"Hanya ini?"
Robinson stuart. Seorang pria 23 tahun yang mengambil s3 nya hanya untuk alasan memantau musuh nya di universitas itu. Tetapi dia tidak akan mengira bulan terakhirnya harus di buat penasaran oleh seorang gadis yang menutup dirinya dengan kain besar di seluruh tubuh nya kecuali muka dan tangannya.
Seorang ketua geng black die merasa penasaran karena gadis itu. Dia mengikuti kemana pun dia pergi bahkan hingga di rumahnya. Tapi dia tidak menyangka gadis itu berhubungan dengan james walter, seorang mantan mafia yang menjual salah satu saham pada nya melalui banyak tangan. Melihat kertas di atas tempat tidurnya. Bersandar di kepala, robin melihat semua data. Hanya data umum. Nama, lahir,tempat tinggal tidak lebih. Hubungan dengan james walter pun tidak dapat di cari. Dan dia sangat yakin dengan satu penjelasan bahwa mereka pasti keluarga. Dia pernah mendengar adik james, edward menjadi seorang mualaf. Dan dia menghilang tanpa kabar sekarang.
"Dia pasti berhubungan keluarga dengan keluarga james. Dia datang bersama kedua anak james. Dan mereka terlihat akrab dan aku melihat tiga orang yang selalu menjaga nya. Itu memastikan segalanya. Kalau aku tidak salah tebak itu pasti putri edward walter. Di tambah hanya data seperti ini. Informasi nya tertutup rapat" gumam robin yang masih di dengar oleh tommy yang menatap nya bingung.
Tommy tak pernah menyangka sahabatnya ini akan tertarik dengan wanita. Hanya wanita ini pasti harus di perjuangkan dengan darah jika robin berkuat memilikinya.
"Aku juga menduganya begitu. Apakah kau ingin memilikinya? It's not easy!" Tommy mengapitkan rokok di sela bibir hitamnya.
"I know. Yang penting aku tau siapa dia"
"Ok. Aku gak peduli. Itu urusan mu. Jaga diri mu. James akan selalu kejam soal keluarganya"
Tommy meninggalkan robin menatap gambar yang tercetak di kertas itu. Seorang gadis dengan penutup kepalanya tersenyum lembut. Membuatnya ingat senyum yang terukir di bibir pink itu di hadapannya ketika mereka saling menatap. Senyum seorang wanita yang untuk pertama kalinya membuat jantungnya bekerja cepat.
Pria yang selalu sendirian. Tanpa orang tua. Dari kecil hidup di jalanan hingga di adopsi. Dan hingga sekarang dia sendiri. Dia kembali ingat ketika wanita itu menatapnya pertama kali. Bingung,keinginan tauan, gelisah, semua rasa tergambar di sana. Bahkan saat mereka bersilang dia dapat merasakan gadis itu menahan nafasnya.
Senyum kecil tergambar di wajah dinginnya. Wanita itu menarik hatinya. Dia selalu menjauh saat berdekatan dengan perempuan. Rasa kaku, dan jijik selalu di rasakannya. Tapi untuk nya. Dia ingin memilikinya.
Siti aisyah. Kamu milik ku!
---
Robin berjalan pelan ke penjara bawah tanah di markas. Langkah menggema di sana. Udara dingin penjara menyapu dirinya. Hingga dia tiba di pintu utama. Terbuka dengan seorang pria duduk di kursi besi dengan keadaan telanjang. Kepala nya menunduk, tubuhnya penuh luka.
"Hallo!"
"Geng mu udah aku basmi tanpa sisa. Sekarang semua aset mu ada di tanganku"
"..."
"Aku tak pernah menganggu mu. Tetapi kau terlalu serakah untuk berkuasa di wilayah ku. Aku orang yang kejam. Tidak mentolerir sedikit pun kesalahan__" robin terus berbicara seperti mendongengkan seorang anak yang akan tidur.
Semua bawahannya bingung dengan segala yang keluar dari bibir ketua. Tetapi tak ada satu pun yang bisa mengeluh. Sepertinya ketua mereka dalam keadaan suasana yang baik,biasanya dia akan langsung bermain dengan mangsa dan menunggu kematian kejam sedikit demi sedikit.
"Kalian bermain lah dengan yang lain. Tinggal kan dia!"
Robin berdiri dan meninggalkan semua kebingungan anak buahnya. Tommy mengangkat sebelah alisnya memandang sahabatnya yang keluar dari ruangan siksa dengan bersih tanpa noda.
"What the hell bud! Kau bersih sekali?" Sindir tommy
"Bagaimana?" Tanya robin berlalu melewati nya.
"Gak ada yang berubah. Dia terlalu terlindungi. Aku hanya tau dari obrolan sekitar kampus. Dia dari indonesia. Seorang muslimah. Dan jurusan management bisnis. Pengambilan gelar master/s2. Selalu bersama angelina walter dan jones walter. Teman sekelas. Dan jones mengincar seorang gadis di kampus" tommy berjalan di samping robin menjelaskan dengan tenang.
Robin berlalu menuju garasi dan menaiki mobilnya. Melaju menuju sebuah rumah yang hanya bisa dia lihat dari kejauhan karena penjagaan yang ketat. Dan dia juga tau. Pengintaian nya ini pasti telah di ketahui.
---
"Shit!"
Robin terbangun dari tidur nya. Rasa perih mengalir dari telapak tangannya. Darah pun mulai mengucur dari tempat sakit. Inilah hal yang selalu membingungkan bagi nya. Dia sering terluka tanpa luka. Bahkan merasa sakit tanpa melakukan apapun.
CLEK
"Wow! You're bloody boy!" Tommy mengambil kotak p3k di atas meja belajar. Berlari pelan ke tempat tidur yang telah berhias corak merah.
"Kau main apa sampai begini?" Tommy menyerahkan kotak pengobatan.
"Hanya tidur" balas robin. Dia hanya mengambil kain kasa membersihkan tangannya perih.
Terluka, perih dan berdarah. Tommy hanya menggelengkan kepalanya. Dia sangat tau akan satu ini dari dulu selama menjadi saudara dari kecil. Kakek nya pun juga tak mengerti. Ini seperti kejadian yang tak bisa dijelaskan.
"Banyak banget darah nya. Perban aja!" Tommy berjalan keluar.
"Hm"
Robin tau hal ini sering terjadi. Dia mengalami nya pertama kali ketika berumur lima tahun. Berdarah tanpa sebab dan luka. Bahkan terkadang pingsan tanpa sebab. Tubuh dan psikis nya di periksa ketat. Tetapi hasil nya nihil. Rasa sakit yang tiba tiba tanpa sebab selalu menjadi pertanyaan dalam pikirannya.
Dia bersiap untuk masuk kampus hari ini. bulan terakhirnya menuju sidang penting. Dia harus menyelesaikan ini untuk mengendalikan kembali perusahaan kakeknya.
---
Sedikit sepi di penghujung minggu. Hanya ada beberapa kelas yang masih melakukan kegiatan belajar. Robin menunggu di gerbang kampus. Bersandar di dinding tanpa peduli yang melihatnya. Mata nya awas memandangi hal yang yang ditunggunya. Hingga seorang gadis keluar dari mobil mewah. Gadis yang menutup dirinya dengan gaun biru. Tersenyum lembut ke dalam mobil. Tiga pengawal sembunyi mengikuti nya diam diam. Bahkan mereka berani memandangnya sedangkan gadis yang di tunggu nya tidak tau.
"Sampah!"
Robin berjalan masuk melihat wanita itu seperti berbicara sendiri. Atau lebih tepatnya terhubung dengan seseorang. Walaupun jauh robin masih bisa mendengar pembicaraannya. Para pengawal nya tidak mengambil tindakan apapun melihat dia mendekat.
"Iya bunda. Aku baik baik saja kok. Iya gak apa. Hanya luka kecil. Ini udah kurang kok sakitnya. Maaf. Iya sasa gak akan ceroboh lagi__"
Robin menaikan alisnya. Dia tidak mengerti bahasa indonesia yang keluar dari bibir aisyah. Dia meneliti tubuhnya hingga ke arah telapak tangan yang di perban. Terlihat darah masih tercetak di sana. Robin tanpa sadar berjalan cepat dan menarik lengan gadis itu. Para pengawal langsung berlari untuk menyerang robin tapi di larang aisyah.
"Ada apa?" Suara lembut itu menyadarkan robin. Menggenggam lengan aisyah. Tangan yang lain menarik telapak tangannya yang di perban.
"Kau terluka?" Raut bingung dan suara serak tajam itu membuat aisyah menyadari sesuatu.
Aisyah mencoba menarik tangannya. Tetapi genggaman pria itu di lengannya mengerat. Dia menyerah.
"Bisa tolong lepaskan? Ini tidak pantas?" Aisyah memohon pelan. Tetapi robin seperti tidak peduli.
"Kau terluka?"
"Iya. Ada apa?" Aisyah sangat melihat wajah pria tinggi ini.
Mata biru. Wajah tegas. Kaca matanya. Tatapan bingung. Alis dan kening yang mengerut.
"Kapan?"
"Tadi pagi. Terpotong pisau buah" aisyah mencoba menarik kembali tangannya.
"Apakah dalam dan banyak mengeluarkan darah?" Robin melepaskan lengannya.
Memandang wajahnya sedikit pucat. Wajah tenang yang sangat lembut. Membuat debaran kencang di dalam hatinya.
"Tuan! Tolong pergi!" Salah satu pengawal aisyah memberi pembatas dengan tubuhnya. Membuat aisyah mundur dan pamit pergi.
Robin tidak melihat kepergian itu. Hanya diam memandang telapak tangannya yang masih sakit.
Ada apa ini sebenarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terhubung (Complete)
ActionAssalamualaikum! Siti aisyah, gadis muslimah lembut yang melanjutkan pendidikan master nya di salah satu universitas ternama di new york. Di kawal ketat oleh sang sepupu tampan dan cantik. Melewati hal yang tak akan terlupa. Robinson stuart, pria ya...
