✨Ketika kau dan dia tidak berada di satu lingkup dunia yang serupa, akankah kau mengorbankan segala yang kau punya untuk melangkah di atas takdir yang bukan seharusnya?✨
Jisung mengerjapkan matanya karena cahaya silau yang menembus bola mata hitamnya. Lalu dilihatnya Emily yang tengah duduk di ujung kasurnya dengan senyum hangat yang tersulam.
"Em..., aku kenapa? Rasanya..., aku mengalami sesuatu yang aneh." Tanya Jisung sambil menggenggam tangan Emily erat. Emily hanya menunjukkan wajah bingungnya.
"Kau demam dari kemarin, Jisung-ie," Jawab Emily. "Saat kau memintaku untuk pergi ke taman belakang, suhu badanmu sudah naik. Aku langsung mengantarmu ke sini dan kau tidur setelahnya." Terang gadis ber sweater putih itu dengan senyumnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Emily's clothes today :)
Jisung mendelik heran.
"Bukannya kemarin kita ciuman di sini?" Tanya Jisung polos. Wajah Emily langsung memerah.
"K-kau kenapa, Jisung-ie? Kita tidak melakukan itu sama sekali kemarin. Jangan membuatku kaget." Sahut Emily sambil melindungi bibirnya gugup. Jisung semakin heran.
"Apa mungkin kau bermimpi? Bisa jadi, kan." Celetuk Emily. Jisung menoleh.
'Mimpi? Tapi itu semua terasa sangat nyata. Apa mungkin?' Batin Jisung. Lantas Emily merangkul bahu Jisung.
"Ada apa? Apa yang kau mimpikan? Ceritakan padaku." Tutur Emily lembut. Lalu Jisung tersenyum dan mengusap lembut tangan kecil Emily.
Kemudian Jisung menceritakan detail mimpinya pada Emily. Dan yang di dapati oleh lelaki itu hanya wajah terkejut yang amat sangat dari Emily.
"Apa? Kau bermimpi aku adalah vampir? Dan yang menggigitmu bukanlah aku melainkan vampir lain? Mimpimu aneh sekali." Desis Emily. Jisung mengangguk mantap.
"Vampir yang menggigitku itu laki-laki. Aku tidak ingat seperti apa detailnya. Tapi yang jelas ia sempat menggigit leherku. Setelah itu aku lupa apa yang terjadi." Tambah Jisung dengan wajah innocent yang dibuat-buat. Emily tersenyum kecil lalu mengusap surai cokelat lelaki itu.
"Sudahlah. Lupakan saja. Lagipula mimpimu cukup seru. Bagaimana bisa aku menjelma menjadi vampir? Yang benar saja." Celoteh Emily sambil tertawa pelan. Jisung ikut tersenyum melihatnya.
"Iya juga, ya. Mana mungkin dirimu yang lembut dan baik hati ini adalah seorang vampir ya, kan?" Ucap Jisung sambil mencium punggung tangan Emily.
"Iya."
Emily beranjak dari kasur Jisung dan mengambil nampan yang berisi alat2 dan obat Jisung.
"Aku ingin meletakkan ini dulu. Kau istirahat dulu, sunbae. Kalau kau membutuhkanku, telepon saja aku." Pamit Emily sambil mengukir senyumnya.
"Tapi aku membutuhkanmu setiap detik, Em." Seloroh Jisung sambil memasang wajah imut. Emily pun memutar matanya malas.
"Dasar. Kau dua tahun lebih tua dariku, sunbae. Jangan kekanakan." Ucap Emily lalu terkekeh kecil. Lantas Jisung mempoutkan bibirnya dan bertingkah seperti anak kecil.