#10|| Cemburu

31 3 0
                                        

Assalamualaikum..
Maaf ya enggak sempat up..
Sebagai permintaan maaf, Author langsung up 3 bab😍😍
.
.
Happy Reading
***

“Assalamualaikum neng gelis” ucap seseorang yang mengagetkan Rara.

“Hahhhh.. ngagetin aja” ucap Rara kesal.

“Jawab salam dulu woi” lanjut seseorang itu.

“Iya iyaa, Waalaikumsalam,” Rara segera berdiri.

“Mau ngapain sih, duduk gih,” seseorang itu menepuk kursi kosong di sampingnya.

“Mau buat minumlah, untuk tamu yang gak di undang,” ketus Rara dan Rara segera berlalu untuk membuatkan minuman.

Di dapur Rara sibuk dengan membuat minuman, disela itu ia berkata “Ngapain sih dia kesini”. Dengan wajah yang agak datar Rara pun berjalan kembali keruang tamu.

“Dih, jelek banget muka lo Ra,” ejeknya pada Rara

“Nih minumnya, mau ngapain sih kesini?” tanya Rara risih dan memajukan bibirnya.

“Santai dong, gue mau main aja kesini, kaya enggak pernah aja. Lo juga udah pernah jalan sama gue, hahah” jawab laki-laki itu tertawa.

“Ih, serah deh, Bapak lagi tidur. Jangan ketawak kenceng-kenceng Azlan!” pinta Rara dengan nada yang semakin kesal, karna dirasa Rara, Azlan mengganggu waktu santainya.

Akhirnya Rara dan Azlan pun berbincang-bincang ringan, tidak henti-hentinya Azlan membuat Rara kesal. Disaat yang bersamaan tiba-tiba ada mobil yang berhenti dirumah Rara. Azlan menyadari keberadaan mobil itu, namun tidak dengan Rara.

Perlahan seseorang dari mobil itu keluar, wajahnya sedikit di tekuk dan heran. “Kenapa ada motor Azlan disini?” monolog Fandy heran. Ia pun bergegas masuk kedalam.

Sebelum Fandy masuk, Azlan yang sudah tau bahwa Fandy yang datang, tiba-tiba ia menumpahkan minumannya di rok Rara.

“Gila ya, basahkan baju ku Azlan,” Ketus Rara dan tangannya segera membersihkan roknya.

“Sorry gua enggak sengaja, sini gua bantu bersihin,” kata Azlan yang mengambil tisu di sudut meja, ia pun langsung membersihkan rok Rara tanpa segan.

“Astaghfirullah Rara! kamu ngapain?” Fandy berteriak dan mempercepat langkah kakinya begitu melihat hal tersebut. Rara pun terkejut dan segera berdiri.

“A.. aku enggak ngapa-ngapain kok, kamu kenapa kesini?” tanya Rara dengan gugup, karna ia terkejut dengan kedatangan Fandy yang tiba-tiba. ‘Kenapa aku ketakukan sih, seperti di pergokin lagi selingkuh aja,’ ucap Rara dalam hati.

“Jadi hanya dia yang boleh kesini? dan sekarang aku enggak boleh?” tanya Fandy dengan menautkan alisnya. Ia memandang sinis pada Azlan, tapi Azlan hanya santai seperti tidak terjadi apa-apa.

“Bukan gitu Fan, maksud aku tu__”

“Maaf mengganggu kalian, aku pulang aja,” potong Fandy dengan kesal, ia segera berbalik dan melangkah keluar dari rumah Rara.

Rara dengan segera berlari mengikuti langkah Fandy. Karna langkahnya Fandi cepat, tanpa sadar Rara menarik tangan Fandy, hasilnya Fandy pun berhenti melangkah.

Fandy berbalik dan mengerutkan keningnya. “Lepasin Ra,” tegas Fandy yang membuat Rara sedikit takut

“Ma.. maaf Fan, aku enggak sengaja” jawab Rara dengan takut-takut. Rara pun melepaskan tangannya.

Fandy yang melihat Rara ketakutan dan matanya yang sudah berkaca-kaca, menjadi bingung dan khawatir. “Maaf Ra, aku bukan marah. Aku enggak biasa disentuh orang lain, terutama perempuan,” kata Fandy berusaha menenangkan Rara. “Dan aku pernah bilang ke kamu, jangan gampang disentuh laki-laki,” lanjut Fandy sambil membalikan badannya,

“Satu lagi, pakai jilbab lain kali. Assalamualaikum” tambahnya. Fandy pun berlalu menuju mobilnya meninggalkan Rara.

Fandy tidak fokus mengemudikan mobilnya, pikirannya bercabang-cabang tidak karuan. Ia tersadar saat hampir menabrak seseorang yang akan menyebrang, dengan segera ia memberhentikan mobilnya.

“Woi pakai mata enggak!” teriak orang tersebut.

Fandy pun keluar dari mobilnya. “Maaf saya tidak sengaja, tidak ada yang luka kan?” tanya Fandy lembut. Wanita itupun merubah tatapan galaknya menjadi wajah yang sangat imut dan menggoda.

“Gue enggak kenapa-kenapa kok, tapi gue minta kartu nama lo. Takutnya ada luka yang enggak gue tau,” pinta wanita itu sambil mendekatkan tubuhnya.

“Maaf Tan, saya masih pelajar dan belum membuat kartu nama,” jawab Fandy melangkah mundur karna merasa risih.

“Kalau gitu lo harus anter gue pulang,” pinta wanita itu sambil jarinya menyentuh pipi Fandy. Dengan merinding Fandy menghindar dan berkata, “Maaf saya buru-buru Tante”.

Fandy langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya. Ia tidak menghiraukan teriakan wanita itu lagi.

“Gilak, aku ternodai. Wanita sekarang luar biasa beraninya” monolog Fandy dengan geli. Namun ia tiba-tiba mengingat kejadian beberapa menit lalu, “Gimana bisa Azlan di rumahnya, bahkan ia sampai begitu mesranya?” tanya Fandy kesal.

“Arrghh.. Ya Allah, kuatkan hati ini. Aku enggak boleh cemburu, ayo positif saja, mungkin mereka ada urusan,” monolog Fandy menenangkan dirinya sendiri. Fandy memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia pun mematikan mesinnya dan segera turun.

.
.
***

Sementara itu dirumah Rara, Azlan memperhatikan Rara yang terdiam di depan pintu rumahnya.

“Woi, ngapain sih masih bengong, udah gak ada tuh orangnya,” teriak Azlan dari dalam rumah.

“Semua ini kan gara-gara kamu,” ketus Rara, ia pun berlalu ke kamar meninggalkan Azlan.

“Ya ampun gitu doang, Lo suka sama Fandy?” pertanyaan Azlan membuat Rara memberhentikan langkah kakinya, Rara pun dengan segera membalikan badannya.

“Dia sahabat ku, orang yang paling ngerti aku cuman dia, Rey, dan Ibuku,” jawab Rara dengan mata yang berkaca-kaca.

Azlan merasa bersalah atas apa yang ia tanyakan, padahal ia berniat bercanda, tapi di bawa serius oleh Rara.

“Eh, lo ngapa nangis? gua cuman asal tanya, habisnya lo kayak khawatir gitu,” tanya Azlan dengan bingung. ‘Ini cewek gampang banget nangisnya ya ampun’ ucap Azlan dalam hati.

“Aku jadi kangen sama Ibuku, kenapa Ibu harus ninggalin aku,” kata Rara dengan air mata yang sudah menetes. Azlan dengan segera berdiri dan memeluk Rara.

“Lo boleh nangis sepuas-puasnya, tapi enggak disini. Ikut aku,” kata Azlan dan langsung menarik tangan Rara.

“Mau kemana? aku enggak mau ikut, mending kamu pulang aja deh,” pinta Rara sambil terus menangis.

“Enggak usah bawel, ikut aja”

Karna Rara yang tidak mau ikut, terpaksa Azlan menggendong Rara naik ke atas motornya, ia pun memakaikan helm milik Rara. Sepertinya Rara masih tidak sadar atas perlakuan manis Azlan ini, karna ia masih menangis. Azlan pun melajukan motornya.

“Bisa engga berhenti nangisnya?, entar dikirain orang-orang gua nyiksa lo,” perkataan Azlan ini menyadarkan Rara dari lamunannya.

“Berhenti! ini mau kemana? kamu mau nyulik aku ya?” tanya Rara dengan panik. Azlan pun mengerutkan alisnya. ‘Gila apa aku nyulik perempuan kek dia’’ ucap Azlan dalam hati. Tanpa sadar Azlan menyimpulkan senyumnya.

“Hei! denger gak sih, aku bilang berhenti. Kamu mau bawa aku kemana?” Rara berusaha terus bertanya namun Azlan hanya menjawab, “Pegangan yang kenceng”.

“Enggak mau, turunin aku sekarang Azlan!” teriak Rara, namun Azlan semakin melajukan motornya. Rara sangat ketakutan, hingga akhirnya ia memeluk Azlan.

TAKDIR PERSAHABATAN RARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang