Fight to love
.
.
.
.Happy reading
.
.Tatapan yang di tunjukkan dua laki-laki itu masih tetap sama, begitu dalam dan menusuk. Sungguh, kalau bisa jihoon ingin menghilang sekarang juga dari sana. Memilih menundukkan kepalanya jihoon memandang tangannya yang saling meremas di bawah, sampai suara salah satu dari lelaki tampan itu membuatnya mendongakkan kepalanya.
"Sepertinya akan menganggu jika aku tetap disini. Permisi."
Nada suara itu begitu tajam dan dingin. Tanpa berkata apapun lagi daniel melangkah memasuki lift di depannya. Meniggalkan guanlin dan jihoon yang kini menatapnya dengan pandangan sayu. Bahkan setelah lift itu tertutup jihoon belum mengalihkan tatapannya.
"Jihoonie"
Sampai suara lembut itu terdengar di telinganya, jihoon berbalik menatap guanlin.
"Apa yang kau lakukan di sini guanlin?"
Jihoon bertanya bingung. Pasalnya ia melihat guanlin di area apartemennya.
"Aku tinggal di sini sekarang ji, dan sungguh tak ku sangka ternyata kau juga tinggal disini."
Tersenyum tipis melihat wajah jihoon yang sedikit terkejut mendengar perkataanya. Jihoon menghela nafas pelan.
'Bagaimana bisa seperti ini? Akan menjadi lebih sulit jika begini.'
Melihat jihoon yang terlihat bingung, guanlin menarik tangan jihoon lembut menuju kursi yang terdapat di lobby apartemen.
"Melihat ekspresi yang ditunjukannya tadi, sepertinya dia masih belum tahu yang sebenarnya. Iya kan ji?"
Mengerti benar apa maksud perkataan guanlin, jihoon hanya mampu menundukkan kepalanya, enggan menatap orang yang kini seolah sedang menginterogasinya. Guanlin menatap lebih intens pada jihoon pada saat tak mendengar jawaban apapun darinya.
.
.
.
.
.BRAK...
Daniel membuka pintu apartemennya dengan kasar. Masuk dengan langkah yang begitu gusar daniel menuju ke kamarnya dan segera masuk ke kamar mandi.
Dengan terburuh membasuh wajahnya di wastafel, setelahnya matanya menatap lurus ke arah pantulan dirinya yang ada dicermin depannya.
Daniel mengencangkan cengkraman tangannya di pinggir wastafel yang di pegangnya. Dari nafsunya yang memburu, jelas sekali jika saat ini daniel sedang berusaha menahan amarahnya. Lai guanlin, nama dan bayangan wajahnya masih saja melintas di fikiran daniel."AAAARRRGGGG...."
"PRANG"
Dan cermin di depannya hancur begitu saja setelah 'tersentuh' kepalan tangan daniel.
.
."Apa kau baik-baik saja tinggal bersamanya ji? Aku yakin dia tidak memperlakukanmu dengan baik."
Pertanyaan dan pertanyaan itu membuat jihoon yang menunduk, semakin dalam menundukkan kepalanya. Dia tidak mingkin menyembunyikan apa pun dari guanlin, karena bagaimana pun guanlin tahu dengan sangat jelas masalah yang terjadi antara ia dengan daniel.
Membawa jihoon ke pelukannya dengan lembuat, itu yang guanlin lakukan saat ini.
'Dia bodoh ji, dari dulu sampai sekarang ia memang begitu bodoh. Bagaimana bisa dia tidak melihat kenyataan bahwa yang jelas sudah tampak di depannya.'

KAMU SEDANG MEMBACA
Fight To Love
Fanfiction"Dan jihoon, kenalkan ini daniel." DEG... Jihoon mengangkat kepalanya, menatap keget seseorang yang duduk tepat di depannya, yang menunjukan ekspresi sama dengannya. "KAU?" "K-kau"