setelah kejadian mengejutkan tadi, eunha kini sedang meringkuk di pelukan ayahnya dengan tatapan kosong. sebelumnya ia sempat berteriak teriak mencari sang ayah saat baru saja siuman dari pingsan.
suho hanya bisa diam sambil mengelus rambut sang anak, tidak bisa bertanya lebih banyak melihat kondisi putrinya saat ini. yang bisa ia lakukan hanya menunggu chanyeol dan mendengar penjelasannya.
sedangkan disisi lain rose tersenyum remeh saat mendengar sedikit percakapan chanyeol saat di hubungi oleh suho tadi.
jelas rencananya berhasil, dan saat mendengar sedikit bentakan di seberang sana, rose semakin senang ternyata semuanya berjalan melebihi ekspektasi awal yang ia kira eunha hanya akan marah pada chanyeol.
dan saat chanyeol beranjak pergi, rose mendapat notifikasi dari ponselnya yang berisi data diri eunha dan semua yang berkaitan dengan eunha dari a-z
senyumnya semakin lebar saat melihat riwayat psikis eunha, dan secara otomatis banyak hal yang ia rencanakan dikepalanya tetapi saat melihat latar belakang keluarga eunha, rose harus lebih hati hati.
bukan tanpa alasan rose melakukan ini semua, ia merasa tuhan tidak adil. sang ibu yang bersalah atas kematian kakaknya, tapi ia yang akhirnya menanggung semuanya.
awalnya setelah kepergian sang kakak semua berjalan baik baik saja, sampai ibu mulai kehabisan uang dan gila karena terlilit hutang dan tidak bisa mengikuti kegiatan menghambur hambur kan uang dengan rekannya.
untung saja ayahnya bersedia membantu dengan syarat setelahnya tidak ada hubungan apa apa lagi dan jangan mengusik kehidupan antara dirinya dan keluarga barunya.
sembari menunggu chanyeol datang, sebenarnya suho sedang memikirkan satu hal sedari tadi. ia merasa eunha harus mulai menemui kembali dokter yoona selaku psikiater dan psikolog yang menanganinya.
mudah bagi suho untuk mengetahui semua tentang eunha, ia bahkan sudah pernah bertemu langsung dengan dokter yoona untuk menanyai keadaan . eunha punya riwayat depresi yang cukup parah bahkan beberapa kali mencoba untuk mengahiri hidupnya, ia tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa obat.
walaupun suho tahu sebenarnya eunha sudah mulai membaik dan bisa melepas semua obat obatan itu, tapi melihat kejadian hari ini ia takut bahwa keadaannya sekarang merupakan dampak dari depresi yang eunha alami dulu bahkan lebih buruk.
tok tok tok
perhatian suho langsung menuju pintu kamarnya yang sedang diketuk dengan tidak sabaran, pasti itu chanyeol yang datang. tidak langsung mempersilahkan chanyeol masuk, suho menoleh terlebih dahulu pada eunha.
"adek, itu kayaknya chanyeol mau ketemu sekarang?" tanya suho lembut sembari mengusap telapak tangan kanan eunha yang dibalut perban.
eunha menatap suho dengan matanya yang berkaca kaca lalu mengangguk pelan, suho lantas membaringkan eunha perlahan dan menyelimutinya lalu beranjak untuk memanggil chanyeol.
pintu pun terbuka memperlihatkan wajah chanyeol yang terlihat sangat khawatir, suho hanya bisa menghela nafas pelan ini bukan saatnya ia marah pada chanyeol.
"masuk, eunha gak bisa ditinggal lama nanti setelah eunha tidur ada yang mau om bicarakan" ujarnya lalu beranjak pergi.
chanyeol masuk perlahan ke dalam kamar tersebut lalu ia bisa melihat eunha dengan tatapan yang sulit diartikan dan keadaan yang tidak bisa dibilang baik baik saja.
perhatian chanyeol teralihkan pada tangan eunha yang dibalut perban cukup tebal, seketika pertahanannya runtuh ia terisak pelan sambil berlutut di samping eunha. dengan perlahan tangan chanyeol ingin meraih tangan eunha tapi sekakan tidak mau menyakitinya chanyeol hanya mengepalkan tangannya.
chanyeol menunduk dalam, rasa bersalah di hatinya begitu besar. tangan itu tangan yang menurutnya sangat berharga menghasilkan berbagai gambar pakaian yang selalu eunha tunjukan dengan bangga padanya, tangan itu pula yang membuatkannya kemeja pertama setelah eunha belajar menjahit.
selama ini chanyeol sangat melindungi itu bahkan iya tidak memperbolehkan eunha melalukan pekerjaan dapur karena takut tangannya terluka, sedangkan sekarang luka itu timbul karna dirinya.
"maaf, maafin aku..." ujar chanyeol pelan sedangkan eunha melihatnya dengan bibir bergetar menahan tangis.
"peluk" kata itu meluncur pertama kali dari mulut eunha dengan suara seraknya yang membuat chanyeol langsung mengangkat kepalanya.
perlahan eunha menggeserkan tubuhnya memberi isyarat agar chanyeol bergabung dengannya dan tentu saja chanyeol bangkit dan ikut membaringkan diri dan merengkuh eunha pada pelukannya dengan hati hati.
"chan, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya eunha yang langsung diangguki oleh chanyeol sambil tangannya yang tidak berhenti mengelus kepala eunha memberi ketenangan.
"tentu" jawab chanyeol
"berhenti jadikan aku prioritas ka-" sebelum eunha menyelesaikan ucapannya chanyeol langsung menyela dengan gelengan cepat.
"enggak, maafin aku sayang jangan kayak gini perkataan kamu nyakitin aku" ujar chanyeol dengan suara seraknya sambil mengeratkan pelukannya.
eunha mengangkat kepalanya untuk menatap mata chanyeol dan meraih tangan chanyeol untuk diletakkan di atas dadanya.
"di sini juga sakit chan, rasanya sangat sesak ketika kamu bohong. aku takut dikecewakan, aku takut kamu pergi di saat aku benar benar tidak bisa ditinggalkan, aku takut tak bisa bangkit, aku takut tidak bisa bertahan untuk semuanya, banyak ketakutan di sini sekarang..." jeda eunha sebentar sambil menundukkan kepalanya
"jadi sebelum rasa takut itu terjadi, berhenti jadikan aku prioritas kamu chan agar aku terbiasa mulai sekarang jika kamu ingin pergi pun aku akan belajar menerima" lirih eunha sambil melepaskan pelukannya dan langsung berbaring membelakangi chanyeol.
chanyeol mematung tangannya mengepal kuat dan sorot matanya tidak bisa berbohong, di sana terlihat ketakutan yang sama dan rasa bersalah yang sangat besar. chanyeol tidak menyangka ucapan tersebut akan keluar dari mulut eunhanya.
ini bukan lagi karena masalah sepele soal kecemburuan atau lainnya. Chanyeol sadar ia sudah menyakiti gadisnya terlalu jauh, ia memulai semua dengan kebohongan yang tujuan awalnya agar tidak memberi beban pikiran pada eunha malah berbalik memberi luka.
...
huhu aku baru balik lagi setelah sekian lama sibuk dengan segala urusan masuk PTN impian yang nyatanya gagal:( tapi aku bersyukur disisi lain aku juga dimudahkan untuk masuk poltekkes yang lebih dapat dukungan dari ortu tentunya masih negeri juga haha.
intinya aku sekarang udah jadi maba poltekkes huhu calon bu bidan nehh.
yok ini partnya sedikit menguras esmossi ya wak sabarr ntar kalo rame aku update cepet okeee dan apa kapal ini akan karam???

KAMU SEDANG MEMBACA
Bad girl - pcy
Fanfiction"Perubahan itu menyakitkan, Ia menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, dan marah. Orang menginginkan hal seperti sediakala, karena mereka ingin hidup dengan mudah"