.
.
[Aku udah di parkiran depan lobby]
Sandhi membalas pesan yang ia terima dengan cepat, mengatakan untuk menunggu beberapa menit karena ia belum mengemas barangnya. Memastikan pekerjaannya tersimpan dengan benar, Sandhi menutup laptop dan mematikan komputer yang tadi ia gunakan bersamaan. Mengemas barangnya dengan cepat lalu bergegas meninggalkan kubikelnya.
‘Mas Sandhi sebentar!’
Sebuah suara menghentikan langkah Sandhi.
‘Nebeng dong! Tapi tungguin bentaran lagi sepuluh menit aja!’ Seru Evan, juniornya yang berseru tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.
Evan memang sering nebeng karena lokasi tower mereka yang hanya terpisah beberapa blok, namun kali ini Sandhi akan menolaknya.
‘Lo naik ojek aja Van, gua dijemput istri.’ Balas Sandhi, setelah maju beberapa langkah ke arah kubikel Evan, agar ia tak perlu mengeluarkan suara yang terlalu besar.
‘WIDIHHHHH SOMBONG BANGET ABANG INI DIJEMPUT ISTRI!!’
Sebuah cengiran lebar muncul di wajah Evan bersamaan dengan tatapan kesal dari Sandhi. Dua tahun bekerja pada tim yang sama dengan Sandhi, Evan paling tahu Sandhi yang tidak suka untuk jadi pusat perhatian di kantor.
Seketika keriuhan mengisi ruangan. Meski persaingan kerja yang begitu ketat, tim dimana Sandhi berada tetap akrab dan senang bercanda.
‘Cieee yang ga LDR lagi.’
‘Eh bini lo disini San? Ntar gue bilang ke bini gue biar ajak ajak kalo ngumpul.’
‘Anjirrr pantesan pulang cepet, ada yang nungguin di rumah ternyataa...’
‘Enak banget ya pulang kantor sekarang bisa kelonan sama bini.’
‘Ga ada akhlak ni anak, bininya dijadiin sopir.’
Begitulah keriuhan yang seketika membanjir, membuat Sandhi tak bisa berkutik selain memasang senyum lebar di wajahnya.
‘Hei udah jangan digangguin. Kalian kayak ga pernah jadi pengantin baru aja.’ Omel Bu Dewi, salah satu atasannya seraya memberi kode pada Sandhi untuk mengikutinya ke arah lift. Sandhi mengikutinya, mempercepat langkah untuk menekan tombol lift sebelum Bu Dewi.
‘Istri kamu udah lama disini?’ Tanya Bu Dewi ketika keduanya masih menatap angka digital diatas pintu lift yang masih menunjukan angka belasan.
‘Udah semingguan, Bu.’
‘Semoga betah ya dianya.’ Sandhi mengamini. ‘Trus gimana sekolahnya? Masih lanjut? Atau gimana?’
‘Bulan depan wisuda Bu, makanya bisa stay disini.’
‘Loh? Kirain masih lama. Lo jadi suami kudu peka, kalo hari hari kayak gitu kudu beliin kado buat istri, biar dianya seneng. Inget loh ya, namanya perempuan tuh suka banget dimanja.’ Celoteh Bu Dewi.
Bu Dewi, yang meski punya jabatan empat tingkat diatasnya adalah sosok ibu bagi pegawai kantornya. Akrab dengan sebutan Bude, Bu Dewi seringkali membahas hal hal detail tentang kehidupan yang sering mereka lewatkan. Beberapa orang menganggap Bude sosok yang rewel, namun bagi Sandhi itu wajar saja karena meski kadang bawel, yang dikatakan Bude tak jauh dari fakta.
Denting pintu lift yang terbuka mengingatkan Sandhi akan sesuatu. Mempersilahkan Bu Dewi untuk pulang terlebih dahulu dan sementara ia kembali ke kubikelnya. Mengambil dus dengan ukuran sedang di bawah meja yang sudah berminggu-minggu tersimpan rapi disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
severely.
Romance'.. to know you, to love you severely' - Sandhi, lelaki kantoran yang masih suka ngeband di akhir pekan, dan sedang belajar untuk memahami Anindya. '.. to learn; from you, with you' - Anindya, mahasiswi magister, yang berusaha mengikuti segala kebai...
