"Shamhat! Shamhat! Dengarkan aku!"
Ketika suara itu datang tiba-tiba, aku terlanjur menjatuhkan piring kayu yang sedang kucuci. Beruntung kayu tidak bisa pecah. Sebagai gantinya aku harus mencuci ulang noda tanah yang kini mengotorinya.
"Jangan mengejutkanku, Enkidu," cibirku kesal. Lebih mengesalkan lagi, aku diabaikan.
"Aku tadi memakan kue kacangmu setelah makan siang di Ziggurat. Lalu, aku membagikannya pada Gil dan Siduri. Mereka bilang kuemu sangat enak!"
Huh? "Dan kau memberitahu mereka jika itu buatanku?"
"Tidak, kok. Tapi mereka tadi memang bertanya."
"Jawabanmu?"
"Seorang gadis biasa yang tidak ingin identitasnya diketahui."
"Itu malah semakin mudah untuk ditebak!" Grrrhh! Dia memang sulit diajak bekerja sama dalam hal seperti ini.
"Kemudian gil tertawa. Katanya--" Enkidu mendongakkan sedikit kepalanya dan melipat dua tangannya ke depan dada sebelum kembali melanjutkan, "Kalau begitu katakan pada pelacur itu, aku akan memberinya upah tiga kali lipat dari gajinya saat ini dengan menjadikannya juru masak di Ziggurat. Ini perintah!"
Mengesalkan. Raja yang satu ini kepribadiannya buruk sekali. Baru pertama kali aku bertemu dengan orang yang sifatnya seaneh itu.
"Shamhat, bagaimana menurutmu? Padahal aku yakin aku tidak menyebutkan kata pelacur sebelumnya. Kenapa Gil menyebutnya pelacur, ya?"
Itu yang dibingungkannya?! Kutepuk jidatku, tidak bisa berkata-kata. Sialnya, aku malah teringat tentang iming-iming gaji tiga kali lipat. Aku bisa menyesal seumur hidup jika menolaknya. Ada pajak bulanan yang juga harus kutanggung. Tapi rasanya harga diriku masih terlalu tinggi.
"Gajinya tinggi, lho."
Enkidu sialan!
"Baiklah, tapi aku ingin mengajukan syarat. Aku harus diperbolehkan bekerja di rumah ini. Aku hanya akan datang ke Ziggurat untuk mengantarkan makanan," ujarku menekankan.
Aku mendapat izin. Dengan begitu aku resmi berhenti menjadi tukang cuci. Mendengar kabar itu Addaru malah membolos dari pekerjaannya. Dia datang ke rumahku untuk memastikan kabar tersebut.
"Begitulah, dia bilang ini perintah."
Addaru terkekeh kecil. "Benar-benar khas."
"Tapi aku mengajukan syarat supaya aku diberikan izin untuk bekerja di rumahku. Aku hanya datang ke Ziggurat untuk mengantar makanan."
"Eh, bukankah jika seperti ini lebih repot?"
"Tidak juga. Aku akan diberitahu jadwal masakan yang harus kubuat di hari sebelumnya. Jadi aku tidak akan kebingungan." Aku meliriknya sebentar yang asik menggoyang-goyangkan gelas minum. "Bicara soal itu, bukankah akan lebih repot jika kepala pelayan bagian kebersihan tahu kau sedang membolos?"
Gadis itu tertawa tanpa rasa bersalah sebelum membalas, "Tidak apa-apa, aku akan pergi setalah menghabiskan minumku."
~*O*~
Lantas, saat itu pun tiba. Aku harus pergi untuk mengantarkan makanan ke Ziggurat. Barangkali aku datang sedikit lebih awal. Aku tidak tahu, tidak ada jam di era ini. Aku hanya ingin sebisa mungkin untuk tidak berada dalam jarak pandang Raja dan satu alasan lain. Sulit untuk dijelaskan.
"Kak Shamhat? Kak Shamhat, kan?"
Suara itu. Kuputuskan untuk berhenti di depan anak tangga dan mencari sumber suaranya. Benar saja, seorang gadis berusia tujuh belasan tahun itu berlari kecil menghampiriku. Aku sangat mengingatnya. Namanya Syira.
"Syukurlah Kak Shamhat baik-baik saja."
Aku tersenyum untuk membalasnya. Tidak tahu harus meresponnya dengan apa. Bahkan aku tidak sanggup menatap matanya.
"Kenapa Kak Shamhat ada di Ziggurat?"
Sedikit gugup aku menjawabnya, "Raja Gilgamesh mempekerjakanku. Aku harus mengantarkan makan siang ini ke ruang makannya."
"Sungguh? Mau kubantu? Aku sedang jam istirahat."
Eh? Tentu saja aku berniat menolak bantuan itu. Namun Syira sudah mengambil alih salah satu keranjang yang kubawa. Hingga akhirnya aku membiarkannya. Sebenarnya juga aku tidak hafal ruangan-ruangan di Ziggurat. Meski begitu, aku masih merasa tidak nyaman berada di dekatnya karena insiden itu. Tidakkah seharusnya dia membenciku?
"Benarkah orang yang selalu bersama Raja itu adalah sosok Enkidu yang kau jumpai di Hutan Arash?" tanyanya memulai pembicaraan. Sepertinya dia adalah type yang benci kecanggungan.
Aku mengangguk kecil sambil bergumam mengiyakannya.
"Aku sempat salah mengira rambut Kak Shamhat berubah warna. Tapi syukurlah Enkidu sebenarnya bukan monster yang jahat. Sebenarnya, berkat Enkidu Raja Gilgamesh telah berubah. Berkatnya tirani raja sedikit demi sedikit mulai memudar. Kami sangat senang akan hal itu."
Lagi-lagi aku tidak mempunyai kalimat untuk membalasnya.
"Kak Shamhat," panggilnya. Suaranya mengecil. "Aku juga mendengar jika Kak Shamhat tinggal bersama Enkidu. Kak Shamhat tidak ingin pulang ke rumah kami?"
Kuhentikan langkahku di lorong yang cukup sepi. "Syira." Gadis itu berbalik ketika menyadariku tidak lagi berjalan. Dan aku masih tidak bisa menatap matanya. "Maaf, tapi aku tidak pantas kembali ke tempat itu. Lagipula, bertemu denganmu pun, sebenarnya aku tidak memiliki keberanian untuk menatapmu. Sudah kuduga, aku memang seharusnya mati saja di hutan itu."
Aku pun sekarang sadar. Perasaanku terhadap Enkidu tidaklah pantas. Untuk sejenak bahkan aku merasa menjadi sosok yang sama kejamnya dengan sosok tirani Raja. Setelah apa yang sudah kuperbuat, bagaimana bisa dengan lancang aku jatuh cinta pada sosok yang seharusnya membunuhku sebagai penebusan dosa?
"Itu memang benar. Tidak terbantahkan." Suara Syira bergetar. Dan ketika aku memberanikan diri untuk menatap matanya, gadis itu sudah menangis. Hatiku merasa semakin nyeri. Aku pun sudah menumpahkan air mataku tanpa kusadari.
"Maaf--" ucapanku tertelan tangis. Kata maaf saja tidak cukup untuk ini. Sebuah jiwa tidak akan pernah bisa kembali hanya dengan ucapan maaf.
"Tapi, bukan berarti kau juga harus mati untuk menebusnya!"
Syira meletakkan keranjang yang dibawanya ke lantai, sebelum akhirnya berlari dan memelukku. "Aku sangat sedih saat kakak harus mati karena melindungimu. Aku juga pernah berniat membalas kematian kakakku dengan membunuhmu!"
"Tapi, aku tidak bisa! Kami sangat menyayangimu! Aku tidak bisa! Kau adalah orang yang sangat berarti untuk kakakku. Karena itu--" Syira berhenti, mengambil napas ditengah tangis sesenggukannya. "Teruslah hidup! Apa kau ingin pengorbanan kakakku sia-sia?!"
"Syira--" Kuletakkan keranjang yang kubawa lantas kupeluk tubuhnya yang lebih mungil semakin erat. Cukup lama. Sebelum akhirnya dia melepaskanku.
Dengan kain panjang di lengan kirinya Syira mengusap air mata. "Aku juga sudah tahu, dari setiap ekspresimu. Ini sangat sulit untuk kukatakan. Aku sering menjengukmu tanpa ada yang tahu. Pergilah, Kak Shamhat. Kau jatuh cinta padanya, kan?"
Aku tertegun.
"Tidak apa-apa. Aku juga yakin kakak tidak ingin Kak Shamhat sendirian. Lagipula karenanya, tidak akan ada lagi gadis yang menderita atas perlakuan raja. Kak Shamhat sudah menebusnya dengan sesuatu yang lebih baik dari itu. Terima kasih sudah membawanya kemari." Senyum hangat yang terlukis mengiringinya. Tampak rapuh namun juga sangat menawan.
"Oh, sepertinya sudah waktunya aku kembali bekerja. Datanglah berkunjung sesekali ke rumah kami. Kami akan selalu menerimamu. Sampai jumpa lagi, Kak Shamhat!"
Syira. Aku masih tidak bisa berkata-kata. Bagaimana dia bisa mengatakan semua itu? Dengan hati seperti apa dia bisa menerimanya?
~~~TBC~~~
|•|
1039 words
|•|
Publikasi [8 Juni 2020]
Salam hangat
Asano_H~
KAMU SEDANG MEMBACA
Shamhat [Completed]
FanfictionAkan kuabadikan kisah ini dalam dengung alunan syair puisi. Tentang megahnya dunia yang ia tinggali. Tentang tirani yang paling kejam pada masanya. Tentang indahnya ikatan persabatan. Hingga kebahagiaan dan kesedihan yang tidak dapat melampaui itu...
![Shamhat [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/218144332-64-k966223.jpg)