Kutu Buku

1.1K 80 1
                                        

Sepanjang perjalanan pulang, Sherly tak berhenti menceramahi Lana. Ceramah panjang yang mengharuskan Sherly membuka kaca helm-nya dan setengah berseru pada Lana di boncengannya itu kurang lebih berjudul "Pentingnya Komunikasi dengan Keluarga dalam Keadaan Darurat atau Berbahaya Sebagai Bentuk Tindakan Preventif Akan Risiko Lebih Lanjut". Itu kalau diberi judul.

"Emang tadi aku masih ada rapat, jadinya HP dimatiin. Tapi kamu ya mikir dikit dong, kalau ada kecelakaan kayak gitu tuh harusnya telfon Ayah atau Ibu. Ntar kalo sampai rumah Ibu nuduh-nuduh aku nggak jagain kamu gimana coba?? Mana kamu nggak pernah bela aku lagi! Emangnya nomorku itu cuma satu-satunya di HP kamu? Nomor Ayah sama Ibu nggak penting??"

Lana tidak menjawab. Bukan karena dia bosan diceramahi, bukan juga karena dia merasa menyesal.

Tapi karena kesadarannya tertinggal di ruang dr. Mariana bersama Abyan. Entah kenapa, rasanya tubuhnya diparuh menjadi dua, setengah di boncengan Sherly, setengah masih duduk di samping Abyan. 

"Mana kamu periksa ke dokter Mariana nggak bilang-bilang Ayah-Ibu lagi, jadinya aku harus bayar x-ray kamu. Pokoknya kamu hutang ke aku, hutang penjelasan ke Ayah-Ibu, hutang uang ke aku juga!" 

Lana menengadahkan kepalanya menghadap angkasa. 

"Kalau begini tuh nggak cuma kamu doang yang susah, aku lebih susah. Gimana kalau Ayah sama Ibu belum siap buat operasi kamu, coba? Biaya operasi skoliosis Kakek tiga tahun lalu aja bikin jantungan, belum lagi biaya obat jantungnya, sekarang kamu harus operasi," Sherly terus mengomel tanpa henti. Diam adalah saat yang langka bagi Sherly. Sherly bukan Sherly kalau tidak mengomel. Bukannya dia marah dan sebal karena sebentar lagi uang keluarganya akan terkuras lebih dalam karena operasi Lana, tapi dia marah karena kebiasaan adiknya yang selalu menganggap enteng 'keadaan darurat bahaya potensial' kumat lagi. 

Semua kata-kata Sherly masuk telinga kanan Lana, keluar telinga kiri. Banyak sekali yang telah terjadi selama satu setengah jam terakhir. Kecelakaan bis, wajahnya kena luka gores panjang yang membuatnya kelihatan creepy, dan diagnosis dr. Mariana yang memang creepy, bahwa lengkungan tulang belakang di bagian toraksnya sudah melampaui lima puluh derajat, dia harus segera melewati operasi menyakitkan, tapi Lana hanya memikirkan @JohnDoe. 

Wajah Abyan tersenyum disinari cahaya senja berputar-putar di kepala Lana. Lana bisa melihat dengan jelas citra mata Abyan yang menyipit di balik kacamatanya saat tersenyum, citra yang tidak memudar... hingga ia menapaki ruang tamu.

                Maka semua berujung di sini. Bersama sofa. Di depan meja mahoni dan taplak abu-abu yang kaku. Di antara wajah keras-kaku Ayah dan kerut-kerut di wajah Ibu. Dipandangi oleh Kakek yang duduk seperti pertapa di kursi rodanya, juga oleh Sherly yang bersilang tangan di dada.

                Lana duduk dengan sisi dalam lututnya saling bersentuhan. Telapak tangannya menutupi tempurung lututnya, seolah tulang-tulangnya akan terlepas seperti baut-baut yang dilempar di lantai beton. Perasaannya campuraduk antara takut, sedih, menyesal, kecewa...? entahlah. Lana sendiri tak tahu bagaimana mendefinisikan perasaan itu.

                "Oh, begitu... iya, iya... iya, terima kasih, Dokter," Ibu menekan tombol gagang telefon merah di ponselnya. Baru saja dia menelefon dr. Mariana untuk memastikan kabar yang disampaikan Sherly dua jam lalu.

                Ibu memandang Ayah.

                Ayah menerjemahkan tatapan Ibu dengan tepat.

                Ayah memandang Lana.

                Ibu memandang Lana.

Down My SpineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang