28

4.4K 232 25
                                        

Merasa sesak napas, Wulan mendorong dada Adam agar menjauh darinya dan tentunya melepas tautan bibir keduanya.


"Hah hah hah." Wulan mengatur deru napasnya yang memburu, meraup udara sebanyak-banyaknya setelah Adam melepas tautan mereka.

"Masih manis, seperti dulu," ujar Adam pelan, namun masih bisa didengar oleh Wulan, terbukti dari Wulan yang kini beradu pandang dengan Adam.

Keheningan cukup lama terjadi diantara keduanya, saling melemparkan tatapan rindu.

"Bunda ..." rengekkan Afnan yang kembali keluar dari kamarnya, membuat Adam dan Wulan menoleh ke arahnya.

Afnan merentangkan tangannya, ingin digendong oleh Wulan.

"Ada apa sayang?" Tanya Wulan setelah Afnan kini berada di gendongannya.

"Afnan, mimpi ketemu monstel, takut." Adnan memeluk leher Wulan.

"Berapa tahun usia anakmu?" Tiba-tiba suara datar mengalihkan antensi Wulan dari Afnan.

Wulan mengeratkan pelukannya pada Afnan. "Baru menginjak tiga tahun."

Adam tersenyum kecut. Tiga tahun. Bukankah tiga tahun yang lalu, Wulan meninggalkannya.

"Oh, aku tahu sekarang. Kau dulu meninggalkanku untuk menikah dengan ayah dari anakmu ini pasti. Coba berikan padaku, siapa namanya tadi?"

"Afnan."

"Yah, Afnan. Paman ingin menggendongmu," Adam mengambil alih Afnan dari gendongan Wulan.

"Lihat wajahmu sangat tampan. Pasti ayahmu juga sama tampannya denganmu. Pantas saja ibumu meninggalkanku."

Afnan menatap lamat Adam, hingga anak itu bersuara. "Paman, tadi paman belkata tentang ayah, apa paman tahu, ayahku dimana?"

Wulan memejamkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Afnan.

Adam langsung menatap Wulan. "Wulan." Panggil Adam meminta penjelasan akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Afnan.

Wulan meremas kedua telapak tangannya. "Kau duduklah dulu, aku mau mengambil minum," ujar Wulan langsung melenggang pergi ke dapur.

Mau tak mau Adam duduk pada sofa yang ada di sana, dan juga mendudukkan Afnan.

"Maksud Afnan tadi apa? Kok gak tahu ayahnya di mana?"

"Hm. Aku gak pelnah lihat ayah. Setiap aku tanya ke bunda, bunda selalu bilang kalau ayah, itu ada di tempat yang jauh. Paman tahu gak di mana?"

Wulan kembali dengan membawa nampan berisikan susu dan kopi.

"Afnan, sini minum susu-nya, terus ke kamar. Ini sudah larut, gak baik buat kesehatan kamu," panggil Wulan.

"Sebental bunda, paman ini mau kasih tau aku ayah di mana,"

Wulan mendekat ke arah Afnan, "kata pamannya, besok aja, soalnya udah malam. Ayo minum susunya, lalu bunda bakal anter kamu ke kamar,"

Afnan mengangguk, kemudian melihat kembali ke arah Adam. "Paman janji yah, besok kasih tau Afnan," ujar Afnan lalu mulai meminum susunya.

"Ayo ke kamar," untuk yang kedua kalinya Wulan mengantar Afnan ke kamar.

Sedangkan Adam hanya memperhatikan. Apa-apaan ini? Kenapa Afnan tak tahu ayahnya siapa. Apa yang terjadi?

Wulan kembali dan ikut duduk di hadapan Adam.

"Jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Afnan." Ujar Wulan menyakinkan. "Oh iya, kamu ngapain ke Jepang, liburan?" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.

Adam menatap Wulan dengan tatapan menusuk. "Apa maksud anakmu tadi? Dia gak tahu ayahnya dimana? Apa yang kau lakukan?!"

Wulan diam. Ia tak tahu harus berkata apa sekarang.

"JAWAB WULAN!" Bentak Adam yang membuat Wulan tersentak.

"Aku belum pernah menikah."

"Lalu kenapa kau bisa punya anak?!"

Wulan diam.

"Pada siapa saja kau berikan tubuhmu?! Hingga bisa melahirkan anak tanpa adanya seorang ayah?!"

Wulan menatap tak percaya akan apa yang dikatakan oleh Adam. Secara tidak langsung Adam menyebutnya wanita murahan yang dengan mudah memeberikan tubuhnya pada siapa saja.

"Jaga mulutmu Adam!"

"Dia anakmu kan?! Kau yang melahirkannya?!" Tanya Adam lagi.

"Aku yang melahirkannya!"

"Lalu, siapa ayahnya?! Kau tak tahu?! Atau apa?! Atau mungkin kau terlalu banyak tidur dengan lelaki hingga tak tahu siapa ayah dari anakmu?!"

Plak.

Wulan menampar pipi Adam begitu keras.

Adam menatap Wulan yang kini mengeluarkan air mata dengan tajam.

"Tampar lagi Wulan! Aku gak nyangka kau pergi meninggalkanku hanya untuk ini?! Murahan sekali! Sampai kau punya anak haram!"

"BERHENTI ADAM! KELUAR DARI SINI!" Wulan berdiri dari duduknya.

"Kenapa Wulan?! Kau marah dengan dirimu sendiri yang hina?!" Adam ikut berdiri menatap nyalang ke arah Wulan yang juga menatapnya demikian.

"Bersama siapa saja kau pernah tidur HAH?!" Adam berjalan maju ke arah Wulan hingga membuat punggung Wulan bertemu dengan dinding.

"Jangan ikut campur urusanku Adam!"

"JAWAB PERTANYAANKU WULAN! DENGAN SIAPA SAJA KAU TIDUR?!" Adam meneriakki Wulan hingga membuat wanita itu memejamkan matanya.

"KAU HARUS IKUT AKU KE INDONESIA! BESERTA DENGAN ANAK HARAMMU ITU!"

"Dia bukan anak haram Adam!"

"Dia lahir tanpa tahu ayahnya siapa, bahkan kaupun tak tahu! Anak apa namanya, kalau bukan anak haram?!"

Wulan mendorong keras tubuh Adam. "KELUAR KAU DARI SINI?!"

"Tidak! Sekarang juga, kemasi barangmu. Kita ke Indonesia, kakakmu dan nenek harus tahu apa yang kau lakukan!" Titah Adam menatap tajam Wulan.

Bersambung ...

My Childish Bad BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang