Obrolan bersama Langit

5K 512 56
                                        


Langit dan Senja. Mungkin beberapa orang banyak yang menganggap nama aku dan nama Langit itu saling berhubungan tapi kami juga tidak tau apa itu sebuah ketidaksengajaan atau memang sudah di takdirkan oleh Tuhan.

Langit sudah wisuda tahun lalu, dan sekarang sedang bekerja sebagai salah satu staff Public Relations di salah satu perusahaan pertambangan di Jakarta Selatan. Aku pun tidak jauh beda dengan Langit, kalau Langit sudah wisuda tahun lalu tapi aku baru satu bulan yang lalu wisuda dan beruntunglah sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang aku pilih saat kuliah.

Karena pekerjaan aku yang memiliki waktu sangat flexibel berbeda dengan Langit yang harus sesuai dengan jam kantornya, makanya sekarang aku sudah bisa pulang dan beristirahat di rumah.

Jam makan siang seperti ini biasanya Langit selalu menyempatkan untuk mengobrol lewat telfon atau kalau sibuk dia hanya bisa mengirim beberapa pesan seperti sekarang.


Langit Kaditula
udah sampe rumah?

Elina Senja Gantari
baru sampe, panas banget di luar
kamu udah makan siang?

Langit Kaditula
siapa bilang dingin?
baru selesai makan,
jangan skip makan awas aja.

Elina Senja Gantari
males makan, di rumah sepi soalnya

Langit Kaditula
elina!

Elina Senja Gantari
:( iyaaaaa nanti aku makan kalau inget

Langit Kaditula
elina senja gantari!!

Elina Senja Gantari
iyaaaaaa langitku
nanti aku potoin deh biar kamu percaya
read




Langit memang selalu seperti itu, mengingatkan hal-hal kecil yang sudah pasti akan aku lupakan. Langit tau kalau aku adalah tipe orang yang kalau sudah merasa cape itu malas untuk melakukan apapun bahkan hanya untuk makan. Aku lebih memilih tidur di kamar dengan suhu pendingin ruangan yang bisa sampai 10 derajat.

Aku terbangun ketika merasakan hawa dingin yang menerpa kulit lengan atas ku karena tidak tertutupi selimut. Setelah melihat jam yang ada di nakas, ternyata sudah empat jam aku tidur dan tandanya satu jam dari sekarang itu jam pulang kantornya Langit, biasanya Langit akan menyempatkan untuk ke rumah ku walaupun itu hanya tiga puluh menit.

Ketika aku turun ke bawah untuk mengecek keadaan rumah apa ayah sudah pulang atau belum, aku malah mendapati Langit yang sedang fokus dengan tayang televisi yang ada di depannya.

"Langit,"

"Hm, kenapa?" Jawab Langit tanpa menatap ke arah aku sama sekali.

Sepertinya aku tau apa yang membuat Langit seperti ini. Mungkin tadi Langit sempat bertemu dengan ibu dan ibu laporan pada Langit kalau aku belum makan sejak tadi siang.

"Dari kapan?"

"Apa?" Langit malah bertanya balik.

"Kamu disini dari jam berapa?"

"Setengah jam yang lalu. Kenapa bohong sama aku?"

"Bohong apa sih?"

Langit berdecak sebentar kemudian membalikan tubuhnya sehingga bisa menatap ke arah aku.

"Tadi bilang mau makan siang, tapi ibu bilang kalau kamu gak keluar kamar dari kamu pulang tadi."

"Cuma makan aja El, apa susahnya sih? Kamu tuh selalu kaya gini kalau udah males. Aku yang kasian sama kamu, badan kamu udah cape tapi gak di isi makanan tuh gimana Elina?" Tambah Langit.

Aku menundukan kepalaku agar tidak bisa bertatapan langsung dengan Langit. Jujur saja jika Langit sudah marah seperti ini, tatapan nya sangat menyeramkan. Bahkan tatapan ayah ketika marah saja kalah.

"Maaf.."

"Cuma pekara makan aja masa aku harus ingetin kamu terus?"

"Iyaaa, aku janji gak akan gini lagi."

"Kalau sampe aku tau kamu masuk rumah sakit lagi karena telat makan, aku bener-bener marah sama kamu, El."

Aku yang mendengar hal itu langsung mendekat ke arah Langit dan memeluknya dari samping.

"Udah ih jangan marah-marah lagi. Janji deh ini terakhir, tapi kamu jangan marah gini."

Langit menghela nafasnya lalu membalas pelukan ku dan bisa aku rasakan kalau Langit sedang mempererat pelukan kami.

"Maaf udah marah-marah."

Aku mengangguk. "Oh iya, temen aku minggu depan ada yang nikah. Kamu bisa nemenin aku kan dateng kesana?"

"Acaranya jam berapa?"

"Disuruh ikut akad nikahnya jam sembilan. Hari sabtu kok."

Langit kemudian mengangguk. "Bisa. Nanti aku jemput jam delapan."

Setelah itu kami berdua sama-sama terdiam hingga sebuah pertanyaan dari Langit mampu mengembalikan perhatianku.

"Senja?" Panggil Langit.

Langit memang suka memanggil ku dengan Senja, panggilan Senja hanya langit gunakan di saat-saat tertentu.

"Kenapa Langit?"

"Gak mau nyusul temen kamu?"

Aku yang memang tidak paham dengan obrolan Langit langsung memicingkan tatapan mataku.

"Nyusul gimana maksud kamu?"

"Ya nikah gitu."

Lagi-lagi Langit membahas tentang masa depan. Apalagi kalau bukan tentang pernikahan. Aku bukannya tidak mau, hanya saja aku belum merasa siap. Aku masih merasa kurang dalam banyak hal. Bahkan aku masih ceroboh dalam mengurus diriku sendiri apalagi nanti ketika aku harus mengurus Langit.

Langit yang bisa melihat kalau aku hanya diam saja dan tidak memberikan tanggapan apapun, langsung bersikap untuk kembali menenangkan ku dengan tangannya yang sudah mengelus puncak kepalaku.

"Aku tau jawabannya apa. Tenang aja, aku gak akan maksa kamu. Kalau kamu masih butuh waktu, gapapa karena gak ada untungnya kalau aku maksa kamu."




















LANGIT SENJACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang