Aku di sini.
Terduduk dalam remangnya malam.
Menunduk menangisi jalan kehidupan.
Suatu harapan yang tak terwujudkan.
Kau tahu?
Hidupku penuh liku.
Namun, siapa yang peduli?
Orang-orang menganggapku terlalu banyak berkhayal.
Padahal, inilah kenyataannya.
Di mana yang terlihat tak akan sesuai.
Di mana yang terdengar tak sama.
Di mana yang terucap tak selalu benar.
Di mana... Kebohongan di mana-mana.
Ini kisahku...
Penggalan kehidupanku.
Satu sisi yang tertutupi kabut mimpi
Satu sisi yang orang anggap khayalan.
Aku...
Tak terlalu peduli.
Tapi, kadang peduli.
Namun, selalu kuingkari.
Rumit?
Tidak serumit kehidupan nyatanya.
Tidak serumit rumus jalan bahagia.
Tidak serumit mewujudkan harapan.
Ah, harapan.
Aku hanya punya satu harapan.
Di mana aku, sang bintang.
Mendapat cahaya hangat dari sang bulan dan matahari.
Bintang.
Akan lebih bahagia ketika bulan melihatnya.
Akan lebih bahagia ketika matahari membangga-banggakannya.
Akan lebih bahagia ketika mereka memerdulikan keberadaanku.
Namun, naas
Harapan akan menjadi harapan
Angan akan menjadi angan-angan
Impian akan menjadi impian
Jika takdir bertolak haluan
Maka aku bisa apa?
Meski berusaha hingga bermandi keringat pun
Tetap tak akan bisa...
Asriagustinnursania
Sansan Sania
8 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
MY DIARY
PoesíaMaaf, ya? Jika anginku membuatmu dingin. Aku bukan mentari, yang bisa membuatmu hangat. _anonim_human_
