Apa jadinya jika sepasang suami istri yang rumah tangganya sedang kurang harmonis dipaksa harus bekerja dari rumah?
Instruksi dari masing-masing atasan mengharuskan semua karyawan Work From Home untuk mengurangi dampak penyebaran virus yang terjadi...
Sesuai arahan Presiden, 109 RS milik TNI, 53 RS Polri, dan 65 RS BUMN sudah siap untuk melaksanakan rawatan penderita Covid-19. Sementara warga yang bergejala Corona ringan, melakukan isolasi mandiri (self isolation) di rumah masing-masing.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melihat pertumbuhan kasus positif di Indonesia bikin ngeri-ngeri sedap. Itu ... beneran terjadi di Indonesia?
(Riri)
•••
"Nggak borong, Neng?" tanya Mamang sayur saat melihat keranjang belanjaan Riri yang siap dihitung.
Riri mengernyit, tapi buru-buru mengulas senyum. Hari ini belanjaannya lebih banyak dibanding biasanya padahal. Apa ada yang salah? Saking penasaran, Riri kemudian menoleh pada ibu-ibu yang berdiri di sebelahnya dan di sebelahnya lagi. Ternyata isi keranjang mereka hampir dua kali lipat isi keranjang Riri. Pantas saja Mamang sayur memiliki pendapat berbeda dengannya. Pembanding yang mereka gunakan juga tidak sama.
"Cukup Mang. Untuk persediaan dua atau tiga hari saja kayaknya udah cukup. Kalau kurang bisa beli lagi," jawabnya. Riri sempat menyusun kata-kata terlebih dahulu dalam kepala, supaya tidak menyinggung pembeli yang lain. Apalagi jika sampai keceplosan menyoal panic buying, bisa-bisa Riri dijadikan bahan ghibahan mamak-mamak berdaster langganan sayur Mamang Kusdi ini.
Pagi sekali Riri sengaja pergi ke warung sayur untuk membeli kebutuhan selama dua sampai tiga hari ke depan, dengan harapan warung masih sepi. Namun, rupanya Riri keliru. Dalam waktu sepuluh menit saja, setidaknya sudah ada sebelas pembeli yang datang silih berganti.
"Ikan tunanya nggak sekalian?" tawar si Mamang yang masih berusaha membuat Riri goyah.
Bayangan sop tuna kuah bening dengan potongan tomat, irisan daun bawang, dan daun kemangi kemudian menari-nari dalam kepala Riri. Bahkan rasa segar dari bawang putih, jahe, sereh, daun salam, dan daun jeruk membuat air liurnya hampir menetes. Untung saja Riri memakai masker.
Riri akhirnya menggeleng.
Sesampainya di rumah, Hakim sudah berada di depan laptopnya. Meja kerja yang di-setting menghadap ke halaman belakang itu memang dibiarkan tanpa sekat. Dengan posisi itu, Riri harus melewati Hakim saat pergi ke dapur.
Baru beberapa langkah melalui Hakim yang duduk membelakanginya, Riri berhenti. Matanya seketika memicing, mengamati sesuatu yang menempel lengket di tumitnya. Wanita itu refleks memutar bola mata.
"Rumah belum disapu?" Riri menahan geram.
"Emang tadi kamu belum sempat nyapu?" tanya balik Hakim, tidak merasa bertanggung jawab atas kebersihan rumah.
Allahu Robbi. "Lah, aku tadi belanja. Kan kamu yang ada di rumah. Kok nggak inisiatif sendiri?" Akhirnya Riri beranjak ke meja makan untuk mengambil tisu dan menyomotnya di lantai.