Enam belas.

1.2K 126 13
                                    

Kegelapan panjang seolah tanpa akhir yang dirasakan Eunha dihantam oleh secercah cahaya. Matanya mengerjap, berusaha memperjelas penglihatannya yang semula berbayang hanya untuk menemukan bahwa dirinya berada di dalam sebuah laboratorium penelitian.

Ketika berusaha meneleti lebih jauh, Eunha sadar dia dikurung dalam sebuah tabung yang berisi cairan entah apa itu. Untungnya Eunha masih bisa bernapas melalui selang oksigen, meski nggak bisa ngomel-ngomel bebas.

Di sekitarnya ternyata ada lebih banyak tabung berisi manusia eksperimen yang kondisinya nggak jauh berbeda dari Eunha. Mereka sama-sama terkurung dalam tabung raksasa berisi cairan.

Berusaha mengingat penyebabnya terdampar di tempat nggak lazim seperti ini, kepala Eunha jadi pusing.

"Kamu sudah bangun lebih cepat dari yang kuperkirakan."

Kamu siapa? Eunha cuma bisa ngomong dalam benaknya.

Seperti mengerti ucapan Eunha dalam hati, orang itu tersenyum. "You used to call me Dalgona back then."

Dal...gona?

"Dalgona."

Kenapa saya bisa ada di sini?

"Takdir? Saya juga nggak menyangka bisa bertemu kamu lagi."

Apa yang terjadi? Eunha menatap nanar Dalgona.

"Banyak hal terjadi." Dalgona berlalu dari hadapan Eunha lalu mengecek sesuatu dari monitor serta data-data dalam dokumen.

Kali ini tampilannya berbeda. Dalgona memakai jas putih layaknya peneliti pada umumnya, serta kacamata bertengger di sana. Dia tampak seperti pria berumur empat puluh tahun lebih dilihat dari rambut dan jenggot tipis yang memutih. Ada beberapa kerutan samar yang tercetak di sudut matanya ketika dia tersenyum.

Dalgona, saya nggak suka dikurung dalam tabung kayak gini.

Pria berjas putih itu melengos, mengabaikan Eunha meski dia tau cewek mungil itu mencoba berbicara.

Eunha terdiam, tau kalau dia diabaikan. Lama-lama di ingat sendiri kalau dia ini adalah manusia super yang punya kekuatan api dan mind reading, serta merupakan salah satu anggota Avengers.

Sayangnya Eunha hanya bia mengingat sejauh itu. Anggota Avengers aja dia nggak bisa ingat.

"Pak tua, gimana tanda vital dia?"

"Sejauh ini bagus. Nggak ada kerusakan berarti."

Eunha menatap Dalgona berbincang-bincang dengan seorang cewek yang barusan masuk. Mungkin umurnya hampir sepantaran dengan Eunha.

"Bagaimana urusanmu?" Dalgona masih berkutat pada dokumen-dokumen tanpa perlu menoleh ke cewek di belakangnya.

"Begitulah. Sebentar lagi selesai."

Dalgona nggak menjawab.

"Jangan sampai kita melakukan kesalahan lagi. Aku cukup lelah menanganinya. Kamu sudah mengacaukan sebagian rencanaku yang hampir berhasil."

"Maaf. Aku nggak siap, Rose."

"Siap nggak siap harus siap."

"Maaf."

Dari percakapan mereka, Eunha bisa tau kalau cewek itu bernama Rose. Rasanya Eunha familiar dengan nama itu, tapi enggan mengingat lebih jauh ketika kepalanya kembali berdenyut.

"Terserah. Jangan sampai gagal. Aku sudah menyiapkannya dari waktu yang lama."

"Baik."

Rose berangsur pergi, namun langkahnya tertahan kala dia tiba-tiba mengingat sesuatu. Rose menghampiri tabung milik Eunha dan menatap angkuh.

Avengers  +97lineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang