“Jadi ini makam siapa?” tanya Rara dengan sedikit gugup.
“Bokap” jawab singkatnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, namun berusaha ia tahan.
Rara ikut berjongkok dan di sentuhnya batu nisa yang bertuliskan nama 'Hidayatullah'. “Assalamualaikum Om, semoga Om berada di tempat yang paling indah ya Om”.
Perkataan Rara sempat membuat laki-laki itu menyimpulkan senyumnya dan berkata “Lo udah selesaikan? yuk pulang sebelum siang dan rame”.
“Hah, kamu udah selesai?” tanya Rara balik karna ia rasa begitu cepat.
“Loli kepanasan, kasihan” ajak laki-laki itu sambil berjalan, Rara pun mengikuti langkahnya. Dalam pikirannya kini mengambang. ‘bukannya kita hanya pergi berdua?’ ucap hati Rara.
“Emmm pacar kamu datang?” tanya Rara karna penasaran dengan nama loli. Namun pertanyaan Rara membuat laki-laki itu tertawa dengan begitu keras, rasanya beban yang ia tahan lepas begitu saja.
“Ih apaan sih, enggak kesurupan kan?” tanya Rara dengan takut.
“Aku siapa? aku dimana? whaaaa aku mau darah gadis perawan” usil laki-laki itu dengan suara yang agak berat,dan ke usilan itu membuat panik Rara, karna memang Rara sangat takut dengan hal mistis.
Laki-laki itupun melihat wajah Rara yang langsung pucat merasa bersalah “Ra, ini aku seriusan. Maaf aku bercanda tadi seriusan dan aku tertawa karna mendengar pertanyaan lo tadi”.
Rara mengaitkan alisnya tanda ia butuh sebuah jawaban.
“Udah buruan ayok, atau lo mau tinggal di pemakaman ini?” tanya balik laki-laki itu.
Dengan segera Rara mengikuti kakinya dan naik ke motor milik laki-laki itu. Dengan gas sedang di lajukan motornya menuju sebuah rumah dimana ia menjemput Rara, rumah itu adalah rumah Rara.
“Kamu mau mampir dulu atau langsung pulang” tanya Rara kepada laki-laki itu.
“Mampir dong haha” jawabnya sambil tertawa dan mengikuti langkah Rara
“Assalamualaikum.. Pak.. Adek.. ini Rara, bukain pintu dong” sapa Rara sambil menunggu di bukain pintu
Ceklek… suara pintu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki dengan postur tubuh yang agak besar, ya itu adalah Ayahnya Rara.
“Azaln, Rara udah pulang? yuk masuk” kata Budi mempersilahkan laki-laki itu masuk.
Yap benar sekali, laki-laki itu adalah Azlan. Ia membawa Rara ke makam sesuai dengan janji yang telah di ucapkannya kepada Rara. Dengan senang hati Rara pun menerimanya.
.
.
.
***
Ke esokan harinya Rara sudah masuk kesekolah, ia sudah tidak begitu sedih, entah hal apa yang sudah membuatnya sedikit kembali menjadi Rara yang periang, namun cuek terhadap mereka yang ada maunya saja.
“Kamu udah baikan? beneran nyaman? nanti kalau butuh apa kamu panggil aku ya Ra” pertanyaan-pertanyaan tak henti itu di lontarkan dari mulut Fandy yang cerewet seperti emak-emak.
“Hmmm” Rara hanya berdehem karna malas berbicara banyak-banyak. Fandy pun hanya menatap lurus Rara, ia seperti tau kalau Rara sedang tidak mood.
“Assalamualaikum” suara seorang guru menghentikan aktivitas dan perbincangan di kelas Rara.
“Baiklah kita akan mulai pelajaran kita, buka buku kalian halaman 36, silahkan baca baik-baik dan tanyakan bila tidak paham” lanjut ibu itu dan semua siwa di kelas itu serentak menjawab “Iya bu..”.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR PERSAHABATAN RARA
Teen FictionRara adalah siswa yang sangat berprestasi, hingga banyak membuat orang iri. Rara memiliki dua orang sahabat yang bernama Rey dan juga Fandy. Ia juga tidak pernah jatuh cinta pada seorang pria, hingga akhirnya ada seorang pria yang mampu meluluhkan...
