Assalamualaikum semuanya..
Hai, udah lama ya engga upload, mohon maaf yah, karena ada banyak kesibukan, dan karena KKN juga..
Semoga tetap suka ya sama ceritanya..
*Happy reading*
***
Rara terus bermonolog di makam Ibunya, “Ada kiriman yang sangat besar Bu, ada lima gamis dan juga jilbabnya Bu, oh ya, ada bros jilbabnya juga bu, sangat indah banget Bu. Kalau Ibu ada, pasti kita akan rebutan buat nyobain gamisnya. Bu, empat hari lagi Rara akan berangkat ke Pesantren Kilat, doain Rara ya bu”.
Setelah mereka semua selesai membersihkan makam, mereka bergegas pulang. Sandi, abangnya Rara juga menginap beberapa hari di rumah orang tuanya.
Sesampainya di rumah, suasana tampak tenang dan hening. ‘Apa Putri dan Reni sedang tidur?’ tanya Sandi dalam hati, ia pun segera masuk ke kamar untuk mencari keberadaan istri dan anaknya.
“Yah, kalau udah jadi bapak-bapak gitu ya, baru di tinggal bentar udah kangen,” ledek Rara pada abangnya itu.
“Nanti kamu tau sendiri gimana rasanya kalau udah nikah,” jawab Sandi sambil berlalu.
“Ih apaan, langsung marah,” monolog Rara dengan bibir yang ia majukan. Budi yang melihat hal itupun tertawa. “Sudah, kamu mandi dan istirahatlah,” kata Budi pada Rara. Rara pun mengiakannya dan segera masuk kedalam kamar.
.
.
***
Tidak terasa sudah hari keberangkatan Rara untuk Pesantren Kilat. Mereka berkumpul di tempat yang sudah di sepakati. Beberapa siswa dari sekolah lain pun sudah mulai kelihatan. Rara datang di antar oleh Sandi, sebenarnya Fandy sudah mengajak berangkat bareng, namun Rara tidak mau.
Sesampainya di tempat berkumpul itu, Rara tidak begitu perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sirene tanda berkumpulpun dibunyikan. seluruh siswa dan siswi yang berada di lokasi langsung mendekat semuanya.
“Baiklah anak-anak, saya yang akan memandu kalian selama dalam perjalanan. peraturan-pertauran selama di perjalanan akan di jelaskan selama dalam perjalanan. Apakah sudah berbaris sesuai dengan sekolah?” tanya Bapak itu.
“Sudah pak,” jawan semua serentak.
“Bagus, Total ada 36 siswa dari enam sekolah yang berbeda. Kita hanya memakai satu bus, dan kita akan iringan dengan bus dari kota lain. Kalian adalah orang-orang terpilih yang bisa mengikuti kegiatan ini, maka manfaatkan sebaik mungkin,” kata Bapak itu menjelaskan. “Baiklah silahkan masuk kedalam bus secara bergantian. Tempat duduk kalian sudah di atur, silahkan cari berdasarkan nama kalian,” lanjut Bapak itu memberikan arahan.
Satu persatu siswa tersebut pun masuk kedalam bus. Rara juga berjalan masuk kedalam bus, ternyata ia mendapatkan posisi duduk dibagian tengah dengan posisi sebelah kanan bus. Teman sebangkunya adalah Tini, adik kelasnya Rara yang juga Sepupu dari Boby.
Sementara itu, Fandy duduk tepat di belakang Tini, namun tidak tahu siapa yang duduk di sebelah Fandy.
“Eh Fan, kamu duduknya disini?” tanya Rara.
“Iya Ra, sebelah kamu siapa?” tanya Fandy balik, ia sedikit memperhatikan wanita itu. ‘Kaya pernah lihat’ ucap Fandy dalam hati.
“Hai Kak Fandy, aku Tini, kelas sepuluh dua, dan kita satu sekolah,” ucap gadis itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya, namun Fandy tidak menggubrisnya sedikitpun.
“Barang-barang kamu udah masuk semua kan Ra?” tanya Fandy kepada Rara. Fandy berfokus hanya ke arah Rara tanpa menoleh ke arah Tini sedikit pun.
‘Apaan sih, masa gue di kacangin, sama cewek norak kek gini lagi,’ ucap Tini kesal dan langsung mengambil handsfrenya, ia memutar lagu kesukaannya agar merasa tidak badmood.
“Iya udah semua kok Fan, aku mau dengerin lagu juga ya, bosen banget nih, masih lama kita berangkatnya,” pinta Rara sambil mengambil ponselnya dari saku.
“Oke deh Ra, aku turun dulu ya,” kata Fandy dan kemudian berlalu turun dari bus. Saat ia keluar, ia melihat ada seorang laki-laki yang tidak asing, ia pun bergegas menghampirinya. “Lo ikutan juga nih?” tanya Fandy pada laki-laki itu.
“Eh, hai Fan, iya gue ikut acara ini. Sebenarnya sih malas, tapi di paksa ikut, hahah,” katanya tertawa. Akhirnya mereka sedikit berbincang-bincang sebelum berangkat.
.
.
Di dalam bus, saat Rara mendengarkan musik, tanpa sadar iapun tertidur dengan pulas. Anak-anak yang lainnya pun sudah masuk kedalam bus.
“Sudah masuk semuanya? Ayo coba cek teman sebangkunya masing-masing, dan cek dari persekolahnya sudah lengkap tau tidak, karena posisi duduk kalian tidak jauh dari temen satu sekolah kalian,” perintah Bapak pemandu tersebut.
Suasana dibus pun menjadi semakin ribut. Mereka melihat dan mengitung jumlah anggota masing-masing, dan dari mereka juga saling memperkenalkan diri masing-masing, karena dari enam sekolah bergabung di satu bus yang berukuran besar. Sedangkan untuk para pembina masing-masing sekolah, mereka naik mobil terpisah. Keadaan ini memberikan peluang untuk anak-anak agar lebih bebas saling mengenal.
Setelah dirasa semua sudah lengkap, Bapak pemandu pun memberikan arahan, “Sebelum kita berangkat, alangkah lebih baiknya kita berdoa agar selamat dalam perjalanan, berdoa dimulai”.
Doa untuk perjalanan “BISMILLAHI MAJREHA WA MURSAHA INNA RABBI LAGHAFURURRAHIM”.
Yang artinya adalah “Dengan nama Allah di waktu berangkat dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Doa ini adalah doa yang paling umum atau yang biasanya sering digunakan bila kita ingin berpergian, agar selalu dalam lindungan Allah, karena tiada tempat selain kepada-Nya untuk kita meminta dan memohon, apalagi dalam perlindungan.
Buspun mulai berjalan perlahan-pelahan, semua siswa mulai sibuk dengan dirinya masing-maisng, ada yang mulai tidur, saling bercerita, bahkan ada yang sudah mabuk perjalanan.
“Ah, ini dimana?” tanya Rara memperhatikan sekelilingnya, “Sungguh tempat yang sangat cantik,” monolog Rara kembali.
Tempat itu memang sangat cantik, dengan pemandangan awan biru yang benar-benar cerah, bunga-bunga yang bermekaran membuat suasana semakin cantik dan indah dipandang. Ada pohon besar didekat bunga-bunga itu. Rara pun menghampiri pohon itu, ia memilih duduk bersandar sambil menikmati indahnya pemandangan itu.
“Andai ada Azlan disini, pasti sangat nyaman sekali,” monolog Rara tanpa sadar, iapun membanyangkan wajah Azlan yang tersenyum manis padanya. Tiba-tiba Rara menggelengkan kuat kepalanya, “Apaan sih, kepana harus Azlan?, kan ada banyak laki-laki lainnya” kata Rara dengan kesal.
“Kamu merindukan ku?” kata seorang laki-laki namun tidak tahu dimana wujudnya.
Rara pun berusaha mencari-cari dari mana asal usul suara tersebut, karna ia tidak menemukan dimana orangnya, ia pun melanjutkan melihat bunga-bunga itu. Namun lagi-lagi ia mendengar suara laki-laki yang memanggil namanya.
“Ra? kamu gak denger suara aku?” tanya laki-laki itu dengan lembut.
Rara semakin bingung, ia merasa akrab dengan suara tersebut, namun ia masih tidak tahu dan tidak menenukan dimana pria tersebut.
“Siapa?” tanya Rara penasaran, ia berharap segera menemukan dimana orang tersebut, karena ia merasa bahwa tempat itu sangat luas.
Sreek.. Sreek..
Rara mendongakan kepalanya melihat ke arah asal suara itu, ia meliha ada ranting yang hendak jatuh ke arahnya, namun Rara tidak sempat menghindar.
“Arrrrrgghh” teriak Rara dengan keras, karena ia mersakan sakit pada bagian kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR PERSAHABATAN RARA
Novela JuvenilRara adalah siswa yang sangat berprestasi, hingga banyak membuat orang iri. Rara memiliki dua orang sahabat yang bernama Rey dan juga Fandy. Ia juga tidak pernah jatuh cinta pada seorang pria, hingga akhirnya ada seorang pria yang mampu meluluhkan...
