Mainan

67 12 0
                                    

Bang Jeje : han cewe yag kemaren kemaren lo pilihin menel bener anjrit

Hanna : Lah mana gue tau

Bang Jeje : baru gue ajak jalan sekali udah glendat glendotan,hidiih

Hanna : Wkkwwkwkwkwkwkk

Bang Jeje : ayuk main

Hanna : Modus lo , bilang aja minta dipilihin cewe lagi

Hanna : Udah gue bilang , gue tiap milihin cewe di kontak lo tuh cap cip cup

Bang Jeje : ayuk boba yukkk

Hanna : Jempuuuttt

Bang Jeje : kampus kan?

Hanna : hooh

"Han mau kemana lo ?" Mika menarik ransel Hanna dari belakang.

"Balik lah"

"Besok jalan yok, anak-anak ngajak. Udah lama enggak kumpul katanya" Hanna hanya menjawab dengan gumaman.

Langkah Hanna terhenti ketika lihat sosok lelaki yang ada didepannya. Hanna berusaha jalan sambil menundukkan pandangan agar lelaki itu enggak panggil namanya. Meskipun Hanna enggak yakin juga akan dipanggil.

"Eh Hanna" gagal. Langkahnya terhenti ketika Tirta, lelaki yang selama ini Hanna sukai sejak KKN semester 5 nya itu menyapanya.

Hanna tersenyum singkat "eh iya Tirta".

Mika memperhatikan gerak-gerik Hanna dan Tirta dari belakang punggung Hanna. Mika pernah jadi tempat Hanna curhat mengenai dirinya yang suka dengan Tirta. Dulu, Mika aktif di organisasi kampus. Tirta juga kebetulan masuk organisasi kampus, namun organisasi yang berbeda dengan Mika. Jadi Mika sedikit tau tentang Tirta.

"Mau kemana Han ?" tanya Tirta menghalangi jalan Hanna.

"Hmm itu mau pulang lah" jawab Hanna sedikit kikuk.

"Yaudah duluan ya" Hanna melambaikan tangan. Tirta hanya tersenyum melihat kelakuan Hanna. 40 hari KKN membuat Tirta udah biasa dengan kelakuan Hanna yang memang sedikit absurd.

Hanna berjalan dengan gontai ke gerbang kampus. Menyesali pertemuannya dengan Tirta "Duh gusti senyumnya, anjrit lah gedek gue. Sedih banget sih jadi gue, cuma dianggap remahan rengginang kali ya sama dia" gumam Hanna dalam hati.

"HANNA ! WOY HANNA !!" Hanna enggak sadar kalau dia udah lewat dari gerbang kampus. Ternyata Bang Jeje dari tadi udah sampai dan sengaja enggak panggi dia karena mau liat aja sejauh mana Hanna jalan.

"Lah gila dari kapan lo ?" tanya Hanna sambil menerima uluran helm dari Bang Jeje.

Bang Jeje mendengus "Dari lo keluar dari pintu utama kampus"

Hanna hanya cengengesan "Sorry sorry"

Bang Jeje hanya memicingkan bola matanya. Perjalanan ke kafe yang biasa mereka datangi kali in diiringi dengan keheningan. Biasanya mereka berdua selalu bercanda atau enggak bahas tentang skripsi Hanna yang enggak menemui titik akhir.

Sesampainya di kafe mereka baru ribut mau duduk dimana. Udah biasa.

"Pojok aja noh" tunjuk Hanna.

"Sini aja deket pintu" tolak Bang Jeje.

"Eleh bilang aja lo mau liat kucing betina"

"Adem Han"

"Heh ucup dimana-mana juga adem ini kafe pake AC. Kelamaan jadi buaya otak lu berkarat ya"

Ngalah aja buaya yang satu ini dengan Hanna. Udah kehabisan kata-kata pokoknya debat dengan Hanna.

"Kenapa lo ?" tanya Bang Jeje to the point saat mereka udah duduk dipojokan sesua permintaan Hanna.

"Hmm ?" Hanna menaikan alisnya.

"Galau ? Skripsi ? Atau Tirta ?" tepat sekali pertanyaan Bang Jeje yang satu ini.

Hanna memajukan bibir bawahnya "ketemu tadi, nyapa gue dia, senyum, ambyar terus" Bang Jeje menaikkan sebelah alisnya. Hanna kalau udah berantakan gitu ngomongnya berarti Bang Jeje berpikir dulu sebentar untuk bisa mengerti.

"Ah iya" gumam Bang Jeje.

Bang Jeje mulai menghela napas "kalem dong, orang baik kan emang selalu baik pada siapapun"

"Ck, iya ya. Yaudah deh" mood Hanna memang paling absurd. Untung Bang Jeje tahan banting jadi lelaki.

"Udah pesen ?" tanya Hanna.

"Eh belom anjir dari tadi nunggu mood lo comeback" Hanna udah siap kasih tinju terbaiknya tapi dengan gesit Bang Jeje langsung pergi pesan minumnya.

Agak lama sekitar 15 menit nunggu, akhirnya Bang Jeje datang dengan dua gelas boba ditangan.

"Lama banget" keluh Hanna.

"Rame" jawab Bang Jeje.

"Bang"

"Hmm ?"

"Sampai kapan sih lo bakal jadiin cewe-cewe yang ada di kontak hape lo itu mainan ?" Hanna mulai bicara serius.

Bang Jeje menaikkan sebelah alisnya. Selama ini Hanna enggak pernah komentar tentang kelakuannya yang suka modusin cewek sana-sini. Hanna juga gak pernah peduli Bang Jeje mau jalan sama cewek yang mana.

"Kenapa deh lo" tanya Bang Jeje akhirnya.

"Ya lo tuh seenaknya gitu ya mainin perasaan cewek"

"Gue gak ada maksud gitu Han" jawab Bang Jeje "Gue kan emang cuma temenan aja sama mereka semua" dari dulu juga Bang Jeje bilangnya begitu.

"Ya tapi Bang perasaan cewek gitu loh emang lo ngerti ?"

"Lah merekanya juga biasa aja Han, sama aja kok anggap gue temen doang"

"Coba gue tanya ya sama lo, udah berapa banyak cewek yang baper sama lo ?" Hanna gak mau kalah argumen.

Bang Jeje berpikir sejenak "Ya ada sih, tapi gak semua"

"Ya berarti lo udah mainin perasaan mereka, buaya" tunjuk Hanna.

"Sekarang gini aja deh, gue kan dari awal cuma ajak mereka main-main biasa aja, jalan. Gimana sih biasa gue temenan aja sama sekali enggak nunjukkin ketertarikan. Ya itu salah mereka kalau baper" Bang Jeje enggak mau kalah.

"Ck, gila lo" Hanna geleng-geleng enggak ngerti dengan jalan pikiran Bang Jeje

"Kalau lo ?" tanya Bang Jeje.

"Gue ?" Hanna menunjuk dirinya sendiri "Ada apa sama gue ?"

"Lo ngerasa jadi mainan enggak buat gue ?"

Teman (Katanya)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang