"Hyung, nanti pulang bersama?" Jimin menoleh saat mendengar suara lembut itu dari sisi kanannya. Ia yang sedang meminum susu kotak rasa cokelat mengerutkan keningnya tanda jika ia kebingungan.
"Eum? Tentu, bukannya kita setiap hari pulang bersama?" Ucapnya di akhiri senyuman manis yang membuat sosok di sebelahnya terkekeh gemas.
"Kemarin hyung kan pulang dengan Yoongi sunbae. Jadi kita tidak pulang bersama." Jimin mengerjap pelan saat sosok di sebelahnya berkata demikian. Ia memperlambat langkahnya dan melihat lembut pundak kokoh di sebelahnya.
"Maaf Kookie, aku lupa." Ucapnya dengan nada menyesal, ia menunduk namun masih melangkah pelan. Tangannya mengeratkan gendongan tas berwarna kuningnya dengan erat.
Kookie -atau sebut saja Jungkook- menoleh refleks padanya, langkah kaki lebarnya Jungkook pelankan sehingga mereka sejajar kembali.
"Hey tak apa, kan itu memang yang harus hyung lakukan eum?" Jimin mengigit bibir bawahnya, tatapannya ia bawa untuk menatap wajah tampan yang balik menatap dirinya dengan lembut.
Tatapannya seperti saat Jimin melihat pantai di sore hari, begitu teduh dan menghangatkan. Jimin mencoba mencari tau lebih dalam saat menatap matanya, tatapan jenis apa yang di lontarkan sosok di depannya ini.
"Ya, aku harus melakukannya agar aku bisa melupakanmu kan?" Jimin terkekeh kecil membuat senyuman Jungkook perlahan memudar namun dengan cepat lelaki itu tersenyum kembali.
"Ya kau benar hyung, dan kau juga bilang jika kita tak boleh merasa canggung satu sama lain kan? Aku akan membantumu, tenang saja."
"Tidak. Kupikir aku baik-baik saja Kookie, kau tak usah khawatir. Ini semua memang salahku dari awal."
"Hey berhenti menyalahkan dirimu hyung, kau tau kan aku tidak menyukainya?"
Jungkook terkekeh melihat Jimin yang kembali menunduk, engan menatapnya kembali dengan mata indahnya yang sipit itu. Maka ia bawa lengan kekarnya untuk mengangkat wajah Hyung tersayangnya.
"Hyung tau? Kau hanya orang yang merasakan jatuh cinta, dan cinta itu tidak salah.. Begitupun dirimu." Ucapnya dengan lembut. Jimin hanya mendengarkan disana.
Suara Jungkook begitu halus dan lembut, mengingatkan Jimin pada sosok ayahnya, namun bedanya suara itu entah kenapa sedikit menyakiti hati kecilnya yang sedari tadi menjerit sakit.
Jimin tak mengerti, perkataan Jungkook memang benar. Semuanya benar, tapi mengapa rasanya sesedih ini?
"Ya, dan salahku untuk jatuh cinta padamu Little Kookie." Kekehnya dengan perasaan yang makin menyeruak ingin melepas beban, namun apa daya. Jimin tak punya hal lebih untuk memperdalam dan menjelaskan isi hatinya.
Mereka hanya punya hubungan saling menyayangi sebatas adik pada kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Kookie [KookMin]
Fanfiction! ! ! Udah Tamat ! ! ! Adik-Kakak zone? Rasanya gimana? Tanya aja sama Jimin Jm; bott Jk; dom ga suka ya seperti biasa, keluar aja yaps. happy read gusy ♡
![Dear Kookie [KookMin]](https://img.wattpad.com/cover/215776059-64-k216681.jpg)