"Berhenti menghentakkan kakimu!"
Hara diam.
"Ayolah Adam, lima hari saja, aku ingin ke Jepang, tak bisakah kau menuruti keinginan gadis yang sering kau sakiti hatinya ini?"
Adam menatap jengah Hara. Hey! Ini sepenuhnya bukan kesalahan Adam. Salah sendiri mau mendekatinya.
Sekitar dua tahun yang lalu, Adam ingin dijodohkan dengan Hara.
Awal pertemuan mereka sangatlah kacau.
Adam menolak perjodohan itu dihadapan Hara dan keluarganya, dan membuat ayah Adam sedikit tak enak dengan keluarga Hara.
Awalnya Hara juga tak begitu tertarik dengan perjodohannya dan Adam, toh ia juga tak tahu Adam itu siapa.
Hara itu cantik, pintar, namun sayangnya sangatlah manja.
Banyak lelaki yang mengejar Hara. Atau mungkin, sudah memiliki banyak mantan.
Dan Adam? Menolaknya? Hei, ini tak benar! Pasti ada yang salah!
Sejak saat itu, ia mencari tahu tentang Adam. Rasa penasarannya membuatnya jatuh akan pesona Adam. Ia jatuh sendirian.
Dan Adam yang mendapat teguran dari ayahnya agar bisa memperlakukan Hara dengan baik, hanya bisa berusaha menerima kehadiran Hara yang mengganggu hari-hari tenangnya.
Adam sudah memperingatkan Hara agar menjauh darinya kalau tak mau sakit hati. Tapi gadis keras kepala itu masih saja menganggunya.
Lalu, masih bisakah ia disalahkan jika membuat gadis itu sakit hati?
"Aku bilang tidak yah tidak!" Tegas Adam.
"Sekali ini saja. Ayolah! Please." Hara sedikit memelas menatap Adam.
"Kalau kau mau, nanti kau bisa meminta apapun kepadaku!" Lanjut Hara.
"Apapun?" Tanya Adam memastikan. Bukankah ini bagus. Bisa saja ia meminta agar gadis itu tak mengganggunya lagi. Tak apa bukan, mengorbankan lima hari waktunya untuk Hara?
"Iya, apapun! Asalkan jangan menyuruhku untuk berhenti berada di dekatmu."
Seketika, harapan Adam sirna. "Bukan apapun namanya kalau ada asalkannya!" Ujar Adam sedikit kesal.
Sedikit lagi. Air mata Hara akan jatuh.
"Baik, tiga hari!" Ujar Adam cepat.
"Yes!" Hara melompat senang. Kapan lagi, Adam mau mengabulkan permintaannya?
"Berhenti melompat! Sekarang ayo ku antar pulang." Hara mengangguk dan melangkah mengikuti Adam.
***
Hara rasanya seperti bermimpi sekarang.
Adam dan dirinya sekarang sudah berada di Jepang.
"Aku gak nyangka akhirnya," ujar Hara berjalan memasuki gedung apartemen yang akan menjadi tempat Hara dan Adam menginap.
"Aku bosan mendengarnya Hara!" Sindir Adam karena sedari tadi Hara terus-terusan menyatakan kalau gadis itu tak menyangka.
Hara memegang lengan Adam, dan bergelayut manja di sana. "Terima kasih."
Langkah Adam terhenti. Matanya, rasanya melihat seseorang yang begitu familier.
Sedangkan Hara ikut berhenti. Dan melepas lengan Adam. Ikut memperhatikan apa yang menarik antensi Adam.
"Bunda, kenapa Afnan gak boleh makan pelmen?" Tanya seorang anak lelaki berusia sekitar tiga tahun itu.
Wanita yang dipanggil bunda oleh bocah itu menatap gemas. "Coba perlihatkan gigi Afnan pada bunda," pintanya.
"Iiiii," bocah bernama Afnan itu menunjukkan deretan giginya.
"Lihat, gigimu ompong, mau gigimu di cabut lagi?"
Afnan menggeleng mendengar pernyataan dari sang ibu.
"Makanya jangan makan permen!" Ujar wanita itu lembut, kemudian melanjutkan jalannya menuju lift.
Hara yang masih menyadari Adam masih terpaku. Langsung mengguncang bahu lelaki itu pelan.
"Kau kenapa? Ingin punya anak juga?" Tanya Hara asal, karna Adam yang tak bergeming sedikitpun saat melihat interaksi ibu dan anak tadi.
"Menikah saja denganku, lalu kita akan punya banyak anak yang lucu, kalau begitu!"
Seketika Adam langsung menoyor pelan jidat Hara. "Jangan bicara sembarangan!"
***
Setelah memastikan Hara telah tidur. Adam keluar dari apartemennya.
Dengan langkah lebar ia menuju lift. Dan mencari apartemen yang diberitahukan oleh resepsionis tadi padanya.
Pelan tapi pasti ia memencet bel apartemen itu.
Hingga pintu itu terbuka setelah Adam memencet bel beberapa kali.
Prang.
Pecahan gelaslah yang menyambut indera pendengaran Adam pertama kali, kala pintu itu terbuka.
Hening. Tak ada yang besuara. Hingga seorang anak kecil datang menghampiri keduanya.
"Nda, ada apa?" Ujar anak kecil itu sembari mengucek matanya.
"Hei, Afnan berhenti di situ, nanti kau kena pecahan kaca," buru-buru wanita yang membuka pintu tadi, sedikit berlari ke arah Afnan dan langsung menggendongnya.
Wanita itu kembali menghampiri Adam yang terdiam di depan pintu.
"Masuklah," ujarnya yang mempersilakan Adam masuk ke dalam.
Afnan, memperhatikan Adam yang baru masuk. "Dia siapa Nda?" Tanya Afnan menunjuk Adam.
"Afnan, bunda antar ke kamar lagi yah, pasti Afnan ngantuk." Ujar wanita itu mengabaikan pertanyaan sang anak.
"Oh iya. Tunggu di sini dulu, aku mau mengantar anakku ke kamarnya."
Anaknya? Mendengar kata itu membuat hati Adam mencelos. Apa Wulan sudah menikah dan memikiki anak?
Yah, wanita itu adalah Wulan. Satu-satunya Wanita yang masih bisa membuat hati Adam berdebar.
Wulan kembali. Dengan wajah yang terbilang pucat. "Hai, lama tak bertemu, tunggu sebentar aku ambilin kamu minum dulu yah,"
"Gak usah!" Langkah Wulan yang hendak ke dapur terhenti. "Kenapa kamu dulu pergi ninggalin aku tanpa alasan?" Pertanyaan itu sukses membuat Wulan terdiam.
"Gak ada jawaban?" Ujar Adam mendongak menatap Wulan sendu, yang tengah berdiri diam membisu.
"Anakmu sangat lucu. Kau juga menikah tak bilang-bilang. Suamimu di mana? Dan kenapa kau tinggal di apartemen?" Lanjut Adam yang hanya dihadiahi oleh kebisuan Wulan.
Tak ditanggapi membuat Adam bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Wulan.
"Kau pasti tak punya alasan untuk berbohong, makanya diam tak menjawab," ujar Adam tersenyum miring.
Wulan memejamkan matanya kala Adam semakin mendekat ke arahnya, hingga keduanya kini tak berjarak.
Adam mencium bibir Wulan.
Adam merindukannya. Begitupun juga Wulan, terbukti dari Wulan yang membalas ciuman Adam.
Bersambung ....
KAMU SEDANG MEMBACA
My Childish Bad Boy
RomansaAdam jatuh cinta pada Wulan, tak ingin jika gadis itu meninggalkannya. Dan Wulan yang luluh pun karna perlakuan manis Adam, mulai menerima Adam. Namun, suatu rahasia besar, membuat Wulan dan Adam harus menelan pil pahit kehidupan, memaksa keduanya u...
