#7|| Menenangkan

48 9 0
                                        

Assalamualaikum, selamat pagi siang sore malam Readers 😍
.
Udah bosen?  Jangan dulu dong 😉
Sebelum baca bolehlah votenya dulu biar Author lebih semangat 😍

Udah?  Oke
Yuk baca
.
.
***

Rara mengerjapkan matanya dan menyesuaikan dengan lingkungannya. Rara berusaha mengingat apa yang terjadi.

“Iibuuuu.. Ibu mana Rey?” Tanya Rara dengan mata yang sulit terbuka.

Rey manatap Fandy seraya memberi kode.

“Raa.. Kamu jangan gini. Kamu pasti kuat Ra.” Fandy berusaha menenangkan Rara. Tampak wajah Fandy begitu khawatir dengan kondisi Rara.

Rara meneteskan air matanya. Begitu tampak kesedihan di wajahnya. Fandy yang melihat Rara begitu  sedih hatinya seperti ikut terluka. Rasanya ingin sekali Ia memeluk Rara.

“Berarti aku gak mimpi? ini nyata Rey? Ibu bener-bener ninggalin aku?…” Rara menangis dan memeluk Rey dan Rey hanya bisa mengelus lembut pundaknya Rara.

Fandy yang saat itu melihat Rara memeluk Rey hanya bisa diam, Ia tak tahan melihat Rara bersedih. Namun ia tak rela melihat wanita yang di cintainya memeluk laki-laki lain, meskipun itu sahabatnya sendiri.

“Ra, minum dulu ya, biar kamu tenang”. Fandy menyodorkan minum pada Rara. Namun Rey yang mengambilnya, dan membantu Rara untuk minum.

Fandy langsung berdiri dan ingin meninggalkan ruangan itu.

“Mau kemana lo Fan?” Tanya Rey sambil menepuk nepuk pundak Rara.

“Keluar”. ketus Fandy. Fandy menoleh sesat dan langsung pergi.

Hatinya kini begitu sesak, ia tak tau harus bagaimana. Fandy terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.

“Eh Om, Kak Sandi. Fandy permisi bentar ya.” Sapa Fandy saat melihat Budi dan Sandi.

“Mau kemana nak?” Tanya Budi heran.

“Fandy mau keluar bentar Om, nanti Fandy balik lagi. Oh ya, Rara udah bangun Om.”

“Alhamdulillah kalau sudah bangun, San coba kamu lihat dulu ya.” Pinta Budi pada Sandi.

“Iya pak, Sandi kedalam dulu ya Pak.” Sandi pun berlalu meninggalkan Budi, begitu pula dengan Fandy.
.

.
***  Taman

“Mi, Ibu Rara meninggal jam 11 siang tadi.”

"...."

"Ia Mi, tadi Fandy sama Rey udah kerumah Rara.”

"...."

"Baik Mi, Assalamualaikum Ummi” ternyata Fandy menelpon ibunya dan memberi kabar tentang kematian Ibu Rara.

Kini Fandy duduk di salah satu kursi taman bermain. Tampak anak kecil berlarian. Hal itu sedikit menghibur hatinya.

‘Fan, Fan… Kok jadi lemah banget gini sih. Jangan kalah sama nafsu Fan, Tenangin diri’ ucap Fandy dalam hati. Fandy menarik nafas dalam- dalam dan menghembuskannya dengan kasar.

Fandy sangat bingun, Ia berfikir sejenak.

“Apa aku nikahin aja Rara ya, tapi kalau dia nolak gimana? Ya Allah, berilah kemudahan” monolog Fandy tiba-tiba.

“Astaghfirullah, apa yang aku fikirkan, Rara baru kehilangan Ibunya. Jangan egois Fan”. Fandy berusaha terus menenangkan dirinya.

Teng Tung...
Bunyi notifikasi pesan Fandy. Ia pun segera mencek.

TAKDIR PERSAHABATAN RARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang