Part 6

845 63 2
                                        

Setelah pertemuan tidak sengajanya dengan Dimas yang berujung saling menukar nomor ponsel, akhirnya Caramel tahu bahwa pemuda itu juga bekerja sebagai pekerja paruh waktu di Klasik kafe. Sebuah kebetulan yang luar biasa. Ah, bukan kebetulan. Tuhan pasti sudah merencanakannya, dan hal itu bukan tanpa alasan. Obrolan via chat mereka terus terjalin hingga jam sepuluh malam, hal itu juga membuat Caramel tahu bahwa Dimas duduk di kelas IPS. Entah untuk alasan apa, hal tersebut membuat senyum Caramel terus terkembang bahkan hingga pagi menjelang.

Gadis itu bersenandung sembari menguci pintu kosannya, ia berbalik dengan melenparkan kunci di depannya lalu menangkapnya lagi dengan ceria. Caramel berjalan dengan sedikit melompat-lompat.

"Lo gila?"

Teguran itu menghentikan pergerakan Caramel yang hendak memutar tubuhnya seperti gerakan penari.

"Sakit lo, ya? Kalau emang sakit mending ke dokter, ogah gue nganterin lo."

Itu Antariksa. Caramel dengan cepat menegakkan tubuhnya. Gadis itu berusaha menampilkan wajah sedatar mungkin. "Bukan urusan kamu."

Anta mendengus. "Emang bukan urusan gue. Yang jadi urusan gue adalah, nganterin orang gila kayak lo!" Caramel berdecih karenanya.

"Jadi mau nganterin atau nggak?"

"Maunya sih nggak."

"Yaudah!" Caramel sewot.

"Heh, mau kemana lo?" Anta buru-buru menyusul Caramel yang mulai berjalan menjauhinya. "Ngambekan banget jadi orang. Buruan naik!"

"Katanya nggak mau nganterin," ujar Caramel dengan nada mencibir. Anta harus sabar melihat ekspresi mencela gadis itu.

"Iya, maunya emang nggak. Tapi, kasian juga orang gila kayak lo jalan sendirian ke sekolah."

"Aku bisa naik bus tahu!"

Anta menggeleng jengah, gadis ini benar-benar tukang ngegas. "Lo santai bisa nggak? Jangan ngegas mulu, masih pagi ini."

"Ngaca ya, Anta. Ngaca!"

Anta menatapnya takjub bercampur jengkel. "Belagu ya lo karena dibelain bokap. Dengan ukuran badan lo yang mini ini, bisa aja sekali pites nyawa lo melayang. Yang sopan dikit!"

Caramel menanggapi itu dengan sengit. "Nggak ada gunanya sopan dengan orang kayak kamu!"

"Bocah ini ...." Anta kehabisan kata-kata. Akhirnya ia mendengus panjang. "Kalau nggak mau terlambat, mending cepetan masuk mobil!"

Lalu Caramel dengan songongnya masuk ke mobil itu tanpa berkomentar lebih. Hal yang tidak diketahui Anta adalah, sejak tadi Caramel menahan getaran hatinya, sedikit takut jika berhadapan langsung dengan iris kehijauan milik Anta. Caramel jadi sedikit penasaran, dari mana warna bola mata itu diperoleh, soalnya saat bertemu dengan papa Anta kemarin, Caramel melihat jelas bola mata warna biru milik Sam.

>><<

Antariksa akhirnya menghabiskan waktu dengan nongkrong santai di bengkel yang dibangun mamanya itu. Menurut pengakuan mama, begkel ini sudah dibangun sejak beliau masih SMA. Bisa bayangka betapa badungnya mama saat itu? Remaja cewek mana yang bukannya belajar, belanja, malah lebih asik di bengkel? Antariksa juga tahu mamanya itu bos preman yang terkenal, bahkan tergabung di geng motor yang sekarang diketuainya.

Ya, Antariksa adalah ketua geng Streetworld yang baru, menggantikan Sam—papanya. Benar-benar sesuatu yang luar biasa, bukan?

Antariksa dikagetkan dengan keberadaan Benua di tempat itu. "Lah, Ben? Lo nggak sekolah?"

Cowok berkaus hitam dengan rambut acak-acakan itu hanya menyeringai. "Males gue."

Bad Boy [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang