Bab 15 Penyebab

168 8 9
                                        

Argi melepas helmnya setelah sampai di rumah sakit tempat Naura dirawat. Dia berjalan menuju ruangan Naura, saat di lorong rumah sakit Argi bertemu mamanya Naura yang bernama Nurul.

"Halo Tante," sapa Argi ramah.

"Eh? Yang kemarin nganterin Naura ke rumah sakit ya?" tanya Nurul yang tadi berjalan berlawanan dengan Argi, Argi mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Zahra menatap Argi dengan pandangan menyelidik.

Ni cowok siapanya Kak Naura? Pacarnya? Ah, masa sih tu orang gila punya pacar, ganteng lagi. Batin Zahra yang masih memperhatikan Argi.

"Tante mau ke mana? Naura udah dibolehin pulang ya Tan?"

"Belum, Tante mau nganterin Zahra. Kamu mau jenguk Naura? Tante nitip dia sebentar ya," Argi mengangguk lagi sambil tersenyum.

"Kakak ini ... pacarnya kak Naura ya?"  kini Zahra yang angkat bicara, sedari tadi Zahra berargumen dengan pemikirannya sendiri.

Argi langsung menggeleng cepat, "Bukan, cuma temen sekolah kok." kenapa sih semua orang ngira gue pacaran sama si wadah jamban itu? Amit-amit punya pacar tukang kentut kek dia!batin Argi.

"Kalau gitu Tante pergi dulu ya," ucap Nurul lalu berjalan diikuti oleh Zahra.

Argi masuk ke ruangan Naura, tampak sepi seperti tempat pemakaman. Di sana Naura sedang duduk di atas kasurnya, Naura melirik ke arah pintu masuk. "Loh Mas Avisha? Kirain ga bakal di jenguk," ucap Naura sambil memasikan camilan ke dalam mulutnya.

"Ngarep gue jenguk lo?"

"Ngarep dong! Ngarep bawain makanan gitu, tapi kok nampaknya nggak bawa apa-apa, beliin gue batagor dong Mas Avisha!" perintah Naura tak berdosa.

"Lo pikir gue babu lo!" Argi berjalan mendekati Naura, mata Argi langsung melotot saat melihat camilan yang dimakan oleh Naura, "Heh, wadah jamban! lo makan beton?"

Naura mengangguk disela-sela mengupas biji nangka yang biasa disebut beton itu, "Iya, emang napa? Mau?" tawar Naura sambil menyodorkan wadah bersisi beton itu.

Argi langsung merampas camilan Naura dan membuangnya ke tempat sampah, "BETON GUEE!!" teriak Naura histeris saat melihat beton kesayangannya sudah masuk ke tempat pembuangan mantan.

"Kenapa lo buang? Itukan camilan kesukaan gue Mas Avisha! Lo harus ganti!!" Naura melemparkan bantal ke arah Argi.

"Lo tau nggak sih wadah jamban yang punya nama lain Dewi kentut! Beton itu bikin KETUT LO SEMAKIN BAUU! BIKIN ORANG KOIT SETIAP LO KENTUT!" terang Argi sedikit ngegas.

"Hah? Masa sih?" ujar Naura yang tampak terkejut, "Terus gue harus ngindarin makan beton juga dong! Setelah susu sekarang beton. Huwee...,"

"Ya kalau lo tetep mau kentut lo bau bangke ya terserah! Nih ambil nih!" Argi menyodorkan tempat sampah itu ke arah Naura.

"Lo pikir gue apaan? Ngais-ngais tempat sampah!" kesal Naura sambil menangkis tangan Argi.

"Makanya jangan makan beton lagi," ucap Argi menasehati lalu duduk di kursi samping kasur Naura.

"Oke! Demi Bang Nata tercinta, gue bakal ngerelain ngga makan beton lagi, tapi ... sekali ini aja dong gue boleh makan beton lagi," ucap Naura sambil memelas.

"Tuh! Ambil di tempat sampah!" tunjuk Argi menghedikan kepalanya.

"YA BELIIN DONG MAS AVISHA..!!" teriak Naura membuat Argi menutup telinganya.

"Wadah jamban bisa jadi toa juga ya? Lo kalo ngomong gak bisa banget dikontrol gitu volumenya?" Argi memasang muka sebalnya.

"Gabisa," jawab Naura sok cuek.

"Dasar toa. Eh lo kapan pulang?" tanya Argi.

"Besok."

"Berangkat sekolah kapan?"

"Gatau."

"Apaan sih lo tiba-tiba gitu?"

"Ih peka dong gue tuh ngambek ish," kesal Naura.

"Dih ngambek kenapa?" tanya Argi.

"Dasar gak peka, gue pengen makan beton mas Avishaa...."

"Yaelah kan udah gue bilang kalo lo mau ya ambil aja di tempat sampah sono!"

"BELIIN LAHH!"

"OGAH!" ucap Argi ikut berteriak.

"Berisik ntar di omelin!" ujar Naura.

"Bodo amat anjay yang dari tadi teriak-teriak siapa?"

"Bodo ah ngambek gue," Naura memalingkan muka.

"Ok gue kasih tawaran terbaik," ujar Argi yang sama sekali tidak digubris oleh Naura.

"Gamau denger nih?"

"Apa!"

"Yaudah kalo nggak mau sih ya gue nggak masalah," Argi beranjak menuju pintu keluar.

"Apaan ish buruan bilang!" ucap Naura tepat saat Argi sudah memegang gagang pintu.

"Ok lo tinggal pilih, lo bakal terus makan beton dan minum susu atau lo berhenti makan minum itu sebagai gantinya gue masuk tim voli biar lebih gampang deketin lo sama Nata, lo pilih mana?" tanya Argi sambil kembali mendekati Naura.

"Lo yakin mau masuk club voli?" tanya Naura antusias.

"Ya..., tapi ada syaratnya."

"Apa apa?"

"Lo nggak boleh lagi nyuruh-nyuruh gue seenaknya. Lo masih boleh nyuruh gue tapi tanpa paksaan," ujar Argi sambil melipat tangannya di dada.

"Ok nggak masalah."

"Eits, masih ada lagi."

"Apasih? Masa banyak amat,"

"Ya kalo nggak mau sih ya nggak papa," ucap Argi santai.

"Iya iya apaan?"

"Karena besok minggu, kita jalan. Lo harus traktir gue makan!"

"Idih nggak kebalik mas? Masa cowok minta traktir ke cewek dih," Naura menggembungkan pipinya. Lucu, pikir Argi.

"Bodo amat yang penting gue kenyang. Siap-siap duit aja besok."

"Kan besok gue baru pulang dari sini masa udah jalan-jalan aja," ujar Naura.

"Lo udah nggak sakit, cuma tinggal jaga pola makan lo doang. Gue bakal jemput besok sore, nggak ada penolakan," ucap Argi tak terbantahkan.

****

jett_queen
zul_sweet

Makasih udah baca
Minta Bintang dan komen kalau boleh
Kali ini nggak maksa
Tapi ngarep banget :v
👇👇👇

Angin Halus Pembawa Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang