Jam sembilan malam, Afnan, Wulan, dan Adam baru pulang dari acara jalan-jalan mereka, dengan Afnan yang tertidur karna lelelahan.
Setelah Wulan menidurkan Afnan di kamarnya. Wanita itu turun menghampiri Adam yang tengah memejamkan mata dengan kepalanya yang bersender pada sofa.
"Aku akan membuatkanmu jahe hangat, kalau mau beristirahat, kau pergi saja ke kamar tamu yang sering kau tempati. Kau menginap saja dulu, sepertinya kau kelelahan."
Adam membuka matanya. "Aku tidur saja dengan Afnan,"
Wulan mengangguk menanggapi, dan langsung menuju dapur.
"Apa Kak Wira tak pulang?" Gumam Wulan sembari menyalakan kompor.
Bunyi bel rumah membuat Wulan mematikan kompor-nya.
Dan segera berjalan ke pintu utama rumahnya. Mungkin itu Wira pikirnya.
Namun, saat membuka pintu, yang didapati Wulan membuat wanita itu mengernyit heran. Bintang? Ada apa datang malam-malam begini? Dan jangan lupakan tubuhnya yang basah kuyup.
"Apa---"
"Wulan! Bisa kau bantu aku?" Wulan mengangguk, walau ia tak tahu, bantuan macam apa yang diinginkan oleh Bintang. Tapi, tampaknya lelaki itu sangat kacau.
"Kau masuklah dulu, kau tampak kacau Bintang, sebaiknya kau mengannti bajumu, kau bisa sakit, aku akan mengambil baju Kak Wira."
Wulan bisa saja menyuruh Bintang untuk pulang ke rumahnya, karna rumah mereka yang berhadapan.
Tapi, melihat kondisi Bintang membuat Wulan tak tega.
Tak berapa lama, setelah Bintang mengganti bajunya, lelaki itu kembali ke ruang tamu.
"Nih, minum," Menundukkan dirinya di samping Bintang.
Bintang meminum sedikit, dan langsung menyimpan cangkirnya di atas meja.
Menatap Wulan, dengan penuh raut gelisah.
"Ah! Rambutmu masih basah, tetap duduk di sini, aku mau ambil handuk dulu untuk mengeringkan rambutmu,"
Bintang, menyunggingkan senyum. Wulan masih peduli padanya ternyata.
"Jadi, apa yang terjadi pada sahabatku ini?" Ujar Wulan yang detang dengan handuk di tangannya, dan dengan telaten mengeringkan rambut Bintang dengan handuk.
Bintang sedikit mendongak. "Aku bertengkar hebat dengan Kanya."
Wulan memberhentikan aksinya mengeringkan rambut Bintang. "KAU MASIH BERPACARAN DENGAN KANYA?!" Tanya Wulan antusias yang langsung berlari dari belakang sofa, dan duduk di samping Bintang, menatap Bintang dengan mata yang berbinar bahagia.
"Hei! Kau ini kenapa! Telingaku sakit! Tak usah berteriak!"
"Wow, apa benar kau masih berpacaran dengannya?"
"Sudah bertunangan malah!"
"Wah, aku sangat bangga padamu Bintang! Kau benar-benar serius padanya! Akhirnya Kanya bisa menggantikan posisiku di hatimu,"
"Kau takkan tergantikan!"
Seketika Wulan terdiam. Bintang yang merasa salah bicara langsung menghela napas kasar.
"Kau tak usah bahagia begitu saat tahu aku dan Kanya sudah tunangan," Wulan masih diam mendengarkan.
Apa Bintang masih mencintainya? Pikir Wulan gelisah.
"Kau tahu? Aku kacau begini, karna bertengkar dengannya,"
Mendengar penuturan Bintang membuat Wulan, mulai memaksa hatinya agar percaya, bahwa Bintang hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.
"Kalian ada masalah apa?"
"Akhir-akhir ini dia sangat banyak menuntut, dia marah padaku yang terlalu sibuk."
"Kau jelaskan saja baik-baik padanya, dan mengertilah keadaannya, kau kurang-kurangi gila kerjamu itu!"
"Aku sudah mencoba membuatnya mengerti, dan dia malah tak mau mengerti. Semakin kesini Kanya tak seperngertian dulu lagi! Aku bahkan kesal dengannya yang banyak menuntut sekarang."
Wulan tersenyum. "Biar aku saja yang berbicara dengannya nanti, dia pasti akan mengerti."
"Kau tahu? Yang membuatku marah, dia malah menyuruhku untuk memilih antara dirinya dan pekerjaanku, jelas aku memilihnya, tapi aku juga harus bekerja, memangnya kalau mau menikah dia akan makan apa? Batu dan pasir?" Ujar Bintang menggebu-gebu.
"Hahahaha," sontak Wulan terbahak mendengar penuturan Bintang.
"Kenapa kau ketawa?"
"Tidak, Bintang, kau itukan kaya, bahkan bisa kekayaanmu bisa bertahan sampai tujuh turunan, tapi kenapa kau berbicara seolah-olah kau ini orang tak berada?"
"Aissh! Kau sama saja dengan Kanya! Sepertinya aku salah orang!" Dengan kesal Bintang mengambil cangkir minum yang dibawa Wulan tadi dan meminumnya dengan tidak sabaran, hingga minuman yang masih hangat itu tertumpah.
"Aw!"
***
Dering ponselnya membuat Adam terbangun dari tidurnya. Beruntung putranya tidak ikut terbangun. Putranya memang benar-benar lelah.
Melihat siapa yang menelponnya membuat Adam berdecak kesal.
"Halo, ada apa?!"
"...."
"Hara! Kau masih punya banyak orang dalam hidupmu, bukan hanya aku! Jadi jangan menggangguku, dan menyuruhku untuk melakukan apa yang kau inginkan!"
Pergerakan Afnan, membuat Adam segera keluar dari kamar sang putra, takut akan terbangun karna dirinya yang tak bisa menahan kesal menghadapi Hara yang ada di seberang sana.
"Sudahlah, Hara aku sedang bersama putraku, sekali kau menelpon lagi, aku akan memblo---"
"Hahahaha."
Ucapan Adam terpotong dan langsung mematikan panggilan dari Hara, kala mendengar gelak tawa dari lantai bawah.
Dengan alis yang bertaut bingung, Adam menengok ke bawah, dan mendapati Wulan yang duduk berhadapan dengan Bintang.
Wulan yang tengah membersihkan area mulut Bintang dengan tisu, yang disertai dengan Wulan yang terkekeh.
Adam masih memperhatikan, hingga Bintang yang memegang pergelangan tangan Wulan, bermaksud memberhentikan aksi membersihkan yang dilakukan oleh Wulan, membuat Adam gelap mata.
"Wulan!"
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
My Childish Bad Boy
RomanceAdam jatuh cinta pada Wulan, tak ingin jika gadis itu meninggalkannya. Dan Wulan yang luluh pun karna perlakuan manis Adam, mulai menerima Adam. Namun, suatu rahasia besar, membuat Wulan dan Adam harus menelan pil pahit kehidupan, memaksa keduanya u...
