❤Alam Lain

2.5K 174 59
                                        

Malam itu terasa sangat panjang. Ngobrol ngalor ngidul sama retno. Aku seperti dibawa ke masa lalu. Tapi diluar rumah besar ini terasa aneh. Mendungnya begitu hitam, lantainya tak terlihat oleh mata karena tertutup kabut tebal ntah dari mana.  Beberapa bayangan pohon menjulang tinggi. Pandangan setiap orang seperti boneka. Tak berkedip sekalipun.

Dari jauh kulihat seseorang berdiri dengan pakaian serba hitam. Wajahnya menyala terang namun tak jelas siapa dia. Seperti memancarkan sinar lampu terang sekali. Aku jalan perlahan mendekatinya. Dia sama sekali tak bergerak hanya berdiri menghadapku. Ada sosok yang familiar dari kejauhan. Seseorang yg sangat aku kenal.

" elga ". Ucapku lirih. Aku mempercepat jalanku menuju kearahnya. Elga adalah seorang teman dikampusku dulu yg menghilang tanpa kabar. Ada sesuatu tentangnya yg dari dulu masih jadi rasa penasaranku.

" elen !!". Terdengar suaranya memanggilku. Dia melambai kearahku.

Bug !!! Aku terjatuh tersandung akar pohon. Lalu terseret kebelakang

" elgaaaaa !!!!". Teriakku padanya.

" len.. sadar!!!". Bentak arga memegangi kakiku saat aku berusaha merangkak menuju hutan. Aku terbangun.

" cuma mimpi ". Kataku melihat arga dan hariz ngos ngos an.

" km mau kemana tadi.. lain kali jangan jalan dihutan sendirian!". Kata hariz membuatku bingung.

" jalan?" Tanyaku masih bingung.

" iya kamu jalan ntah keman tadi.. aku sama arga ngejar km sampai km ilang ilangan". Kata hariz dengan muka kucel masih ngos ngos an.

" km habis ngapain ?". Tanyaku heran. Bisa sampai keringetan dan capek gitu kayaknya.

" aku sama arga gantian gendong km dari jauh sana sampai kesini lagi ". Kata hariz menjelaskan dan masih tak masuk akal bagiku. Dia lalu terbaring deket api unggun yang dari tadi masih menyala.

" sekarang aku mau istirahat.. capek km berat banget len!!". Ucapnya sambil meregangkan tangan dan kaki.

" kenapa km manggil2 elga?". Tanya arga membuatku terhenyak.

" aku melihatnya.. melambai di tengah hutan". Ucapku termenung memikirkan kejadian barusan.

" bukan dia yg membawamu, tapi ratu ditempat ini. Dia seperti puteri dengan mahkota dan gelang di lengannya". Ucap arga menjelaskan. Apa yg dilihat sama seperti yang kulihat tadi. Arga terlihat tersenyum sinis sekilas.

" kenapa?". Tanyaku heran.

" dia masih menjagamu meski dari kejauhan". Jelasnya membuatku merinding. Punya teman yang setia itu menakjubkan. Tapi kalo temannya seperti elga dengan ilmu nya yg sampai sekarang masih ga masuk akal bagiku itu agak ngeri.

" sepertinya mereka memanfaatkan alam bawah sadarku". Ucapku menduga duga.

" tapi bukan elga". Jawab arga tegas.

" Elga tak mungkin direfleksikan. Aku merasa dari kita berangkat memang kita diikuti". Tegas arga lagi sangat yakin.

Kulihat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Terlihat hariz sudah tertidur. Dira masih diposisi yg sama. Aku mendekatinya, memastikan dia tidak apa apa. Dari jarak dua meter tercium bau wangi sekali. Ada hawa dingin menyeruak tiba tiba.

" dir.. dira ..". Panggilku lirih. Perlahan aku mendekat lagi. Kusentuh bahunya. Badannya terasa dingin.

" dir...". Panggilku lagi namun tak ada respon. Dia hanya duduk seperti mematung.  Aku perlahan berdiri dari sampingnya dan berjalan memutari galian didepannya. Menghadap dira melihat apakah dia baik baik aja. Kedua matanya terbuka dengan mulut berbicara tapi tak mengeluarkan suara. Kedua matanya hitam semua. Aku terhenyak sampai mundur beberapa langkah.

The Final ChapterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang