Sebuah Nyanyian Langit

463 96 8
                                        

Jangan lupa di play lagu nya ya..






"Jangan langsung balik ya Dit, temenin adek di dalem." Ucap Johnny ketika mereka bertiga sampai di rumah milik orang tua Johnny.

"Duluan aja gue mau masukin mobil takut diomelin Ayah." Tambah Johnny.

Langit mengangguk dan langsung merangkul bahu Senja untuk masuk ke dalam rumah. Langit sama sekali sudah tidak merasa canggung ketika datang ke rumah ini karena keluarga Johnny menganggap dirinya juga bagian dari keluarga ini terlebih lagi dengan status nya sebagai kekasih dari Senja.

Begitu mereka masuk ke dalam rumah, Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang tamu depan. Raut wajah keduanya benar benar sangat merasa khawatir dengan keadaan Senja.

"Ayah, Ibu.." Panggil Senja.

Ibu langsung memeluk Senja dan juga menangis bahagia karena masih bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak gadisnya.

"Senja kemana aja nak? Ayah, Ibu sama abang khawatir begitu tau Senja gak ada." Ucap Ayah sambil mengelus rambut Senja.

"Maafin Senja Yah."

Ibu menggeleng kemudian mengelus wajah anak gadisnya dengan penuh rasa sayang. "Bukan salah anak gadis Ibu yang cantik ini, tapi Senja harus janji sama Ibu gak boleh pergi tinggalin rumah tanpa pamit lagi."

Senja mengangguk. "Senja sayang Ibu."

"Iya sayang, Ibu juga sayang banget sama Senja."

Ayah pun yang memandangi pemandangan tersebut sempat menitikan air mata kemudian beralih pada Langit yang berada di sebelah nya.

"Terima kasih nak Langit sudah membawa Senja kami kembali."

Langit mengangguk. "Sama-sama Yah."


Setelah makan siang bersama, kini Langit dan juga Senja sedang bersama di dalam kamar milik Senja. Duduk berdua melihat hujan turun yang begitu deras dari balik kaca jendela.

Tangan milik Langit terus menerus mengenggam milik Senja, seakan takut jika pemilik tangan itu akan pergi lagi.

"Langit.."

"Apa Senja?"

Langit tersenyum dan beralih menatap wajah yang selama ini sangat dia sayangi dan cintai.

"Tangan aku keringetan nih kamu pegang terus. Lepas dulu ya?"

Langit menggeleng. "Nanti kamu pergi lagi."

Langit tidak bohong jika dirinya merasa takut kalau suatu saat nanti Senja akan pergi dan meninggalkan dirinya kembali.

"Gak akan. Aku disini sama kamu." Balas Senja sambil tersenyum.

Sebenarnya sejak tadi Langit sangat ingin mengetahui apa penyebab yang membuat Senja pergi dari rumah nya, tetapi hal itu ia urungkan ketika melihat senyum milik Senja. Langit tidak mau merusak hingga kehilangan senyuman itu.

"Oh iya dari tadi aku penasaran kenapa kamu banyak banget tempelin post it?" Tanya Langit.

Senja memang sengaja menempelkan beberapa post it di dinding atas tempat tidur nya.

"Kamu liat?"

Langit mengangguk. "Sempet aku baca juga beberapa tapi gak semua."

Senja mendengus, "Curang."

LANGIT SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang