#6|| Kehilangan

58 8 2
                                        

Assalamualaikum, selamat pagi, siang, sore, malam 😍
.
Udah tau kira-kira siapa yang nelpon Rara?
.
Oh ya ada baiknya sediakan Air putih di dekat kalian ya 😀
.
Happy Readings 😉
.
.
***

.

“Iiiibuuuuuuuuuu….” Teriak Rara dengan terisak-isak.

“Ibu, cepat bangun bu. Ibu ini Rara bu, Ayo banguuun.” Rara berusaha menggoyangkan tangan ibunya.

“Kak, Rara! Ibu kenapa kak?” Tanya Dinu pada kakaknya sambil mencampak tas sekolahnya.

Rara hanya menangis tak memperdulikan pertanyaan adiknya tersebut.

"Ibu bangun bu, enggak lucu ibu giniin Rara bu. Ayo bangun bu cepet bu.. " Rara terus menggoyang goyang tangan ibunya.
.
.

Tampak kini orang mulai berdatangan kerumah Rara dan bendera putih pun telah terpasang di depan rumahnya.

“Ra, jangan tangisi kepergian Ibu, biarkan Ibu mu tenang. Harus Ikhlas Ra.” Budi merangkul anaknya tersebut sambil  mengelus lembut pundak Rara agar tenang.

“Pak… Ibuuuu pak, Ibu gak mau bangun pak…” Rara membenamkan wajahnya pada pundak Ayahnya tersebut.

“Hikks I.. buuu.. kee naa pa ib ib bu engga baa ngun Paaaak” lirih Rara sambil sesegukan yang membuat omongannya tidak begitu jelas.

Budi tak kuasa menahan air matanya ketika melihat putrinya menangis hingga seperti itu.

Tak lama Sandi bersama anak dan Istrinya yang saat ini  tengah hamil sampai di depan rumah itu.

Sandi berlari dengan cepat memasuki Ruangan yang sudah penuh dengan isakan tangis.

Di pandangnya baik-baik seseorang yang kini terbaring kaku itu. Tak terasa air matanya kini sudah membasahi pipinya. Bagaimana tidak?. Wanita itu ialah Ibu yang telah melahirkannya. Namun kini ia tidak lagi bernafas.

“Ibuuu!” teriaknya hingga terjatuh terduduk di lantai.

Sesaat setelah Sandi berteriak Rara menangis sejadi-jadinya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa Ibuuuuuuu”.

Sandi terkejut mendengar teriakan adiknya itu. Ia berjalan menghampiri Ibunya, ia pun memegang tangan Ibunya yang sudah dingin itu. Sandi menundukan kepalanya. Ia mencium lembut kening dan juga pipi Ibunya.

“Bu, yang tenang di sana ya,, Sandi bakal jaga Rara dan Dinu baik-baik bu” lirih Sandi sambil menahan bendungan air matanya yang hendak keluar. Ia tak mau terlihat lemah di depan adik-adiknya itu.

“Pipi, Nenek kenapa? kenapa semua orang nangis?” tanya polos Reni pada Ayahnya itu.

Reni adalah Anak dari sandi yang masih berusia dua tahun. Namun ia sudah mulai lancar berbicara.

“Nenek udah pergi ketempat yang indah sayang” Sandi mengelus lembut kepala anaknya itu.

“Reni, kemarilah nak, dengan Mimi saja ya sayang”. panggil Putri pada anaknya itu.

“Tapi Pipi nangis Mi? Tanya balik Reni karna ia masih penasaran.

“Mata Pipi kemasukan binatang sayang, jadi perih. Pipi enggak nangis kok” jawab Sandi sambil menggendong anaknya itu, dan membawanya masuk kedalam salah satu kamar di rumah itu.
.
.
*** Back Sekolah

Ra, kamu masuh di sekolah kan?  Ada ujian tidak?  Bisa pulang sekarang?'

Begitulah isi pesan yang Rara terima dari nomor ponsel Ibunya. Rara langsung izin kepada gurunya untuk menelpon.

TAKDIR PERSAHABATAN RARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang