Apa jadinya jika sepasang suami istri yang rumah tangganya sedang kurang harmonis dipaksa harus bekerja dari rumah?
Instruksi dari masing-masing atasan mengharuskan semua karyawan Work From Home untuk mengurangi dampak penyebaran virus yang terjadi...
Belajar dari Rumah yang tadinya direncanakan selama dua pekan akan diperpanjang, mengingat situasi yang belum membaik. Beberapa sekolah malah ada yang telah memutuskan untuk memperpanjangnya sampai bulan Juni, dikarenakan adanya tambahan libur di pekan pertama Ramadhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wfh juga ikut diperpanjang? Eh, gimana gimana? (Riri)
•••
Riri mengerjap saat merasa tengorokannya tercekat. Bayangan itu semakin dekat hingga ia tidak bisa lagi menghindar. Riri sudah terpojok. Sementara suaranya telah hilang entah ke mana, ia hanya mampu menggapai-gapaikan tangan ke atas meminta pertolongan.
Tolong!
Suaranya seperti tersangkut. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, mendadak bisu. Riri mengkerut. Peluhnya bercucuran.
Sekali lagi ia berteriak, tapi lidahnya masih kelu. Segala doa ia rapal dalam hati.
"Riri."
Sebuah suara terindra gendang telinganya. Pelan. Namun, semakin lama semakin keras. Sebuah tepukan di lengan membuatnya terjaga.
"Kamu mimpi?"
Wanita itu membuka mata dan segera menghambur pada tubuh laki-laki di sampingnya. Kepalanya mengangguk dalam pelukan.
Hakim mengelus rambut istrinya sampai wanita itu kembali tenang.
"Mau kuambilkan minum?" Ia hampir saja bangkit, tapi Riri keburu menggelengkan kepala dan menarik tangannya.
"Mimpi apa tadi?" tanyanya sedikit cemas.
Riri menelan ludah, lalu mengatur napasnya sebelum menjawab. "Waktu kemarin mau di-rapid test, aku sempat bernazar. Kalau hasilnya non-reaktif, mau donasi sama orang yang terdampak covid-19. Ternyata, alhamdulillah hasilnya non-reaktif, walau dokter bilang minggu depan harus dites lagi." Riri berhenti sejenak.
"Waktu ngobrol sama security kantor pas nunggu hasilnya, dia cerita kalau ada beberapa orang OB yang dirumahkan, makanya aku langsung titip alakadarnya buat beberapa OB itu, kebetulan dia tahu rumahnya. Kebayang, pasti susah cari kerjaan atau makan saat kondisi kayak gini. Eh, kemarin aku sempat cerita, kan?"
Hakim mengangguk. Setelah mengabarkan kalau hasilnya, Riri meminta izin kepala Hakim sebelum menitipkan beberapa lembar uang untuk OB yang dirumahkan tersebut.
"Lalu?"
"Barusan aku mimpi dikejar anak-anak di luar komplek." Riri mengusap keringat dingin di keningnya.
"Anak-anak luar komplek?" Hakim semakin tidak mengerti.
"Iya, itu anak-anak yang suka main ke fasum komplek. Anak-anak tukang ojek pangkalan di depan dan anak-anak yang ibunya suka jualan depan stasiun."
Hakim tercenung dan terdiam cukup lama, sampai Riri mendongakkan kepala karena penasaran.
"Kenapa?" Riri ingin tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.
"Bagaimana kalau kita gagas pengumpulan donasi buat lingkungan sekitar komplek? Khususnya bagi keluarga yang terdampak. Nanti aku hubungi Pak RT dulu untuk minta pendapatnya. Donasi yang disalurkan bisa berupa sembako. Kemarin-kemarin sempat kepikiran, sih, tapi karena masih banyak kerjaan jadinya lupa."
"Nah, ide bagus. Siapa tahu ada tetangga kita juga yang sebenarnya terdampak. Kan kita nggak tahu. Padahal kata Rosul, seorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar." Riri mendadak bersemangat.
Hakim mengangguk. "Iya. Kita bantu tetangga terdekat dulu, baru bantu warga di sekitar komplek."
Riri ikut mengangguk-anggukkan kepala.
"Bersyukur kita masih bisa bekerja dari rumah, ya. Bulan depan masih bisa terima gaji. Masih punya rumah untuk berteduh. Masih punya uang untuk beli keperluan. Masih punya makanan untuk dimakan."
Ah, sejak kapan sih otak gue jadi waras begini? Apa sejak Hakim bilang cinta sama gue? Kalimat itu memang terbukti jadi kekuatan besar, sih. Riri memandang Hakim sambil mengulum senyum.
"Iya, seharusnya kita banyak bersyukur, bukan malah sebaliknya. Pandemi ini memang mengajarkan kita tentang banyak hal, kalau kitanya mau berpikir."
Riri mengangguk setuju.
***
"Selama sakit kemarin aku jadi banyak berpikir." Riri membuka percakapan di sela-sela makan malam.
"Apa?"
"Banyak."
"Termasuk pernyataan aku?"
Riri mengembangkan senyum. "Salah satunya."
Hakim meletakkan sendok di atas piring dan mendorong piringnya sedikit menjauh. "Aku juga banyak berpikir. Setelah kamu mengeluarkan semua yang kamu pendam selama ini, aku jadi tahu alasan kamu cemburu terhadap Sari. Mungkin selama ini aku yang kurang peka. Aku menganggap kamu akan mengerti tanpa harus kujelaskan."
Riri ikut meletakkan sendok dan mendorong piringnya. "Yang hari itu?"
"Ya," jawab Hakim sambil memainkan tangan di atas meja. "Aku pernah merasa gagal menjadi anak pertama yang harus menggantikan peran Ayah. Hari itu aku juga merasa telah gagal menjadi seorang suami. Makanya, aku seharian di kamar sampai nggak sadar kalau demam. Aku memikirkan apa yang mungkin akan ayah pikirkan seandainya ayah berada di posisiku."
Riri diam menyimak.
"Aku baru sadar kalau selama ini sudah berlaku kurang adil. Makanya aku menanyakan pertanyaan yang belum kamu jawab sampai sekarang."
Riri meringis.
"Aku bukan laki-laki sempurna, Ri. Kekuranganku banyak. Kamu tahu itu." Tatapan mereka beradu. Riri segera meraih tangan Hakim untuk memberi dukungan.
"Aku bukan mencari laki-laki sempurna, tapi laki-laki yang mau menjadi partner dalam hidupku." Sebuah senyum menghiasi bibir Riri. "Apakah kamu orangnya?"
Hakim mengangguk.
"Kalau begitu, aku masih ingin kamu sebagai suami bahkan ayah bagi anak-anak kita kelak."
"Terima kasih, Ri. Aku pasti akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik."
"Aku percaya."
Hakim bangkit, lalu meluapkan semua rindu tertahannya selama ini.