Apa jadinya jika sepasang suami istri yang rumah tangganya sedang kurang harmonis dipaksa harus bekerja dari rumah?
Instruksi dari masing-masing atasan mengharuskan semua karyawan Work From Home untuk mengurangi dampak penyebaran virus yang terjadi...
Olimpiade Tokyo 2020 yang semula dijadwalkan 24 Juli - 9 Agustus resmi ditunda, dan akan dijadwalkan ulang pada 23 Juli-8 Agustus 2021.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kesehatan psikis tidak kalah penting daripada kesehatan fisik. (Hakim) •••
Batuk Riri sudah meringan semenjak malam. Hakim telah memaksanya meminum obat batuk yang diresepkan dokter kantor, atas ciri-ciri batuk yang disebutkan lewat sambungan telepon.
Pukul tiga malam, Riri terbangun karena ponselnya berbunyi.
Matanya membaca nama penelepon, sambil mengumpulkan kesadaran. Wulan. Perasaan Riri mulai tidak enak.
"Ri," panggil Mbak Wulan tiba-tiba, tanpa salam. Suaranya parau.
"Kenapa, Mbak?" Riri bisa merasakan jantungnya berdentum-dentum di dalam sana.
"Suaminya Mbak Febri--" suara Wulan menghilang, berganti isak tangis.
"Kenapa?" Suara Riri mulai panik. "Suami Mbak Febri kenapa?"
Mbak Wulan masih terdengar menahan isak. Tidak lama kemudian, suara bergetarnya mulai terdengar. "Barusan suami gue dapat kabar kalau suaminya Mbak Febri anfal. Gue udah konfirmasi adiknya." Mbak Wulan menjeda sambil mengambil napas panjang. "Mas Herman, Ri. Mas Herman meninggal."
Innalillahi wa innalillahi rooji'uun.
Riri merasa sendi-sendi tubuhnya dilucuti seketika. Tanpa sadar ponselnya lolos dari genggaman.
Setelah mencerna apa yang terjadi, air mata Riri tumpah. Isaknya berubah menjadi raungan yang tertahan.
"Ada apa?" Hakim membuka pintu dan berlari dengan panik ke arah Riri. "Kamu sakit?" Hakim bahkan menyibak anak rambut yang menutupi dahi Riri untuk mengecek suhu tubuhnya.
Riri menggeleng tapi masih belum bisa menjawab. Tangisnya masih pecah.
"Aku ambilkan dulu minum." Hakim hendak berbalik, tapi tangan Riri mencegahnya.
"Mbak Febri teman kantor kamu?" tanya Hakim yang masih belum menurunkan tingkat kepanikannya.
Riri mengangguk.
"Kenapa?"
"Barusan meninggal. Anfal, setelah dinyatakan PDP." Riri kembali terguguk.
Hakim merapal kalimat istirja. "Kita doakan saja." Tangan Hakim kini naik ke atas kepala Riri. Sebuah usapan halus berusaha menenangkan tangis istrinya.
"Kita ke RS sekarang, ya? Aku nggak bisa bayangin perasaan Mbak Febri sekarang. Aku nggak bisa bayangin." Tangisnya kembali pecah.
"Kita nggak bisa ke sana, Ri." Hakim mengingatkan, suaranya terdengar prihatin. "PDP itu belum diketahui statusnya, karena hasil swab test juga belum keluar. Jadi belum diketahui almarhum positif atau negatif."