membuat Jungkook menatap kepergian Taehyung sendu. Taehyung sudah ia anggap saudaranya, tapi kak Tae kecewa dengannya.

"Hiks... Maafkan aku... " Bocah itu terisak tanpa henti membuat bibi kewalahan dan bingung.



***



My Precious BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang