Assalamualaikum..
Mohon maaf sebelumnya
Novel Sahabat Cinta ini saya ganti Judul & Covernya 😉
Semoga tetap suka ya..
.
.
Happy Reading
.
***
Seluruh Siswa di sekolah Rara berkumpul di lapangan, bahwan seluruh guru juga ikut berbaris. Setelah pengumunan tentang libur, seluruh murid diminta untuk saling memaafkan dan juga meminta maaf pada seluruh guru yang ada. Meskipun ini adalah sekolah umum, namun tetap menerapkan nilai-nilai agama di dalamnya.
Beberapa siswa dan guru ada yang sampai menangis, ada juga siswa yang tertawa. Suasana di sekolah itupun begitu haru. Rara memeluk Bu Dewi, ia pun menangis sejadi-jadinya. Siswa yang sudah ngantri di belakang Rara pun melewati Bu Dewi dan Rara. Hatinya kini sangat hancur, Bu Dewi adalah salah satu guru yang sangat dekat dengan Rara, dan sudah seperti orang tua bagi Rara.
“Yang kuat ya sayang, doakan Ibumu di tempatkan di antara orang-orang yang beriman,” kata Bu Dewi sambil mengelus pundak Rara. Hanya anggukan yang bisa diberikan Rara.
Setelah Beberapa menit, Bu Dewi melepaskan pelukan Rara dan membawanya untuk duduk di kursi taman. Fandy yang melihat itu segera pergi ke kantin, dan tidak lama ia menghampiri Bu Dewi dan Rara.
“Minum dulu Ra,” kata Fandy sambil menyodorkan air minum dan duduk agak berjarak dari Rara.
“Makasih, tapi aku malu. Kamu pergi aja,” pinta Rara tanpa menoleh ke arah Fandy.
“Oke, tapi aku enggak lihat apa-apa kok,” jawab Fandy sambil berlalu meninggalkan mereka.
Bu Dewi tersenyum dan menahan tawa, karna mendengar perkataan Fandy dan melihat bagaimana ekspresi khawatirnya Fandy. ‘Ah, manisnya anak-anak sekarang’ ucap Bu Dewi dalam hati.
.
.
Bel berbunyi tanda pulang sekolah, walaupun mereka tidak belajar, mereka tetap tidak boleh pulang sebelum waktunya pulang.
Rara mengerjapkan matanya, ternyata ia tertidur di ruangan UKS, saat mengobrol dengan Bu Dewi ia sangat ngantuk, dan diantar Bu Dewi ke UKS untuk beristirahat, karna memang masih ada hampir 2 jam lagi untuk pulang.
Perlahan Rara melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah. Tiba-tiba lengannya ditarik seseorang, refleks dia menjerit, namun mulutnya langsung dibungkam dengan tangan yang cukup besar.
“Hei, ini gue,” katanya.
Rara membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan laki-laki yang sedang membekapnya ini. ‘Beneran enggak waras nih cowok, nekat banget,’ kata Rara dalam hati. Rara menggigit tangan laki-laki itu.
“Awww, sakit Ra!” teriaknya
“Ngapain kamu tarik-tarik dan bekap aku? apa kamu pikir aku enggak jantungan?” ketus Rara dengan tanagn di cekak di pinggang.
“Lo cantik kalau pakai jilbab Ra,” jawabnya singkat.
“Aku enggak tanya itu Azlan, ngapain sih kamu kesini?” tanya Rara kesal.
Azlan membuang mukanya, ia ternyata tersenyum. “Kan udah gue bilang, kalau lo gak balas dalam hitungan ketiga, gue yang akan kesini,” jawabnya santai.
“Enggak lucu! aku mau pulang. Assalamualaikum,” kata Rara sambil berlalu, namun badannya serasa melayang di udara.
“Turunin aku Azlan, ini di sekolah. Aku malu,” pinta Rara sambil meronta-ronta.
Namun Azlan terus menggendong Rara dan mendudukan Rara di atas motornya. Tanpa basa basi ia langsung melajukan motornya. Setelah sampai pada suatu tempat, ia langsung memarkirkan motornya.
“Gue belum sholat Ashar,” katanya singkat. Rara hanya menaikan alisnya, ia pun ikut turun karna memang belum sholat juga.
Azlan melihat jam di tangannya, waktu menujukan pukul 16.32. Tidak berapa lama Rara pun keluar dari mesjid tersebut. Rara hanya memandang Azlan tanpa berkata apa-apa.
“Buruan, atau lo mau gue tinggal?” tanya Azlan pada Rara.
“Aku bisa pulang sendiri,” ketus Rara. Azlan yang mendengar jawaban Rara hanya menaikan alisnya. ‘Masih marah ni orang? dia sendiri yang cium gue, tapi dia yang marah’ ucap Azlan dalam hati.
.
.
***
Di tempat lain, Fandy sedang memilih beberapa gamis wanita. Berkali-kali ia mengerutkan alisnya itu, bahkan sampai menyatu.
“Sayang, kamu ini kenapa sih?” tanya Siti pada anaknya itu.
“Umma, Fandy bingung pilih yang mana,” keluh Fandy manja yang membuat Siti tersenyum.
“Buat siapa? Rara?” tanya Siti lagi.
Fandy menganggukan kepalanya tanpa berkata apapun. “Kamu suka sama Rara?” pertanyaan Siti membuat Fandy malu, dan wajahnya langsung merah seperti udang rebus. ‘Sepertinya benar tebakan ku, dia pasti menyukai Rara,’ ucap Siti dalam hati.
“Kamu boleh kok berikan tiga pasang buat Rara,” kata Siti. Fandy pun langsung tersenyum dan berkata, “Beneran boleh kan Ma? udah bilang iya, berarti enggak boleh di tarik lagi kata-katanya loh Ma”.
Sitipun tertawa melihat tingkah Putranya itu. “Kamu punya saham disini, kamu juga mengelola butik ini. Kenapa enggak boleh?” jelas Siti pada anaknya.
“Sayang Umma deh,” kata Fandy sambil memeluk Siti, dan Siti pun mengelus kepala Fandy. ‘Cepet banget kamu udah besar sayang, dan sebentar lagi kamu akan berkeluarga,’ ucap Siti dalam hati, dan air matanya pun mengalir, dengan cepat ia tangkis agar Fandy tidak tahu.
Bagi orang tua, anak mereka tetaplah anak kecil yang masih suka merengek pada mereka, walaupun anaknya sudah besar. Itulah namanya kasih sayang orang tua, tidak ada tandingannya, tidak ada batasnya.
Fandy melanjutkan memilih beberpa gamis, ia meminta kotak yang cukup besar kepada pelayannya itu.
“Maaf Tuan Muda, kenapa enggak pakai kotak dari butik saja?” tanya seorang pekerja dibutik itu.
Fandy pun tersenyum, “Aku hanya ingin dia memakainya dengan senang hati, tanpa beban dan tanpa sungkan padaku”
Siti tertawa mendengar jawaban Fandy. Dengan segera Fandy menoleh dan menjadi malu, ternyata ada Papanya juga disana.
Sepanjang Fandy memilih baju untuk Rara, ia terus digoda oleh orang tuanya. ‘Sabar Fandy, demi Rara harus tahan sama ejekan orang tua’ ucapnya dalam hati.
“Siapa sih calon mantu Papa ini?” tanya Papanya dengan tertawa, namun Fandy hanya diam tidak menggubris.
“Cantik loh pa anaknya, Fandy pasti bisa merubahnya semakin cantik,” kata Siti pada Suaminya itu.
“Itu yang Papa harapkan, tapi kalau kamu ditolak, siap-siap Papa jodohin ya,” goda Papanya itu.
“Papa... Engak lucu. Ma, tolonglah amankan Papa dulu” rengek Fandy pada Ibunya. Namun semakin membuat Wira; Papanya, terus menggoda Anak semata wayangnya ini, “Nah, gini mau nikah? masih merengek sama orang tua”.
“Kuat Fandy, punya orang tua yang begini,” monolognya menenangkan dirinya. Wira dan Siti tertawa puas melihat ekspresi anaknya itu.
‘Pasangan Suami Istri yang suka membuli anak sendiri, ya ini nih’ ucap Fandy dalam hati. Fandy tidak habis pikir kalau orang tuanya akan seperti itu, yang ia bayangkan bahwa kedunya akan mrah-marah jika ia memberikan hadiah pada seorang wanita.
.
.
***
Beberapa hari kemudian, sehari sebelum berpuasa, Rara dan seluruh keluarganya pergi Ziarah dan memberishkan Makan Almarhumah Mirna. Rara sudah semakin kuat menerima kenyataan ini, ia sudah tidak menangis sejadi-jadinya seperti biasanya.
“Assalamualaikum Bu, Ini Rara bu. Rara mau cerita ke Ibu, semalam Rara dapat kiriman paket dan kotaknya besar banget Bu. Apa Ibu tau isinya apa?”.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR PERSAHABATAN RARA
Teen FictionRara adalah siswa yang sangat berprestasi, hingga banyak membuat orang iri. Rara memiliki dua orang sahabat yang bernama Rey dan juga Fandy. Ia juga tidak pernah jatuh cinta pada seorang pria, hingga akhirnya ada seorang pria yang mampu meluluhkan...
