Sepulang nya Senja ke rumah sejak tadi yang ada dipikirannya hanya tentang Langit dan Natasha, dan juga kenapa Langit harus sampai berbohong seperti ini. Langit memang sejak tadi terus menerus mengirimi Senja pesan yang hanya dibiarkan begitu saja oleh Senja.
"Kok murung gitu anak Ibu?" Tanya Ibu Senja pada anaknya yang memang sudah terlihat murung sejak sampai di rumah.
Senja menggeleng, "Gapapa bu cuma cape aja banyak yang harus dikerjain."
"Semangat dong anak Ibu, oh iya abang udah kasih tau Elina kalau abang mau pulang hari ini?"
Senja yang mendapat kabar kalau sang Kakak akan pulang hari ini langsung merasa terkejut pasalnya memang Johnny tidak memberitahukan apapun padanya.
"Ih kok abang gak kasih tau aku sih bu? Jahat banget sama adeknya." Protes Senja.
Senja langsung mengeluarkan ponsel berwarna hitamnya yang ada di dalam tas, berniat untuk meminta penjelasan dari Johnny tetapi Ibu nya langsung menahan pergerakan tangan Senja.
"Jangan di telepon, abang udah di pesawat."
"Tuh kan, beneran deh nanti sampe rumah aku mau ngambek aja lah sama abang."
Ibu Senja hanya bisa tertawa pelan mendengar seluruh protes yang dikeluarkan anak bungsunya, tidak sabar menanti rumah akan kembali ramai dengan suara teriakan dari kedua anaknya nanti.
"Yaudah aku ke atas ya bu mau tiduran dulu, cape banget." Pamit Senja yang langsung diangguki oleh sang Ibu.
Tidak terasa Senja benar-benar merasa sangat terlelap ketika mendapati jam sudah menunjukan pukul lima sore, ketika Senja ingin menuju ke lantai bawah tidak sengaja terdengar beberapa candaan yang dilontarkan sang pemilik suara yang sangat Senja kenali.
"Tuh putri tidur nya udah bangun." Ucap Ibu Senja ketika melihat anak bungsunya menuruni tangga.
"Tadi Langit teleponin kamu, dia gak tau kamu udah tidur dari siang."
Langit yang disebut namanya langsung tersenyum dan mengarahkan tangan kanan nya untuk menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Senja untuk duduk di tempat itu.
"Aku bawain bakso kesukaan kamu tuh, sana dimakan dulu atau mau aku ambilin?" Tawar Langit.
"Yaudah kalian berdua dulu deh Ibu mau siapin makanan buat Ayah dulu." Pamit Ibu Senja.
Langit sejak tadi melihat Senja yang terus menerus diam tidak bereaksi apapun atau menanggapi tawaran yang Langit ajukan tadi.
Langit beralih mengenggam tangan kanan milik Senja, "Kenapa? Mukanya kok murung sih?"
Senja beralih untuk menatap Langit.
"Mau cerita?"
Senja mengangguk kemudian menarik tangan kanan Langit menuju halaman belakang rumahnya.
"Kenapa sih Senjaku ini kenapa, hm?" Tanya Langit ketika mereka sudah berada di halaman belakang.
"Tadi aku pergi ke mall sama Calista.."
Langit menangguk seraya masih setia mendengarkan lanjutan cerita dari Senja.
"Gak sengaja liat kamu sama Natasha, awalnya aku kira itu bukan kamu terus aku coba tanya ke kamu tapi jawaban kamu ternyata lagi di kantor."
"Berarti aku salah liat kan, Langit?" Tanya Senja sambil memandang wajah Langit yang sekarang tepat berada di depannya.
Langit menghembuskan nafasnya pelan, dan ternyata tentang masalah ini yang sampai mengganggu kenyamanan gadisnya ini.
"Yang kamu liat itu memang beneran aku,"
"Aku minta maaf."
Senja tidak menduga kalau kalimat tersebut akan keluar dari mulut Langit, laki laki yang sudah dipercaya nya setelah dua tahun lalu.
"Natasha yang paksa aku untuk temenin dia cari sesuatu untuk Mami nya, awalnya aku gak respon tapi dia datang sendiri ke kantor aku pas jam makan siang. Dia datang dan dilihat sama temen-temen aku, aku malu jadi mau gak mau aku terima ajakan Natasha."
"Aku gak bilang ke kamu karena aku tau reaksi kamu pasti bakalan kaya gini, tapi aku beneran minta maaf sama kamu."
Langit kemudian melanjutkan ucapan nya. "Kamu boleh marah sama aku."
"Mau marahan dulu?"
Senja yang mendengar hal tersebut kemudian langsung memukul lengan atas Langit. "Langit.. kamu nih."
"Apa lagi sayang? Aku beneran gapapa kalo kamu mau marahan dulu."
Berbeda dengan ekspektasi nya, Langit malah mendapat pelukan hangat dari Senja. Gadis itu memilih untuk memeluk erat Langit ketimbang marah dengan Langit.
Langit kemudian membalas pelukan tersebut dan tidak kalah erat nya. "Jadi... marahan gak nih?"
"Gak tauuu, aku kesel sama kamu tapi gak mau marahan."
Langit tersenyum karena merasa gemas pada sikap Senja barusan.
"Senja nya Langit harus bahagia terus," Ucap Langit setelah mendaratkan sebuah ciuman di dahi Senja.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT SENJA
FanfictionLangit butuh senja agar terlihat indah. Senja pun butuh langit sebagi tempatnya.
