Belva baru saja keluar dari perpustakaan setelah mengembalikan buku yang dia pinjam tempo hari. Bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu sahabatnya sudah keluar dari perpustakaan untuk pergi ke kantin sedangkan dirinya baru ingin pergi ke kantin untuk menyusulin sahabatnya itu.
Gadis dengan rambut yang dicepol asal itu mengedarkan pandangannya mencari kedua sahabatnya yang entah ada dimana? Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar saat tak kunjung juga menemukan kedua sahabatnya.
Karna di kantin sahabatnya itu tidak ada. Gadis itu berbalik pergi meninggalkan kantin untuk kembali ke kelasnya saja, namun tiba-tiba....
"Eh"ucap Belva kaget saat ada yang menabraknya sehingga dia jatuh ke lantai.
Cowok yang menabrak Belva tadi hanya diam dengan kedua tangan yang di masukin kedalam saku celana. Cowok itu menatap Belva tenang seolah tidak berbuat kesalahan apapun.
"Lo nggak punya mata ya? Jelas-jelas ada orang disini malah Lo tabrak, bukannya bantuin kek Lo malah diem aja"marah belva.
"Terus?"ucapnya sambil mengangkat alisnya.
Belva mendengus kesal."Ah masa bodo lah! Berdebat sama Lo nggak guna"ucapnya sambil berteriak lalu segera berbalik hendak pergi.
Erlan menarik lengan gadis di hadapannya itu dengan sekali sentakan membuat gadis itu memekik kaget dan otomatis menghadap kearahnya.
"Lo pacar gue"ucap Erlan to the point wajahnya terlihat sangat datar.
Belva membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan sang ketua geng nggak guna itu. Apa dia udah gila pikir Belva.
"Apa-apa sih lo. Nggak jelas banget main nembak orang sembarangan aja, lagian gue juga nggak mau pacaran sama cowok kayak lo"Belva menghempaskan tangan Erlan yang masih di lengannya dengan kasar.
Erlan mengangkat bahunya acuh."Gue nggak nanya sama Lo, mau atau nggak?"cowok itu menatap gadis itu dengan datar."You Are Mine Belva Victoria"lanjutnya.
"Gue. Nggak. Mau"ucap Belva penuh dengan penekanan sambil mendorong dada bidang Erlan dan pergi dari koridor tersebut.
"Liat aja gue bakal buat Lo jatuh cinta sama gue Belva, bagaimana pun caranya"ucapnya yang melihat Belva sudah pergi menjauh sambil tersenyum miring.
Sesampainya di kelas Belva langsung duduk di bangkunya sambil mengomel tidak jelas.
"Ihhhh! Apaan sih tuh orang nggak jelas banget"gerutu Belva.
"Belvaaaaaaaa!!!"teriak kedua sahabatnya saat memasuki kelas.
"Kalian apaan sih teriak-teriak"sebal Belva.
"Belva! Lo jawab pertanyaan kita dengan jujur! Lo beneran jadian sama Erlan? Lo kan benci sama dia? Kok bisa? Cerita dong"tanya Mira bertubi-tubi.
"Belva, gue nggak suka ya Lo jadian sama sih Erlan itu. Dia itu bukan cowok baek-baek dia itu anak geng motor pasti musuhnya dimana-mana, pokonya gue nggak suka"ucap Naya panjang lebar.
Belva menggeram kesal karna sedari tadi kedua sahabatnya itu tak henti-hentinya berceloteh membuat dia ingin sekali menyumpal mulut mereka dengan sepatu miliknya.
"Gak... Gak... Gue nggak pacaran sama dia puas Lo semua"teriaknya nyaring.
"Tapi kok gosip udah beredar ya kalo Lo jadian sama Erlan. Gimana sih ceritanya"ucap Mira tak percaya.
"Terserah Lo ya mau percaya sama gue atau nggak yang penting gue nggak merasa jadian sama dia. TITIK"ucap Belva.
Saat Mira ingin bertanya lagi tiba-tiba guru matematika datang dan mereka kembali ke bangkunya masing-masing.
~~~~~~°°°~~~~~~
Erlan dan anggota XTC masih betah untuk berdiam diri di kantin padahal bel tanda istirahat sudah berbunyi dari setengah jam yang lalu. Mereka masih asik bercanda ria dan memakan makanan mereka masing-masing.
Wajah tampan Erlan terlihat sangat tenang seolah dirinya tidak melakukan apapun padahal pada saat jam istirahat tadi dia telah membuat hati seluruh siswi SMA merah putih patah hati karna telah mengklaim seorang Belva Victoria sebagai kekasihnya.
"Woyy!!"Dimas berteriak dari pintu masuk kantin membuat seluruh anggota XTC menatapnya.
Dia mendekat kearah meja XTC dengan sedikit berlari."Sumpah ya, gue ketinggalan berita apaan?"ucap nya saat sudah berada di hadapan anggota XTC.
Dimas baru saja kembali setelah bertanding futsal dengan sekolah lain. Walau terkenal nakal dan playboy, tetapi dia merupakan murid kebanggaan sekolah karna kerap sekali membantu tim futsal SMA merah putih memenangkan berbagai pertandingan.
Sesampainya di sekolah. Dia hendak pergi ke ruangan futsal dan mengganti pakaiannya namun niatnya dia urungkan saat mendengar banyak siswi yang bergosip seraya menyebutkan nama Erlan membuat tingkat penasarannya naik dan segera mencari anggota XTC.
"Ketinggalan banyak banget mas. Lo sih mas, pergi bertahun-tahun nggak balik-balik nggak kasian apa sama anak yang bi marfuah kandung"sahut Adit dramatis.
Dimas mendengus kesal, lalu segera melayangkan tangannya untuk memukul kepala Adit membuat sang pemilik kepala meringis dan langsung mengusap kepalanya.
"Lan? Banyak yang ngomong katanya Lo jad-"
"Ya"sela Erlan datar.
"ANJAY! SAMA SIAPA?"tanyanya dengan nada suara yang meninggi tanda bahwa dia sangat terkejut.
Erlan hanya diam tidak berniat menjawab dan lebih memilih memainkan ponselnya membuat Dimas di dalam hati menyumpah serapah Erlan yang notabennya sebagai sahabatnya itu.
Dimas beralih menatap Adit. Tatapannya seolah meminta jawaban tapi yang Adit lakukan hanya mengangkat bahunya acuh dan tidak perduli dengan raut wajah Dimas yang sudah sangat kesal.
"Akh! Gue mau ke ruang futsal aja"ucap Dimas frustasi, lalu segera melangkah menjauh dari geng XTC.
🎀
Jangan lupa vote sebanyak mungkin dan komentar di bawah ini 👇👇
Next?????????????????

KAMU SEDANG MEMBACA
Belva&Erlan
Teen FictionErlan menarik lengan gadis di hadapannya itu dengan sekali sentakan membuat gadis itu memekik kaget dan otomatis menghadap kearahnya. "Lo pacar gue"ucap Erlan to the point wajahnya terlihat sangat datar. Belva membulatkan matanya sempurna mendengar...