Tiga belas.

940 102 6
                                    

Hujan berangsur semakin deras. Keadaan diperparah dengan genangan air yang mulai memenuhi seisi jalanan. Cuaca sedang tak menentu. Beberapa menit yang lalu cerah nan terik, namun kini malah mendung dan basah.

Rose sedang berada pada halte bus yang letaknya sedikit jauh dari tempat makan yang tadi. Dia juga nggak bisa berjalan terlalu jauh karena dia nggak punya kendaraan.

Halte itu disesaki oleh orang-orang yang berebut tempat berteduh, seolah rintikan air itu merupakan ancaman besar.

Rose berdiri di samping halte bus tanpa berpikir untuk ikut meneduhkan diri diantara desakan oang-orang di bawah atap halte yang minim. Rose menatap nanar ke sepatunya yang ikut basah kuyup.

Rose benci saat-saat seperti ini. Rose benci mengasihani dirinya sendiri.

Hari ini seharusnya Rose bersenang-senang.

Hari ini seharusnya Rose menikmati makanannya bersama Avengers.

Hari ini seharusnya Rose bakal ngumumin hubungannya sama Mingyu secara resmi di hadapan Avengers.

Rose sakit hati. Rasanya seperti ada gumpalan awan hitam menggumpal yang menyesaki dadanya. Memorinya tentang Mingyu yang marah kepadanya terus terngiang-ngiang tanpa henti.

Seolah semesta mengetahui isi hatinya, ia ikut berduka bersama Rose. Hujan membuat Rose basah tanpa terkecuali dan membantunya menyamarkan air matanya.

Rose mengepalkan tangannya erat-erat, menahan isakannya agar tidak ada satu orang pun yang tau.

Hingga ada sesuatu yang hangat memeluknya. Rose tersentak. Dia tau siapa pemilik pelukan ini lewat bau familiar yang terkesan maskulin tapi manis.

"It's okay, Rose. You will be alright. I'm here."

"..."

"Gue nggak suka liat perempuan nangis. Tapi... lo kelihatan sangat sedih." Dia meringis. "Kali ini lo boleh nangis sepuas-puasnya karena gue nggak akan biarin siapa pun tau lo bersedih."

Rose menangis sejadi-jadinya. Dia nggak lagi menahan suaranya, malah Rose melepaskan semuanya.

"It's gonna be alright."

Rose nggak tahu bahwa satu kalimat saja bisa membuatnya tenang dan merasa... aman.

Cowok itu melepaskan pelukannya setelah merasa seunggukan Rose hampir berhenti.

"Aduh-duh, ingus lo meler kemana-mana tuh."

Rose memukul dada cowok itu. "Lo yang suruh gue nangis sepuas-puasnya!"

Dia cuma ketawa.

"Lo basah kuyup."

"Jelas. Nggak ada air mana pun yang sifatnya kering."

"Ck. Lain kali bawa payung atau jas hujan kek kalau mau nolongin gue. Kita jadi kehujanan berdua kan." Cerca Rose.

"Mana gue tau lo bakal ada di tempat terbuka dan nangis di bawah hujan?"

"Ihhh, jangan diungkit-ungkit lagi." Rose cemberut.

"Dasar. Ayo gue anterin pulang. Untung gue bawa mobil."

Cowok itu menggandeng tangan Rose dan menariknya menuju mobil. Ternyata dia mencari Rose pakai mobil.

Muka Rose memerah waktu sadar tangannya digenggam (lagi).

"Nah, untung mobil gue nggak terlalu jauh."

"I-iya."

Cowok itu mengangkat sebelah alisnya waktu sadar ada semburat merah di pipi Rose. "Lo kenapa? Demam? Ah, lo nggak mungkin bakal sakit. Kita ini makhluk ajaib."

Avengers  +97lineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang