Hari Ketiga Belas

6K 678 9
                                        

•••

Gunung Merapi kembali erupsi, Sabtu (28/3/2020) pagi pukul 05.21 WIB.
Erupsi Gunung Merapi pagi ini tercatat di seismogram dengan amplitudo 50 mm dan durasi 180 detik.
(www.tribunnews.com)

Allah benar-benar sedang menguji bangsa ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Allah benar-benar sedang menguji bangsa ini.
(Hakim)

•••

Hakim sedang memanaskan mesin mobil ketika sebuah panggilan masuk dari dokter Budi, dokter kantor yang memantau Riri saat demam kemarin.

"Iya, dok?"

"Kamu jadinya cuma di-rapid test, ya, Ri. Jatah PCR atau swab test mau aku kasih ke Pak Banu yang kondisinya memburuk hari ini. Kamu nggak keberatan?"

"Tentu, dok. Aku nggak keberatan. Semisal ada orang yang lebih perlu rapid test, aku juga nggak keberatan jatahku diambil." Riri menyembunyikan senyum lega di balik bibirnya.

"Nggak, lah. Kamu harus dites hari ini. Demam kamu ada gejala sakit tenggorokan juga. Apalagi kemarin kamu ngerasa sesak, kan? Jangan kabur, ya. Hari ini aku tunggu di kantor." Sang dokter tiba-tiba terkekeh.

"Sudah siap?" Hakim muncul dari arah garasi.

Riri mengangguk, lalu mencangkol tasnya sambil merapal doa dengan sangat khusyuk, sebelum akhirnya mengunci pintu. Setelah diyakinkan panjang lebar oleh Hakim sehari sebelumnya, Riri akhirnya bersedia berangkat.

Jalanan tergolong lenggang. Rupanya orang-orang sudah mulai sadar untuk tetap berada di dalam rumah sebelum masa pandemi ini berakhir. Jarak dari rumah ke kantor sepertinya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, sementara dulu harus menghabiskan setidaknya satu jam di perjalanan.

Sepanjang jalan, wajah Riri terlihat menegang. Rapalan doa dan zikirnya tidak berhenti. Sesekali Hakim menoleh lalu mengembangkan senyum. Sebelah tangannya yang bebas meraih tangan istrinya yang gemetar.

"Dibawa santai aja, Ri. Nggak usah tegang. Apapun hasilnya nanti, itu yang terbaik buat kita. Nggak usah ngerasa terbebani. Jalani saja dengan ikhlas."

Riri mengembangkan senyum.

"Kekhawatiran kamu mengenai anggapan para tetangga seandainya kamu dinyatakan positif, itu nggak perlu dipikirkan. Setiap orang punya peluang yang sama untuk terkena, meski sudah menjaga semua protokol kesehatan dengan ketat. Tidak ada seorang pun yang mau terkena Covid, Ri. Ini hanya pergiliran takdir."

Riri mengangguk-anggukan kepala sambil merenungi perkataan Hakim.

Tidak lama berselang, ponsel Riri kembali berbunyi. Sebuah permintaan video teleconference di ponsel Riri membuat wanita itu mengendurkan sedikit otot syaraf di kepalanya.

Work From Home [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang