Apa jadinya jika sepasang suami istri yang rumah tangganya sedang kurang harmonis dipaksa harus bekerja dari rumah?
Instruksi dari masing-masing atasan mengharuskan semua karyawan Work From Home untuk mengurangi dampak penyebaran virus yang terjadi...
Demi mencegah penyebaran virus corona (COVID-19), sejumlah mal di Jakarta mulai tutup sementara waktu. Langkah ini juga sebagai respons terhadap Surat Edaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Nomor 155/SE/2020 tentang Penutupan Sementara Kegiatan Operasional Industri Pariwisata Dalam Upaya Kewaspadaan Terhadap Penularan Covid-19. (www.detik.com)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Belanja secara konvensional bisa dialihkan menjadi belanja online, untuk mencegah terjadinya kerumunan. (Hakim)
•••
Percakapan panas semalam berubah menjadi suasana tegang dan mencekam keesokan harinya.
Hakim tidak banyak bicara dan lebih memilih untuk menghindari kontak mata langsung. Air mukanya lebih kaku dari biasa, dengan garis bibir yang ditarik ke bawah. Gerakan tubuhnya tergesa dan terkesan kurang nyaman.
Riri sebaliknya. Perasaan lega bercampur rasa bersalah mendominasinya pagi ini. Namun, ia tidak menyesali apa yang sudah diungkapkannya semalam. Ia tidak ingin menutupinya lagi sendirian, walau harus berujung dengan situasi yang tidak nyaman, seperti saat sarapan pagi ini.
Hakim membuat teh manis saat Riri sedang menyiapkan nasi goreng di dapur, lalu beranjak dari meja makan ketika Riri datang membawakan nasi goreng dalam semangkuk wadah besar.
"Aku makan duluan," ucap Riri yang tidak mendapat jawaban. Ekor matanya menangkap pergerakan tubuh Hakim yang menuju kamar. Riri hanya bisa mendesah.
Melihat Hakim yang pembawaannya saja sudah sangar dengan raut muka datarnya, apalagi jika ditambah dengan suasana hati yang kurang baik, Riri seperti berada di dekat tungku api yang sedang menyala. Ada sensasi tubuhnya ikut terbakar, walau kobaran amarah Hakim tidak muncul ke permukaan.
Tidak seperti biasanya, pagi ini Hakim memilih untuk berlama-lama di dalam kamar hingga pukul delapan telah berlalu. Sementara itu, laptop yang rata-rata menyala lebih dari sembilan jam sehari, masih teronggok di atas meja kerja karena ditinggalkan pemiliknya. Entah apa yang dilakukan Hakim di dalam. Sampai jarum panjang melewati angka enam pun, belum ada tanda-tanda ia akan keluar dari sana.
Riri tidak mengambil pusing. Selepas merapikan meja makan dan mencuci piringnya, ia juga sempat menyapu dan mengepel rumah, kecuali kamar yang sedang Hakim tempati. Setelah mendapat telepon dari Bu Ambar, ia pun mulai terhanyut dalam pekerjaan.
Ketika matahari semakin meninggi dan Hakim belum juga menampakkan diri, Riri menjadi khawatir. Ia bertanya-tanya apakah Hakim sakit, lalu menimbang apa yang sebaiknya ia lakukan. Mengetuk dan mengecek keadaanya, atau menunggu sampai Hakim keluar sendiri?
Riri semakin gelisah, saat jam makan siang tiba. Selain bolak-balik melirik ke arah pintu kamar depan yang masih tertutup, hal lain yang sering Riri lakukan adalah menghela napas panjang-panjang.
Ragu-ragu Riri mengetuk pintu kayu jati bercat warna putih itu, untuk memberi tahu jika makan siang telah disiapkannya di atas meja makan. Namun, tidak ada jawaban. Hingga Riri beranjak setelah beberapa detik mematung dan hampir nekat menguak pintu pun, Hakim tidak kunjung bersuara.
Riri memutuskan untuk pindah dari meja makan ke teras depan, karena pikirannya semakin tidak tenang saja. Mungkin rimbunnya pohon mangga di tengah halaman 4x6 meter atau deretan pot dengan berbagai jenis tanaman dapat mengalihkan perhatian dan menyegarkan pikirannya.
Ternyata, belum satu jam berselang, Riri menyerah. Ia bangkit dari kursi teras besi dan meninggalkan laptop yang masih menyala. Riri kembali mengetuk pintu kamar Hakim.
"Kamu sakit?" Suaranya kini lebih lantang, berharap Hakim bisa mendengar. "Hakim, kamu baik-baik saja?" tanya Riri yang sudah tidak bisa menahan sabar.
Tangan Riri beralih pada handel pintu dan mendorongnya ke bawah dengan hati-hati. Ternyata tidak dikunci. Ia segera membuka pintu setelah memantapkan diri dan menyampingkan egonya.
Samar Riri bisa melihat tubuh Hakim terbaring di atas kasur, karena tirai Blackout berwarna abu tua yang masih tertutup rapat itu tidak dapat ditembus sinar matahari. Ia langsung menyingkapnya dan membuka lebar jendela, supaya udara tidak lagi terperangkap dalam ruang berukuran 4x4 meter itu.
"Kamu sakit?" Riri mendekati tempat tidur dan meletakkan punggung tangan ke atas dahi Hakim yang bergeming.
Hangat dari dahi suaminya segera menjalar ke tangan Riri. "Kamu demam."
Hakim hanya menggerakkan tangan menutupi wajah bagian atasnya, saat Riri mengecek suhu tubuh di beberapa tempat lain untuk lebih meyakinkan diri.
"Mau ke dokter?"
Hakim menggeleng. "Aku tidak apa-apa." Suaranya terdengar parau.
"Aku ambil makan, ya? Setelah itu kamu minum obat, terus istirahat lagi," pintanya, kemudian beranjak ke dapur.
Riri kembali dalam lima menit dengan sepiring nasi dan ayam bumbu kecap, lalu meletakkannya di atas nakas.
"Makan dulu," ulang Riri, ketika Hakim tidak juga beranjak.
Riri mendengkus kesal karena telah mengulangi kalimatnya beberapa kali. "Kalau kamu sakit, nanti siapa yang akan mengurus Ibu, Sari, dan Naura?" tanyanya sarkasme. Riri gemas melihat tingkah Hakim yang tidak kooperatif. "Terserah kamu mau makan atau tidak. Aku udah ingetin kamu," ketusnya seraya meninggalkan kamar dengan langkah kesal.
Tidak lama berselang, Riri mendengar langkah kaki Hakim memasuki kamar mandi. Meski setelahnya Hakim kembali lagi ke kamar.
Pikiran Riri jadi bercabang antara pekerjaan dan kondisi Hakim. Selama tinggal bersama, inilah kali pertama Riri mendapati suaminya demam sambil mengurung diri.
Riri sempat menimang apakah harus menanyakan hal ini kepada ibu mertuanya atau tidak. Beliau mungkin lebih tahu apa yang harus dilakukannya.
"Abang mungkin sedang rindu dengan almarhum ayahnya," jawab Ibu begitu Riri menceritakan kondisi Hakim yang tidak keluar kamar semenjak pagi, tanpa menjelaskan perselisihan di antara mereka. "Biarkan saja dulu Abang sendirian. Kalau sudah membaik, pasti bakalan keluar. Dulu Abang juga pernah begitu, sekali, waktu berselisih paham dengan ibu."
Penjelasan Ibu membuat Riri tenang sekaligus gelisah. Riri merasa bersalah, tapi tidak tahu harus berbuat apa untuk menebusnya.
***
Menjelang magrib, Hakim membawa keluar nampan berisi piring yang tadi dibawa Riri dan hanya memakan separuh isinya. Namun, Riri melihat Hakim sudah lebih bertenaga seperti biasa, hingga kecemasannya berangsur berkurang. Benar kata Ibu, setelah membaik, Hakim akan keluar dengan sendirinya.
Riri mendesah panjang. Ia baru teringat jika perutnya belum diisi apa-apa saat jam makan siang karena terlalu mengkhawatirkan Hakim. Kini napsu makannya sudah hilang, berganti perih yang melilit lambung.
Hakim tiba-tiba saja duduk di depan Riri yang sedang meringis, menahan perih di perutnya.
"Riri, ini pertanyaan pertama dan terakhirku." Hakim menautkan kedua tangannya di depan. "Tolong kamu pikir baik-baik sebelum menjawabnya."
Bulu kuduk Riri seketika meremang. Riri belum bisa menebak ke mana arah pertanyaan Hakim dan hanya bisa menahan napas.
"Apa kamu masih menginginkan aku sebagai suami kamu?"
Hakim tidak main-main. Sorot matanya yang tajam membuat Riri tidak bisa memalingkan wajah. Perlahan Riri merasa tubuhnya bergetar dan kabut gelap seketika menguasai pandangannya.