#8|| Pergi Jalan

37 4 0
                                        

Assalamualaikum 😍
Mohon maaf kemarin banyak kesibukan tidak sempat upload
.
Owh ya,  selamat menunaikan ibadah puasa 💕
Mohon maaf lahir & batin ya❤
.
.
Happy readings😉

***

Hari minggu pagi Nindi dan Rey pergi jalan-jalan, karena memang sudah lama mereka tidak pergi berdua.

Nindi dengan senang hati memegang lengan Rey, dan Rey pun tidak menolaknya. Banyak mata yang memandang ke arah mereka, dengan tatapan kagum dan ada juga yang iri.

“Rey, kita makan yuk?”

“Kamu mau makan apa?” Tanya Rey balik

“Emmm aku mau makannya tuh kita di pinggir jalan aja ya, pengen bebek goreng heheh” pinta manja Nindi pada Rey

Rey hanya menganggukan kepalanya, karna jarang Nindi nunjukin sifat aslinya.

“Makasih sayang” ucap Nindi dengan wajah gembiranya dan ia sedikit menari-nari.

Rey tersenyum melihat tingkah Nindi yang kadang seperti anak-anak.

.
.

*** Di tempat lain

“Bu, pesan dua ya” pinta laki-laki itu pada seorang pedagang di pinggir jalan.

Dua? Untuk apa dia pesan dua’ tanya Rara dalam hatinya.

“Oh ya Bu, airnya juga dua ya” sambung laki-laki itu lagi.

Ibu penjual tersebut pun mengiakan permintaannya sambil segera membungkus pesanan laki-laki itu.

“Ini pesanan nya mas” Ibu itu pun menyodorkan bungkusan yang sudah berisikan sesuai dengan pesanannya.

“Baik bu, ini uangnya makasih bu, permisi” laki-laki tersebut memberikan uang dan segera berlalu.

“Mas, ini lebih mas uangnya, kembaliannya belum mas!” teriak ibu itu. Namun mereka terus berjalan karma tidak mendengar teriakan ibu itu.

Dengan langkah yang berat mereka menyusuri tempat tersebut dan terlihat seperti sedang mencari sesuatu.

Gleeek..
Rara menelan ludahnya dengan begitu berat, di tatapnya sesuatu yang ada di depannya, matanya kini terlihat seperti berkaca-kaca.

“Kamu yakin kuat?” tanya laki-laki itu.

“Iya aku yakin, mau sampai kapan aku seperti ini” Rara terduduk dan segera menunduk

Tanpa sadar tangan laki-laki itu mengelus kepala Rara. Rara hanya diam tak menghiraukan laki-laki itu.

“Assalamualaikum Bu, ini Rara. Ibu disana gimana kabarnya? Ibu baik-baik ajakan? enak gak Bu disana? Bu Rara sangat rindu, rindu setiap kali Rara mau tidur Ibu mengelus kepala dan mencium kening Rara.” Monolog Rara sambil menyandarkan kepalanya pada sebuah batu nisan yang bertuliskan Mirna tersebut.

Cairan bening itupun langsunh meluncur membasahi pipi Rara tanpa permisi. Dengan sikap yang ditunjukan Rara membuat laki-laki itu sedikit khawatir, dengan segera ia menghapus air mata Rara dengan tangannya.

“Bu, ini seminggu setelah ibu pergi ninggalin Rara. Ibu tau tidak gimana hari-hari Rara tanpa Ibu, Rara bener-bener kesepian Bu, Rara enggak mau lagi disini Bu, Rara mau nemeni Ibu aja, Rara __” ucapan Rara terpotong karna mulutnya di tutup oleh tangan laki-laki itu.

“Kamu tuh gak boleh seperti ini Ra, kamu udah janji kan?” tanya laki-laki itu dengan tatapan mata sinis.

“Kamu gak tau kan gimana perasaan ku? kamu tuh enggak ngerti apa-apa jadi lebih baik diam” ketus Rara dengan sedikit penekanan.

TAKDIR PERSAHABATAN RARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang