"Aishh! Adam kemana sih?!" Entah sudah yang ke berapa kalinya Hara mengumpat.
Hara menatap kesal layar teleponnya, menampilkan kontak Adam yang sedari tadi tak bisa dihubungi.
Entah kemana perginya lelaki itu. Hara sendiri bingung ke mana perginya Adam pagi-pagi begini.
Awalnya Hara mengira Adam keluar sebentar. Tapi, sudah satu jam lebih ia menunggu Adam tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Dengan kesal, Hara melempar ponselnya. "Lihat aja! Kalau Adam gak kembali hari ini aku gak bakal maafin Adam!"
Hara menghentakkan kakinya dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...
"Kau tak perlu menyeretku!" kesal Wulan karna sejak turun dari mobil.
Adam menariknya. Beruntung Afnan tak begitu mengerti tentang apa yang terjadi.
Adam tak menanggapi perkataan Wulan, dan malah berjalan menuju pintu utama rumah Wira.
Adam memencet bel dengan tidak sabaran, membuat tuan rumah yang membukanya tampak kesal.
"Paman!" Namun kekesalan Wira sirna kala melihat Afnan dan Wulan.
Wira cukup terkejut karenanya. Hei! Afnan dan Wulan itu tinggal di Jepang dan kenapa sekarang ada di sini? Dan juga kenapa ada Adam di sini?!
Afnan yang menunjukkan gestur untuk digendong oleh Wira. Dengan senang hati Wira mengambil alih Afnan dari gendongan Wulan.
"Aku lindu sama paman," ujar Afnan memeluk leher Wira.
Melihat interaksi Wira dan Afnan, membuat Adam terkejut setengah mati. Apa-apaan ini?! Apa selama ini ia dibohongi?!
"Kalian masuklah dulu ke dalam," ujar Wira melihat raut muka tak percaya Adam. Dan berbalik lebih dulu, tanpa menunggu Wulan dan Adam.
Wulan ingin melangkah, tapi pergelangan tangannya dicekal oleh Adam.
Adam mendorong Wulan hingga punggung wanita itu terbentur pada dinding di sebelah pintu.
Tatapan tajam Adam beradu dengan tatapan takut dari Wulan.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?!" Pelan namun penuh penekanan.
Wulan jelas tak berkutik.
Lama terdiam dan saling menatap. Hingga akhirnya Adam menjatuhkan kepalanya pada pundak Wulan. Tak lupa tangannya memeluk tubuh Wulan.
"Aku merindukanmu Wulan. Kurang apalagi untuk kau percaya kalau aku sangat mencintaimu bahkan saat kau pergi dan membohongiku. Dan sekarang? Kau masih mau membohongiku?" Kepala Adam masih berada pada pundak Wulan.
"Adam ..." panggil Wulan berniat mengakhiri perlakuan Adam.
"Tunggu! Biarkan begini sebentar. Sebelum aku memarahimu karna anak haram itu."
Sontak Wulan mendorong Adam. "Jangan memanggilnya anak haram!" Wulan langsung berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Adam yang ikut mengejarnya.
"Kalau begitu katakan siapa ayah anak haram mu itu?!"
"Kalau kau tahu, kau ma apa?!" Bukan Wulan yang bertanya, namun Wira. "Berani-beraninya kau mengatai keponakanku anak haram!" Lanjut Wira penuh amarah.
"Kak." Tahan Wulan. Kalau begini bisa-bisa semuanya terbongkar.
"Aku akan membunuhnya!"
Seketika Wulan memejamkan matanya.
"Dasar bodoh!" Umpat Wira yang membuat Wulan semakin tak tenang.
"Kak! Tolong berhenti!"
Adam maju mendekati Wira. "Katakan padaku, siapa ayah dari anak haram itu?!"
"Bintang."
Adam dan Wira menoleh melihat ke arah Wulan.
Sedangkan Wulan melihat ke arah pintu. "Ya! Ayah dari Afnan adalah Bintang." Ujar Wulan yang langsung mengampiri Bintang yang berada di ambang pintu.
"Sialan! Bintang!" Dengan tangan yang menggempal Adam menghampiri Bintang dan Wulan.
Namun, sebelum Adam menyerang Bintang. Wulan sudah lebih dulu menghalangi Adam.
"Mau apa kau?" Tantang Wulan.
"Ingin membunuh orang yang sudah menyentuhmu, hingga melahirkan anak haram itu!"
Plak.
Wulan menampar Adam cukup keras. "Berhenti mengatai anakku, anak haram!" Wulan mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Adam.
"Kalau bukan anak haram, anak apalagi yang ada, tanpa adanya pernikahan?!"
"Aku dan Bintang yang memutuskan untuk tidak menikah! Memangnya kenapa?! Ada masalah dengan itu?!"
Sedangkan Bintang sendiri belum mengerti dengan apa yang tengah terjadi.
Maksud hati, ingin melihat Wulan.
Tapi, kenapa yang menyambutnya malah suasana tegang seperti ini.
Bintang mengarahkan pandangannya melihat Wira meminta penjelasan, namun yang didapatnya hanyalah Wira yang menuyuruhnya untuk diam dulu.
"Aku mencintaimu!"
Wulan menatap Adam tak percaya. Mendengar jawaban ngelantur dari Adam.
"Jangan berputar-putar Adam!"
"Aku akan menghancurkan siapapun yang mencoba untuk memiliki apa yang kucintai!"
Adam sedikit menggeser tubuh Wulan. Dan hendak memukul Bintang. Namun, perkataan Wira menghentikkanya.
"Berhenti melakukan kebodohan Adam!" Wira menjauhkan Adam dari Bintang. "Kau tak lihat wajah anak haram yang katakan itu?! Di sangat mirip denganmu bodoh!"
"Kakak!" Tegur Wulan.
"Diam, Wulan. Aku sudah tidak tahan dengan sikap ayah dari keponakan tersayangku ini!" Geram Adam.
"Maksud kau apa?!"
"Anak haram yang kau katai itu anakmu bodoh!"
"Apa?!"
"Wulan tak pernah berhubungan dengan lelaki lain selain dirimu! Malam itu, nenek mengetahuinya! Dan Wulan disuruh pergi jauh! Kau tahu?! Adikku yang menjadi korban karna sikapmu itu?!"
Adam menatap Wulan tak percaya, meminta penjelasan.
Wulan hanya mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, ini sudah terlanjur. Lagipula, kenapa juga Adam tiba-tiba bisa berada di Jepang?!
Bersambung ....
KAMU SEDANG MEMBACA
My Childish Bad Boy
RomanceAdam jatuh cinta pada Wulan, tak ingin jika gadis itu meninggalkannya. Dan Wulan yang luluh pun karna perlakuan manis Adam, mulai menerima Adam. Namun, suatu rahasia besar, membuat Wulan dan Adam harus menelan pil pahit kehidupan, memaksa keduanya u...
