Typo bertebaran!
Adam tetaplah Adam. Tak ada yang bisa mengerti jalan pikiran lelaki itu.
Kadang membuat nyaman. Kadang membuat orang yang berada di sekitarnya terintimidasi.
Tiga tahun sejak perginya Wulan dari hidupnya, membuat sikap Adam sedikit berubah.
Lebih mudah terpancing emosi. Dan tak mau mengalah. Apa yang diinginkannya haruslah terjadi.
Tapi, hanya satu keinginannya yang tak terpenuhi. Hara menjauh darinya, tak menggagu hidupnya.
Hara, gadis yang belajar memahami sikap Adam dua tahun belakangan, mulai terbiasa dengan sikap Adam.
Entah apa yang membuat Hara, menyukai lelaki seperti Adam. Katanya, Adam itu berbeda. Adam itu menantang.
Awal Hara mengenal Adam. Ia harus merasakan sakit hati berulang kali, ditolak berulang kali, dan juga harus siap mental melihat Adam dengan perempuan lain.
Tujuan Hara saat itu, hanyalah meluluhkan hati Adam. Hingga rasa sakit itu ia abaikan.
Katakan Hara tergila-gila pada Adam. Selalu mengikuti kemana pemuda itu pergi, bahkan tak jarang membuat Adam kesal sendiri.
Tapi, tiga bulan terakhir, Adam tak lagi bergonta-ganti pacar. Ia sendiri. Sepertinya usaha Hara akan membuahkan hasil.
Terbukti dengan Adam yang mulai sedikit membuka diri pada Hara, dan tak terlalu memusingkan lagi gadis itu saat berada di sekitarnya.
"Jadi bagaimana? Jadi, kan? Aku udah buat rencana menakjubkan ini udah lama! Kau harus mau! Pokoknya harus!"
Hara sedari tadi tak berhenti mengoceh. Berbicara tanpa henti.
Sedangkan Adam? Orang yang ia temani bicara sedari tadi, tak terlalu memperhatikannya sama sekali.
Karna kertas-kertas di depannya lebih menarik dari obrolan Hara, pikir Adam.
Hara yang sadar diabaikan oleh Adam, memberenggut kesal.
Sedikit menggeser kertas yang menjadi fokus Adam. Hingga membuat Adam menatapnya.
"Kau mengabaikanku!" Hara menatap kesal Adam yang sedikit tak peduli dengan kekesalan perempuan itu.
"Aku datang ke kantormu bukan untuk kau abaikan!"
Adam merotasikan kedua bola matanya mendengar penuturan Hara. "Aku tak menyuruhmu datang! Beruntung kau tak ku suruh pergi."
Hara membulatkan matanya sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Adam.
"Yak! Kenapa kau masih saja jahat?! Kukira kemarin sifat jahatmu hilang! Aish, tak bisa dipercaya! Sifatmu selalu berubah seperti bunglon!"
"Siapa suruh kau percaya kepadaku!" Balas Adam tak mau kalah.
Hara semakin kesal dengan sikap Adam. Tapi, hal seperti ini sudah terbiasa baginya, jadi pantang baginya untuk mundur. Ia masih punya banyak cara untuk membuat pria arogan di depannya ini mengalah.
Hara tersenyum jahil menatap Adam, kala ide konyol dalam kepalanya muncul.
Dengan cekatan Hara mengambil semua kertas yang menjadi fokus Adam tadi, kemudian melipatnya dan memasukkannya kedalam tas selempangnya.
"Apa yang kau lakukan?! Kembalikan kertas-kertas itu?! Itu penting!"
"Gak mau! Kalau mau kukembalikan, berjanji dulu untuk menemaniku!"
"Jangan membuatku marah! Kembalikan!"
"Gak mau!"
Brak.
"Aku bilang kembalikan!" Bentak Adam yang langsung membuat Hara tersentak takut.
Melihat perubahan raut wajah Hara, membuat Adam merasa terlalu keras dengan Hara.
"Maaf, membentakmu."
Hara melepas tas-nya, dan meleparkannya pada Adam. "Ambil saja!"
Hara berlari keluar dari ruangan Adam, dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Sial!" Adam dengan cepat menyusul Hara.
Ini bukan yang pertama kalinya, Adam membuat Hara menangis. Ini sudah yang kesekian.
Sebenarnya Adam sangatlah malas, dalam hal membujuk. Itu membuang waktunya!
Tapi, batinnya menyuruhnya untuk mengejar dan meminta maaf pada Hara.
Berlari dengan kaki panjangnya, mencegah pintu lift itu tertutup.
Ini membuatnya terlihat aneh, mengejar Hara yang menangis karenanya. Biasanya, dulu ia hanya akan mengabaikan perempuan itu, karna ia tahu pasti perempuan itu akan membaik dengan sendirinya.
Adam menggapainya, berhasil masuk dalam lift, yang hanya diisi olehnya dan Hara.
"Katakan kau mau kutemani ke mana?" Tanpa basa-basi Adam berujar, membuat Hara menoleh.
"Kau mau menemaniku?" Ada sedikit harapan dalam pertanyaan Hara, menginginkan Adam berkata Iya.
"Hm." Gumam Adam yang membuat mata Hara berbinar senang.
"Aku ingin ke Tokyo! Ke Disneyland!" Teriak Hana antusias.
"Kau gila?!" Tanya Adam kaget mendengar apa yang diinginkan oleh Hara.
Dan lift-pun terbuka. Adam keluar lebih dulu, diikuti oleh Hara.
Hara mengekor dibelakang Adam sembari memohon pada lelaki itu. "Ayolah Adam, aku sudah lama mau ke sana, mau yah? Kita di sana cuma lima hari kok,"
"Aku sibuk!"
"Yak! Lima hari tak bekerja tak akan membuatmu jatuh miskin, lagipula perusahaan ini milik keluargamu!" Protes Hara yang membuat Adam jengah.
"Sebaiknya kau ku antar pulang! Dan berhentilah untuk merencanakan hal-hal konyol jika ingin melakukannya denganku!"
"Kau tak asik!"
"Terserah kau saja!"
Dan Hara hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Bersambung ...

Nah, anggap aja dia yang jadi Hara >.<
Setelah baca part ini, menurut kalian karakter Hara, gimana?
Wulan-nya nanti juga muncul kok, tapi nanti yah :v
Kita berkenalan dulu dengan kisahnya Hara sama Adam.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Childish Bad Boy
RomanceAdam jatuh cinta pada Wulan, tak ingin jika gadis itu meninggalkannya. Dan Wulan yang luluh pun karna perlakuan manis Adam, mulai menerima Adam. Namun, suatu rahasia besar, membuat Wulan dan Adam harus menelan pil pahit kehidupan, memaksa keduanya u...
