Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan berganti dengan tahun. Waktu begitu cepat bergulir, sudah satu tahun Fatimah mengabdi disekolahnya itu. Dengan waktu satu tahun itupun banyak yang berubah.
"Kamu sudah PR matematika?" Fatimah tengah bertanya dengan seseorang.
Seseorang yang sedang menelungkupkan kepalanya ke atas meja, kemudian memiringkan kepalanya kesebelah kanan ketika Fatimah bertanya kepadanya.
"Lo tau kan Nda, gue kek gimana." Gumamnya dengan mata masih terpejam.
"Makanya berubah, Luqaf. Kamu tau kan peringkat kamu itu berapa? Peringkat ke tiga puluh dari tiga puluh empat orang!" Serunya.
Fatimah ikut tersulut emosi. Hal itu dikarenakan teman sebangkunya itu terus saja malas-malasan apabila diberikan pekerjaan rumah. Tidak pekerjaan rumah saja, ketika guru menerangkan materi pelajaran pun, anak itu memilih menjelajahi alam mimpinya, iya tidur.
Hal tersebut Fatimah tidak begitu mempermasalahkan. Namun teman sebangkunya itu kalau sedang gabut padahal guru sedang menjelaskan, anak itu selalu mengajaknya bicara. Padahal Fatimah tidak meladeninya, tapi Luqaf selalu saja mengajak bahkan menganggunya ketika fokus memperhatikan guru. Akhirnya mereka berdua sama-sama dihukum.
"Gue masih mending tiga puluh, daripada noh si Andre tiga puluh satu." Ujar Luqaf yang sudah bangun dari posisi sebelumnya.
Merasa namanya dipanggil, Andre yang duduk didepannya itu segera berbalik dan menoleh ke arah Luqaf. "Beda satu angka doang belagu." Andre mendecih.
Brakk
"Yesss, gue menang!" Seru senang seorang perempuan yang duduk disamping Andre.
Andre segera menoleh ke arah Kayla, "sialan!" Dengusnya.
Kayla tertawa puas, dia berhasil mengalahkan Andre. Ngomong-ngomong mereka sedang melakukan turnamen bermain game cacing yang sekarang sedang viral. Siapa yang dahulu mencetak skors satu juta, itu yang menjadi pemenang.
Awalnya Andre sedikit lagi meraih satu juta skors, tapi karena Luqaf menyebut namanya sekaligus menjelek-jelekannya, anak itu terpaksa mem pause game nya sementara. Alhasil, Kayla -- teman sebangkunya-- itu yang menang.
"Traktirannya gue tunggu." Peringat Kayla kepada Andre.
Andre memicingkan matanya kemudian menatap dua sejoli yang duduk dibelakangnya itu. "Kalian sih ganggu, kalahkan gue!"
Luqaf mendecak, "kalah ya kalah aja gak usah nyalahin orang lain." Kemudian dia melempar tutup pulpen ke arah Andre.
"Nggak tau gue, lo harus traktir kami bertiga!" Sahut Kayla dengan penekanan.
"Loh apa-apaan bertiga, perjanjiannya kan gue neraktir lo doang." Ucapnya sembari menoleh ke arah Kayla. Penuturan teman perempuannya itu, berhasil membuat dirinya kesal.
"Oke, Andre neraktir kita bertiga." Final Luqaf sambil menyeringaikan senyuman jahilnya.
Fatimah hanya diam mendengar perdebatan ketiga sahabatnya itu. Seketika gadis itu bernostalgia ke beberapa bulan yang lalu.
Empat bulan yang lalu, ketika satu minggu bersekolah setelah kenaikan kelasnya ke kelas 11. Fatimah dan Kayla kembali duduk berdua, karena kebetulan kelasnya tidak dirombak kembali. Mereka yang sedang berbicara random seketika terhenti ketika ibu Mega -- guru bahasa Inggris sekaligus wali kelas baru-- mereka memasuki kelas, padahal waktu itu bukan pelajaran bahasa Inggris tetapi sejarah.
Wali kelasnya itu menyampaikan bahwa tempat duduk mereka akan disusun ulang. Sontak, Fatimah dan Kayla terkejut, otomatis mereka berdua duduk terpisah padahal mereka sudah berjanji akan selalu berdua sampai kelas 12. Banyak murid yang lain mengkomplain dan bertanya-tanya mengapa mereka dipindah duduk, tapi wali kelasnya itu tetap dengan keputusannya. Banyak yang tidak suka dengan wali kelas mereka saat itu, yang berlaku sesuka hati. Mereka membandingkan dengan wali kelasnya ketika kelas 10 -- ibu Rahmi -- yang sangat jauh berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Setitik Cahaya
Fiksi Remaja"Sesuatu yang tampak baik belum tentu baik, dan sesuatu yang terlihat buruk belum tentu buruk." -Fatimah Adinda Safitri. "Aku membutuhkanmu untuk meraih cahaya itu walaupun hanya setitik, maka bantulah aku." - Luqaf Pramudya. . . Aku mengunggapkan p...
