Penghujung sore kali ini. Di atas balkon dengan beralaskan kursi panjang. Aku terduduk sendirian. Hanya menikmati sepi, menatap langit sore ketika senja sudah melihatkan lukisan terindahnya.
Nafasku berembus teratur mengikuti semilir angin. Embusan halus itu membuat rambutku yang tergerai panjang berayun mengikuti angin.
ayahku sangat menyukai senja. Menurutnya senja itu selalu indah. Suatu keindahan yang nyata walaupun sekejap dikagumi datangnya. Oleh sebab itu ayah menamaiku Senja, selalu menyenangkan dan menenangkan ketika dipandang.
Nama yang indah bukan? Tapi, kenapa ayah berbohong? Dia tak pernah menatapku, memperhatikanku, bahkan kasih sayangnya hanya bayangan semu untukku.
hanya bisa terdiam tanpa mampu membantah.
hanya bisa menerima tanpa mampu melawan.
hanya bisa mendengar tanpa mampu berbicara.
Faktanya aku memang seperti itu, bukan hanya kata-kata kiasan maupun perandaian karna aku memang benar-benar tak bisa berbicara atau bisu..
***
"Non senja tuan sudah pulang, waktunya makan" ujar mbok mina yang membuyarkan lamunanku.
Aku hanya menganggukkan kepala dan segera turun ke ruang makan sebelum ayah marah. Di sana aku meliat ayah sedang duduk menyantap makanannya tanpa menungguku terlebih dahulu. Selalu seperti itu.
Sesampainya di sana aku dibantu mbok mina untuk duduk berhadapan dengan ayah, dan mbok mina berdiri di sampingku kalau-kalau aku ingin sesuatu pasti di ambilkannya.
"Non senja, makan yuk cantik" bujuk mbok mina ketika aku belum juga membalikkan piring yang ada di depanku.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban, yang aku lakukan sekarang hanya menatap ayah, aku berharap yang berbicara itu adalah ayah dan senantiasa membujukku dengan lembut.
Hanya permintaan sederhana dari anak berusia 6 tahun ini, tapi rasanya sangat sulit untuk di ucapkan.
"Ayo non nanti ayah marah" ujar mbok mina berbisik di sampingku karna jelas di situ masih ada ayah.
Sontak mendengar itu aku menoleh ke arah mbok mina sambil menahan tangis. Ingatan anak kecil tentu kuat. Tepatnya 3 hari yang lalu ketika aku menolak untuk makan dan tak sengaja menjatuhkan makanan ayah marah besar sampai membanting pintu dengan keras.
"Apa kamu tidak diajarkan untuk menghargai makanan?" Ujar ayah dingin sambil melihat tajam ke arahku.
Tatapan itu sangat aku benci, meski hampir setiap hari aku mendapatkannya aku tetap takut dan sangat ingin menangis. Aku benar-benar merindukan nenek sekarang.
"Jangan menangis!" Ujar ayah keras ketika aku tak sengaja Meneteskan air mata.
Lalu kulihat ayah mengalihkan pandangannya ke mbok mina.
"Ambil makanannya sekarang!" Bentak ayah keras dan mbok mina langsung bergegas menyiapkan makanan untukku.
"Berikan padaku makanannya, dan kamu bisa pergi ke belakang" ujar ayah sambil meraih piring makananku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bad girl - pcy
Fanfiction"Perubahan itu menyakitkan, Ia menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, dan marah. Orang menginginkan hal seperti sediakala, karena mereka ingin hidup dengan mudah"